Wednesday, November 8, 2017

Sudah Kuatkah Kita ?

Berbagai jenis alutsista yang terus berdatangan di tanah air tentu sangat mengembirakan. Program MEF (Minimum Essential Force) yang sudah dimulai sejak tujuh tahun lalu memberikan banyak inventori alutsista berteknologi untuk segala matra.  Pertanyaannya adalah sudah kuatkah kita. Maka jawaban lugasnya adalah belum. Sebab kita baru dalam kondisi untuk memulihkan kondisi persenjataan TNI yang selama ini gizi alutsistanya memprihatinkan.

Berbagai jenis alutsista yang datang mulai dari Tank Leopard, Tank Marder, Panser Anoa, MLRS Astross, Artileri Caesar Nexter, Artileri KH178, KH179, Helikopter Mi35, M117, Bell 412, Kapal Cepat Rudal, Kapal Patroli Cepat, Kapal LPD, LST, Korvet, Light Fregat, PKR10514, Kapal Selam, Tank Amfibi BMP3F, Pandur II, Arisgator, MLRS Vampire, RM Grad, berbagai jenis peluru kendali, Jet Tempur F16 blok 52 Id, Golden Eagle, Super Tucano, Hercules, CN 295, Radar Militer, Helikopter Comat SAR Caracal, Helikopter Anti Kapal Selam, Drone, dan lain-lain adalah dalam rangka mencukupi gizi alutsista tentara kita yang selama ini kurang diperhatikan.
Yang baru datang, artileri M109 
Adalah sebuah “fardhu kifayah” alias kewajiban mutlak dari pemerintah untuk memperkuat pertahanan negeri kepulauan ini yang luasnya setara Eropa. Apabila fardu kifayah ini tidak dilaksanakan atau terlambat dilakukan maka menjadi dosa bersama karena warisan NKRI yang kaya dan hebat ini tidak dimarwahkan dan dimartabatkan melalui kekuatan TNI yang sepadan dengan besarnya kedaulatan teritori yang harus dijaga.

Alhamdulillah, dua sektor utama dan vital sedang dihebatkan saat ini. Infrastruktur sedang dikembangkuatkan. Jalan tol dibangun untuk menguatkan daya tahan konektivitas. Jalan-jalan di perbatasan teritori negeri dibanguntumbuhkan untuk mempermudah akses ekonomi dan pertahanan. Pelabuhan laut, Bandar Udara, Bendungan, Jembatan dibaguskan sekaligus ditambah kuantitas dan kualitasnya. Sektor pertahanan juga dikembangkuatkan untuk memastikan kewibawaan teritori NKRI.

Dalam era demokrasi saat ini suara-suara sumbang tentang penguatan infrastruktur dan pertahanan akan selalu ada. Dalam pandangan kita dua sektor ini sangat pantas untuk dinomorsatukan. Kita sudah sangat tertinggal di dua sektor ini.  Kita kejar ketertinggalan itu agar kita mampu bersaing dalam investasi dan kewibawaan kedaulatan. Membangun kekuatan ekonomi tidak bisa tidak harus menguatkan jaringan infrastruktur.  Membangun kekuatan teritori tidak bisa tidak harus menguatkan interoperability alutsista.
Yang baru diresmikan KRI 332 I Gusti Ngurah Rai
Khusus dalam mengembangkuatkan militer, catatan kita adalah lebih seringlah berkoordinasi, berkomunikasi dan berinteraksi antara sesama petinggi. Petinggi Kemhan, petinggi TNI adalah person yang diamanahi untuk menghebatkan tentara kita.  Anggaran sudah disediakan bahkan menjadi nomor satu terbanyak pada tahun 2018. Jangan sampai soal kebijakan pembelian alutsista saling menumpahkan curahan hati ke media atau saling menyalahkan satu sama lain.

Soal pembelian helikopter AW101 misalnya menjadi contoh kurangnya koordinasi dan bahkan saling melempar tanggung jawab, akhirnya terbuka korupsinya. Juga proses pengadaan 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang memakan waktu bertahun-tahun memberikan kesan kurang greget dalam bermanajemen. Anggaran sudah disediakan jauh-jauh hari namun proses pengadaannya bertele-tele. Duit sudah ada kok malah mbulet.

Ketika jaman Trikora dan Dwikora kita hanya butuh tujuh tahun untuk menghebatkan militer kita menjadi yang terkuat di bumi selatan khatulistiwa.  Padahal waktu itu kekuatan ekonomi kita tidak sehebat sekarang ini.  Menghebatkan militer pada jaman Trikora dan Dwikora tidak ada ribut-ribut soal pembelian alutsista, tidak juga terdengar adanya korupsi. Semua dilakukan demi sebuah marwah: Bangsaku hebat, ini dadaku mana dadamu.

Sekarang, kekuatan militer kita belum sehebat jaman Dwikora yang memiliki 12 kapal selam, pesawat pembom strategis, ratusan kapal perang.  Pertumbuhan ekonomi jauh lebih baik, GDP kita masuk 15 besar dunia, tingkat kesejahteraan meningkat bagus.  Tetapi manejemen pengadaan alutsista tidak sehebat jaman Dwikora yang benar-benar fokus untuk menguatkan militer kita. Karena kondisi regional waktu itu penuh dengan konflik dan konfrontasi.

Minggu-minggu mendatang akan datang lagi kapal latih layar tinggi KRI Bimasuci, kemudian kapal selam KRI Ardadedali 404, 5 jet tempur F16 blok 52, 2 Hercules, Torpedo kapal selam, Helikopter Apache, Helikopter Mi26, peluru kendali darat ke udara jarak sedang NASAMS dan lain-lain. Kontrak pengadaan Sukhoi SU35 dalam waktu dekat, juga kontrak-kontrak pengadaan yang lain seperti radar Weibel, Oerlikon Skyshield, kapal perang jenis PKR10514 tahap kedua, kapal cepat rudal.

Tahun 2018 dan seterusnya akan banyak kontrak pengadaan alutsista skala besar.  Peluang besar ada di pengadaan jet tempur F16 Viper, lanjutan pengadaan kapal selam ke 4 dan 5 Nagapasa Class, produksi Tank Pindad-FNSS Turki, Panser Amfibi, MLRS Vampire, Nassams batch 2, satelit militer, pesawat AEW&C dan lain-lain. Termasuk juga penyelesaian tahap akhir pangkalan militer segala matra di Natuna, pangkalan AL di Teluk Ratai Lampung dan  penempatan permanen 1 flight jet tempur di Kupang dan Biak.

Menghebatkan infrastruktur dan pertahanan adalah soal keberanian dan kepastian.  Bahwa dua sektor ini sangat dibutuhkan bagi sebuah negara kepulauan yang luas dan indah ini. Kita sudah tertinggal jauh di bidang ini. Kita kejar ketertinggalan ini, kita bangun infrastruktur di segala lini termasuk di kawasan perbatasan. Kita kuatkan benteng pertahanan dan sinergi keduanya, infrastruktur dan pertahanan akan memastikan bahwa kita sedang membangun harga diri, harga investasi dan harga kesejahteraan. Percayalah.
****
Jagarin Pane / 08 Nopember 2017


Thursday, October 26, 2017

Anggaran Pertahanan 2018 Terbesar



Berpacu dalam melodi, anggaran pertahanan dan infrastruktur tahun 2018 saling memacu, saling memperkuat. Benteng pertahanan diperkuat, infrastruktur juga dihebatkan. Beli Sukhoi SU35, Hercules, Helikopter Mi26, Apache, Blackhawk, CN295, Tank amfibi BT3F, MLRS Vampire, Pandur II, Arisgator, Radar Weibel, Kapal selam, PKR 10514 lanjutan Martadinata Class, KCR, KPC, LST, LPD, Nassam, Oerlikon Skyshield, Drone, Astross, ampun dah banyak betul Jendral.

APBN Final 2018
****
Jagarin Pane / 26 Oktober 2017

Saturday, October 21, 2017

Santri Tentara, Tentara Santri

Selama puluhan tahun tidak terjawab siapa sebenarnya yang membunuh Jendral Aubertin Walter Sothern Mallaby di Surabaya tanggal 30 Oktober 1945 malam hari.  Selama waktu itu pula belum terjawab mengapa begitu heroiknya rangkaian pertempuran di kota Surabaya, padahal organisasi tentara baru saja dibentuk.  Bagaimana mereka para pemuda memobilisasi kekuatan yang demikian hebatnya untuk melawan ribuan tentara Sekutu dari Brigade 49  Divisi 23 The Fighting Cock Inggris yang kenyang pengalaman tempur PD II.

Fakta sejarah yang selama ini diabu-abukan dalam buku sejarah kita akhirnya diperjelas hitam putihnya. Faktanya adalah dalam sebuah kemelut yang terjadi di Jembatan Merah Surabaya Jendral  Malllaby ditembak oleh seorang pemuda santri. Hal ini juga dipertegas oleh Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo baru-baru ini. Bahwa pertempuran Surabaya 10 Nopember 1945 sesungguhnya didominasi oleh peran para santri dan lasykar santri karena TNI sendiri baru lahir 5 Oktober 1945.
Mobil Brigjen Mallaby yang terbakar habis
Resolusi Jihad yang dikeluarkan di Surabaya dalam pertemuan para ulama se Jawa dan Madura tanggal 21-22 Oktober 1945 adalah pemicu pertempuran besar itu. Resolusi ini memberikan semangat yang luar biasa bagi para pemuda santri untuk berjuang membela tanah airnya. Aliran tentara Sekutu yang merembes di berbagai kota besar di Indonesia khususnya pulau Jawa memberikan kesan seakan proklamasi kemerdekaan Indonesia dianggap pernyataan ompong. Maka puluhan ribu pemuda santri dan lasykar Islam tampil menunjukkan kekuatannya.

Saat ini nilai kejuangan para santri dicatatkan dalam sejarah tanah air dengan menetapkan tanggal 22 Oktober setiap tahun sebagai hari santri nasional, mulai tahun 2015. Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari tanggal 22 Oktober 1845 adalah nilai emasnya. Mengapa baru sekarang ditetapkan. Jawabnya karena baru lima tahun terakhir ini kita “sadar diri”. Baru bisa merenungkan dengan jernih tanpa politisasi makna perjuangan para santri yang selama ini dianggap tidak bergaung di kancah perang kemerdekaan.

Para santri dan ulama adalah komponen hijau daun tanah air yang mampu memberikan kesejukan pada warna republik meskipun sering diganggu oleh hiruk pikuk kemarahan dan sumpah serapah dari daun-daun yang lain. Disitulah nilai tambahnya, tidak mudah terpancing meski sudah diatas ubun-ubun “serangan artilerinya”. Santri sejati dan ulama adalah perekat nilai-nilai ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah Wathoniyah meski sering menjadi obyek pelengkap penderita dari tema-tema penghasutan.

Para santri dan kader militan dari komponen hijau daun yang berkarakter nahdliyin adalah komponen terbesar yang masih bisa menjadi indikator stabilitas perjalanan eksitensi negeri ini. Jumlah ini ada puluhan juta di tanah air, karakternya menyejukkan dan tak suka ribut. Meski berkarakter low profile dan sering menjadi obyek cemoohan karena tak mampu berkonsolidasi, sekali waktu perlu melakukan show of force untuk menunjukkan kekuatan militan hijau daun “berkarakter tentara”.

Maka di puncak Gunung Lawu Tawangmangu dipertunjukkan kekuatan militan itu tanggal 14-15 Oktober 2017. Puluhan ribu kekuatan militan santri dan ulama hijau daun berkumpul dalam semangat bertanah air yang kuat, ghiroh menjaga republik, hubbul wathon minal iman.  Kader militan hijau daun sekali waktu perlu mempertunjukkan jati dirinya yang nasionalis religi karena itu adalah amanah, bahwa mencintai tanah air dan membela tanah air adalah sebagian dari iman.

Sementara itu doktrin tentara kita jelas, mati terhormat demi kejayaan NKRI.  Pemerintah saat ini sedang membaguskan kekuatan alutsista tentaranya yang juga berseragam hijau daun.  Semua dibenahi, infrastruktur berupa pangkalan militer dibangunbesarkan. Berbagai jenis alutsista canggih didatangkan untuk memperkuat benteng pertahanan republik. Ini dilakukan demi marwah teritori NKRI, demi kedaulatan NKRI, menjaga eksistensi bernegara dengan segala dinamikanya.
Puluhan ribu Santri dan Ulama berkumpul di Gn Lawu
Para santri kita sesungguhnya juga berjiwa tentara terutama jika disejajarkan bangunan nasionalismenya, semangatnya untuk mencintai tanah airnya. Sejarah santri adalah lembaran-lembaran untuk selalu mencintai Indonesia.  Resolusi jihad adalah bukti ketika proklamasi 17 Agustus 1945 dianggap tidak ada. Puluhan ribu pemuda santri dengan lasykar-lasykarnya bersama dukungan ulama melakukan pertempuran hebat di seluruh Indonesia.

Kurikulum tentara adalah kontrak mati pada NKRI, garda terdepan untuk melindungi, menjaga dan menjamin eksistensi NKRI.  Sesungguhnya karakter tentara dan karakter Santri adalah sama, mencintai tanah air, membela tanah air dan pilar-pilar didalamnya.  Tentara hijau daun dan santri hijau daun adalah dua komponen yang saling menguatkan dan menghebatkan. Yang satu dengan kekuatan alutsista, yang satu lagi dengan kekuatan doa.
 
Maka ketika tampilan menggemuruh puluhan ribu santri dan ulama Nusantara di Gunung Lawu beristighosah dan berikrar di pagi sejuk ba’da Subuh, tanpa publikasi luas, itu adalah pesona heroik hijau daun yang ingin menyampaikan pesan indah. Bukankah tanah air ini alamnya begitu ramah, bukankah ukhuwah kita begitu barokah, bukankah kebersamaan ini begitu karomah. Bukankah hijau daun itu pesona indah.

Hijau daun itu adalah tentara dan santri. Hijau daun itu adalah amanah, istiqomah, fathonah. Untuk memberikan suasana sejuk dan nyaman ber Indonesia nan indah. Ini bukan soal berpemerintahan, ini soal bernegara. Bagi kita mencintai bangsa ini tidak ada hubungannya dengan siapa yang sedang berkuasa karena bangsa ini lebih mahal nilainya dari sekedar ribut ribut soal kekuasaan dan pemerintahan.  Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2017.
*****
Jagarin Pane /19 Oktober 2017