Saturday, March 9, 2013

Sawah Sabah Mewabah



Diawali dengan serangan udara di pagi hari itu Selasa tanggal 5 Maret 2013, 8 jet tempur Angkatan Udara Malaysia yang terdiri dari 3 Hornet dan 5 Hawk membombardir kawasan “hunian” pejuang Sulu yang melakukan infilltrasi sejak  9 Februari 2013 lalu di Kampung Tanduo Lahad Datu Sabah.  Serangan itu kemudian dilanjutkan dengan pengerahan ribuan tentara darat Malaysia berikut persenjataan berat berupa kendaraan lapis baja dan artileri.  Mereka menyisir kawasan yang telah diduduki pasukan Sulu selama hampir sebulan untuk mencari dan menemukan gerilyawan terlatih veteran Moro Filipina Selatan.

Serangan emosional tentara Malaysia itu sebenarnya mewakili jalan pikiran petinggi pemerintahan dan militer di Kuala Lumpur yang merasa kalah malu karena tak mampu mendeteksi kehadiran milisi bersenjata di daratan Sabah sejak 9 Februari 2013 lalu. Langkah militer Malaysia yang overdosis itu justru melengkapi  dua “kekalahan” sebelumnya yaitu ketidakmampuan intelijen Malaysia mendeteksi kehadiran  milisi dalam jumlah ratusan dan pola runding yang berlarut dan buntu sehingga kemudian menjadi berita mendunia.  Mestinya sejak mencium adanya pergerakan milisi bersenjata di negerinya militer Malaysia  sudah harus melakukan serangan dadakan.  Sehingga tak sampai ceritanya menjadi berita dunia berminggu-minggu. Pada akhirnya opini yang berkembang di luar Malaysia memberikan kesan bahwa Sabah memang bukan milik sejati persekutuan tanah melayu.
Wilayah yang diklaim itu
Ini baru halaman pertama, kira-kira begitu, meminjam istilah Anas Urbaningrum.  Halaman berikutnya sangat diyakini bahwa perang gerilya dan sabotase akan berlangsung lama di Sabah.  Dan itu harus diselesaikan melalui jalan perundingan, bukan jalan militer.  Milisi Sulu sudah tentu mendapat aliran senjata dari saudara seperjuangannya milisi Moro Mindanao.  Senjata-senjata itu jumlahnya diprediksi bisa mempersenjatai minimal 10 batalyon milisi.  Belum lagi jika ada senjata selundupan yang disusupkan intelijen asing untuk “membantu” perjuangan Sultan Sulu mendapatkan haknya.

Malaysia yang selama ini selalu menyanyikan lagu berirama “Meng”  sekarang dipaksa harus mendengarkan lagu berirama “Di” yang gemanya sudah mendunia.  Maksudnya irama “Mengklaim” sekarang sudah diimbangi dengan syair populer “Diklaim”.  Dan tanah yang diklaim itu tak tanggung-tanggung yaitu sebuah “sawah” yang bernama Sabah yang kaya sumber daya alam mineral itu.  Tak usahlah diceritakan lagi proses historis tentang kebaikan Sultan Brunai memberikan Sabah ke Sultan Sulu karena jasa baiknya memerangi pemberontak di North Borneo itu.  Sejarah sudah mencatatnya, termasuk dimasukkannya Sabah dan Sarawak dalam pembentukan negara Malaysia tahun 1963.

Sesungguhnya menghadapi perang gerilya tidak perlu menghadirkan alutsista seperti jet tempur F18 Hornet.  Cukup diatasi dengan pesawat coin (counter insurgency) seperti Bronco atau Super Tucano.  Ketika Indonesia membeli 16 Super Tucano baru-baru ini, banyak pihak di Malaysia mentertawakan.  Nah sekarang ketika mereka berhadapan dengan gerilyawan nyata, baru terasa kebutuhan akan pesawat jenis itu.  Hornet atau Sukhoi kan untuk supremasi udara, duel udara antar negara, bukan untuk melawan gerilya.  Tetapi apa boleh buat perang di Lahad Datu telah dimulai, ada aksi pasti ada reaksi.  Sulu tidak sendirian.  Pejuang Filipina Selatan yang lain tidak akan membiarkan luka dan duka saudaranya yang menuntut hak.  Dan kita akan menyaksikan cerita dan berita berdarah itu pada halaman berikutnya.
Gerilyawan terlatih itu
Malaysia terperangkap persis di mulut “kepala anjing” pulau Kalimantan dimana Lahad Datu berada.  Umpan yang diberikan milisi Sulu di mulut itu memberikan beberapa muntahan yang kemudian menjadi serangan militer emosional yang overdosis.  Boleh jadi dalam serangan senjata berat itu militer Malaysia menyatakan diri sebagai pemenang tetapi bagi pejuang dan gerilyawan itu justru menjadi pemicu dan pembangkit adrenalin untuk melakukan balas dendam berupa sabotase atau perang gerliya.

Milisi Sulu yang didukung MNLF (pejuang Moro) sejatinya mengenal betul wilayah Sabah.  Apalagi di wilayah itu terdapat ratusan ribu warga Malaysia dari etnis Sulu.  Seperti yang dikatakan Habib Hashim Muhajab, Ketua Dewan Komando Islam MNLF, pejuang Moro ketika melakukan perlawanan terhadap pemerintah Filipina menjadikan Sabah sebagai tempat latihan militernya.  Tetapi yang lebih seram dari pernyataan Hashim adalah meski pemimpin MNLF belum secara resmi menyatakan memerintahkan pasukan untuk berlayar ke Malaysia namun ribuan milisi Moro menyatakan siap diterjunkan dalam pertempuran.

Pemerintah Filpina dihadapkan pada posisi serba salah.  Tidaklah mungkin selamanya mereka berada dalam posisi yang sama dengan pemerintah Malaysia.  Apalagi sudah jatuh korban di pihak milisi Sulu yang nota bene adalah warga Filipina. Apakah Pemerintah Filipina akan terus membiarkan warganya dibombardir tentara tetangga sebelahnya.  Tentu tidak.  Meski secara diplomasi selalu disuarakan agar milisi Sulu segera pulang kampung, tetapi bukankah lidah memang tidak bertulang.  Secara diplomasi dan hubungan bertetangga perlu disuarakan hal itu tetapi secara intelijen dan militer apalagi yang menyangkut keselamatan dan harga diri bangsa tentu Filipina tidak sepolos itu.

Indonesia sendiri berkepentingan mengawal kawasan perbatasan Sabah dimana Ambalat berada. Saat ini ada 9 KRI dan beberapa kapal kecil bersenjata termasuk pasukan Marinir melakukan patroli di perairan Sebatik dan Nunukan. TNI AD juga melipatgandakan pasukannya untuk mengantisipasi limpahan limbah konflik yang tak terduga termasuk antisipasi eksodus ribuan TKI dari Sabah.  Pemerintah sudah mengantisipasi jika terjadi kelangkaan bahan pokok di Sebatik dan Nunukan sebagai akibat konflik Sabah.  Pertarungan klaim di Sabah sudah masuk dalam wilayah adu jotos, maka kita harus siap-siap menjaga ring itu agar jangan sampai mereka keluar ring yang berarti masuk wilayah kita.  Kalau masuk wilayah kita, kita jotos juga, mengapa tidak.
********
(Jagvane / 09032013)

20 comments:

Anonymous said...

Terlihat sekali pemerintah Malaysia tidak siap menghadapi hal ini.
Kesalahan pertama dan utama adalah membiarkan ratusan orang bersenjata masuk ke Sabah, senjata makan tuan karena pemberontakan Moro lama didukung Malaysia.
Kesalahan2 selanjutnya semakin parah dan terkesan panik hingga mencari solusi mudah. Awalnya menggunakan polisi agar seperti masalah keamanan biasa, hanya perlu beberapa waktu untuk jadi 7 batalion tentara plus pesawat tempur. Itu memalukan karena sama saja mereka mengakui bahwa keterampilan perang gerilya pasukan Sulu tidak bisa diatasi oleh pasukan khusus Malaysia yang ngakunya jago perang hutan :)
Sekarang USA style. Bom dulu posisi musuh dari jauh agar setelah musuh mati bisa masuk dengan peralatan tempur lengkap untuk konsumsi pers. Kerajaan Malaysia gagal membaca potensi keamanan, gagal dalam peran urusan perdamaian Bangsa Moro yg baru saja akan dibangga-banggakan, serta disaksikan dunia gagal total dalam penanganan conter insurgency.
Simpati saya untuk mereka yang meninggal dalam kasus ini dan keluarga yang ditinggalkan. Dan Simpati saya juga pada rakyat Sabah yang dikarenakan ketidakmampuan kerajaan federal jadi harus menanggung bahaya potensi perang gerilya panjang dari pembalasan suku Moro

Anonymous said...

pak karno khan sudah biang dari dulu ..yang berhak akan sebuah negeri pasti akan mengambil haknya baik cepat maupun lambat... kira2 seperti itu yg saya faham... saya sependapat dengan tulisan saudara.. akan sangat lama menyelesaikan masalah seperti ini walaupun dengan perundingan.. hal ihwal keinginan yg mendasar adalah mengembalikan tanah sabah kepada yang ber hak...Indonesia punya segudang pegalaman berperang seperti ini dan sudah bukan hal yang asing lagi... akan tetapi saya berharap sabah menemukan solusi terbaik buat permasalahan yang ada sekarang...semoga..

harno bebek said...

senjata makan tuan jelasnya,,, kan dulu MNLF/MILF yg ngelatih ya malaisya,nah sekarang dia melawan balek ke gurunya.... biarin buat pelajaran maisya,soalnya klau ngk gitu besar kepala koar2 jaguh...nyatanya,mengahdapi penceroboh ratusan saja kelabakan?hahahahaha

sugianto harisantoso said...

Nyusup sup...kepalang tanggung penjagaan tapal batas, galang ter ajukan terus dan TNI siap menjaga perbatasan antara malaysia dg Indonesia. Slamat bertugas TNI, Bravo....

Anonymous said...

semakin banyak korban dari tentara sulu,semakn menimbulkan semanat balas dendam pada mereka.

Anonymous said...

ini perang yang lama .... lihat nanti halaman ke 3 ke 4 dst .......

Anonymous said...

inilah saatnya malaysia merasakan sakit hati karena diklaim sepihak oleh pihak lain, Tuhan memang Adil. Dunia telah melihat, bagaimana militer mereka yang "katanya" serba "Terbaik", dan dunia menertawakan atas sifat Sotoy mereka.
PS: pengalaman tak pernah bohong, instan hanya memperlihatkan kelemahan.
JAYA INDONESIA

Anonymous said...

semoga jadi pelajaran juga bagi para TNI kita ..... Jayalah Indonesiaku!!!

Anonymous said...

perang sabah membuka kedok kebusukan malaysia

Filipina sulit membuktikan peran serta sokongan Malaysia atas separatis muslim Moro di Mindanao yang berlangsung selama bertahun tahun.

Kesultanan Sulu selama ini menjaga rahasia besar terkait peran Malaysia ini dan ketika Malaysia berubah dari penyokong menjadi moderator atas MILF dan Filipina, ternyata yang paling berperan (Sulu) tidak dilibatkan.

Malaysia memberi dukungan kemudahan persenjataan untuk membantu perjuangan Muslim Mindanao melalui kedekatannya dengan rakyat Sulu. Dengan mendukung Filipina Selatan, Malaysia berharap kelak jika memang benar merdeka, mereka tidak perlu menyerahkan kembali apa yang menjadi hak warga Sulu, tanah air yang disewa oleh Inggris dan secara sepihak diserahkan ke Malaysia, Sabah.

Dukungan Malaysia ini mengingatkan kita akan Osama Bin laden yang dididik dan dibekali persenjataan oleh Amerika untuk mengusir Rusia kemudian berbalik melawan Amerika sendiri dengan Al-Qaeda yang membesar tak tertahankan ke hampir seluruh wilayah Timur Tengah dan Afrika.

Seperti yang pernah terjadi dalam kasus dukungan pada pemberontakan GAM yang mana Malaysia berdalih menampung pengungsi.

Begitupun yang terjadi dengan Thailand di wilayah Selatan (Narathiwat hingga Yala), jika suatu saat separatis wilayah itu bersedia berdamai dengan Bangkok, bisa jadi atau niscaya akan terjadi ketegangan baru di wilayah Malaysia sendiri (Ipoh dan Kelantan).

N Johari said...

tahniah jagvane.salam dari Malaysia @malonesia seperti dukungan kamu.amat sedih sekali orang yang punya pelajaran menganggap kasus seperti ini sebagai balasan pada dosa meng........

Anonymous said...

kamu tidak perlu banyak omong.
nikmati saja dan introspeksi baik2.

nggak merasa sedih dengan orang lain yang sedang mengingatkan bangsa kamu..
sedihkanlah bangsamu sendiri..

Anonymous said...

betul lah tu johari
banyak -banyak merenung saja
dan banyak2 dengar cakap orang

johari..johari..

Anonymous said...

ya saya turut prihatin. saran saya, lebih baik malaysia minta tolong britis aja yang mengambil alih perang sabah ini, saya kasihan dengan ketidak mampuan tentera kalian menghadapi tentara sulu. terimakasih.

Anonymous said...

malay....malay.....malay.......malang nasib mu

oten said...

Betul betul betul......!!! mana ipan ipin upun.....

N Johari said...

kalau kamu ingatkan bagus juga......kalau jagvane bilang di malaysia tertawakan indonesia membeli tucano mungkin segelintir....apakah kamu juga tidak tertawakan malaysia....tapi saya kagum dengan kemajuan pabrik militer indonesia....saya sentiasa mengikutin blog jagvane....leluhur saya dari sana. saya juga mengikuti terus berita turangga seta.. kamu bilang TKI di seksa..tapi bangsa mana yang menyeksa.....selagi nama manusia punya nafsu dan dibiarin menguasainya pasti terjadi yang tidak baik....saya di malaysia akui segelintir yang begitu. tapi untuk kamu mengatakan kesemuanya mungkin tidak bagi saya. kamu punya hak untuk berkata..kamu bilang malaysia caplok sabah....cuba kamu baca brunei times- brunei tidak sesekali menyerahkan kpd sulu.kamu bilang wilayah malaysia senang di bolosi-- ia emang sy akui..tapi adakah kamu tau wilayah kamu pun senang di bolosi....itu sebenarnya semangat serumpun..

wicack said...

selamat bertugas buat anggota TNI yg sekarang bertugas di perbatasab sabah dan kalimantan. tolong pejuang sulu di bantu kelancarannya untuk melakukan serangan ke Malay.... kalo pejuang sulu kehabisan amunisi tolong di bantu juga.... terima kasih.

taufiq rozi said...

duh malay malay kasihan banget . . . . . . . gimna karang da tahukan gmn rsax lw sebagian daerahmu diklaim orang lain???????? makanya jangan sok kuat loe. . . . . . . . ma TNI ja Kalah ngaku kuat

Anonymous said...

@ johari
Kamu harus paham kalau orang INDONESIA tidak suka disebut serumpun dengan Malaysia.

Indonesia dan Malaysia tidak bisa berdiri di atas prinsip keserumpunan.
Di Indonesia, suku melayu bukan mayoritas di Indonesia, kami punya banyak suku bangsa(jawa sunda bugis, batak minang banjar papua dll) dan di Indo pola pola pemikiran kesukuan hampir sirna. jadi jangan kamu pernah menganggap bangsa Indonesia adalah bangsa melayu.

kalian di malaysia juga punya pendirian yang cacat mengenai claim sebagai bangsa melayu, terutama dilihat dari sisi demografi.

melayu di malaysia hanya menduduki 50-55% saja dari keseluruhan penduduk malaysia, selbihnya diisi china, india, dayak, dll.
kalau selama ini kalian merasa sebagai bangsa melayu itu terjadi karena secara politis kaum melayu mendapatkan kekuasaan sehingga bisa kalian kontrol. tetapi ketika kekuasaan politis lepas dari tangan melayu.. saya tidak yakin malaysia akan dianggap sebagai negara melayu lagi..

Anonymous said...

Ah... Tahi basi loe banyak bacot malon minggat sana dah jelas kau ambil tanah sulu mau aja berkilah, kami warga negara indonesia tidak mau dibilang negara serumpun taiklah kau malon negara rendahan tak punya malu ambil tanah sulu