Wednesday, April 8, 2015

Memastikan Kekuatan Yang Tersedia



Peringatan HUT TNI AU ke 69 digelar 9 April 2015 di pangkalan militer strategis Halim AFB dengan menampilkan serangkaian unjuk kerja personil dan unjuk kerja alutsista yang dimiliki pengawal dirgantara RI.  Diantaranya yang menarik adalah sajian akrobatik Jupiter Aerobatic Team (JAT) yang baru saja mengalami musibah di LIMA Langkawi Malaysia beberapa waktu lalu.

Sesungguhnya sajian dalam setiap gelar upacara militer adalah pada saat parade alutsista.  Angkatan udara memberikan kesan khusus dalam setiap gelar kekuatan alutsista karena raungan, manuver dan aerobatic jet tempur yang terbang rendah mampu menumpahkan rasa bangga akan kehebatan tontonan itu.  Nilai lainnya adalah unjuk kerja itu tidak hanya disaksikan publik di sekitar lapangan upacara tapi bisa mencapai seluruh ibukota Jakarta secara langsung.
Iswahyudi AFB, sarang jet tempur Indonesia
Indonesia sedang membangun kekuatan kedirgantaraannya dengan menambah skuadron jet tempur, skuadron angkut militer, skuadron intai strategis dan satuan-satuan radar.  Pembangunan kekuatan itu akan kelihatan cerah minimal 5 tahun mendatang.  Ini dalam kondisi normal alias tidak tergesa-gesa.  Bisa saja dalam kondisi yang “harus dilakukan” percepatan pembangunan kekuatan itu disegerakan untuk memastikan kekuatan yang tersedia dalam waktu yang lebih singkat.

Satuan-satuan radar militer yang masih tanpa pagar setidaknya ada di lima titik yaitu di Bengkulu, Morotai, Singkawang, Jayapura dan Tambolaka.  Dengan prioritas penguatan satuan radar militer saat ini maka diprediksi dalam 3 tahun ke depan tidak ada lagi blank spot satuan radar militer  di seluruh Indonesia.

Sesuai rencana maka tahun ini akan datang 19 jet tempur F16 blok52Id sebagai bagian dari pengadaan 24 unit F16 yang diperbaharui. Kedatangan 19 jet tempur ini tentu sangat membantu perkuatan TNI AU bersamaan dengan kedatangan berbagai jenis persenjataan jet tempur itu.  Dengan kedatangan 24 unit F16 itu maka kekuatan jet tempur F16 kita menjadi 34 unit dan disebar pada 2 skuadron tempur, di Pekanbaru dan Madiun.

Untuk skuadron angkut berat kita telah memesan 9 pesawat Hercules dari Australia, 3 diantaranya sudah tiba di tanah air. Sementara untuk angkut sedang kita telah membeli pesawat 9 CN295 dari Spanyol dan kembali memesan 7 unit lagi.  Dengan kedatangan 9 Hercules nanti maka TNI AU melengkapi skuadron angkut beratnya dengan 3 skuadron, masing-masing bermarkas di Halim Jakarta, Abdurrahman Saleh Malang dan Hasanuddin Makassar.
Jet Tempur Sukhoi, manuver kelas berat
Sesungguhnya gengsi kekuatan angkatan udara terletak pada kualitas dan kuantitas jet-jet tempur yang dimilikinya. Meski kita sudah memiliki 1 skuadron jet tempur Sukhoi lengkap dengan persenjataannya namun jika dilihat dari luasnya wilayah udara maka kekuatan 1 skuadron Sukhoi jelas masih kurang.  Kita masih membutuhkan tambahan skuadron jet tempur Sukhoi utamanya dari generasi yang terbaru seperti Sukhoi SU35.

Wilayah luas negeri khatulistiwa ini sesungguhnya masih kurang penjagaan yang kontinu. Jika satuan radar sudah terpenuhi bukan berarti segalanya selesai.  Satuan radar adalah mata dan telinga saja, sementara kekuatan patroli dan pemukulnya juga harus dipenuhi.  Maka penambahan skuadron jet tempur merupakan keharusan berikut sebaran patrolinya. KSAU punya kebijakan dengan menggelar kekuatan udara di wilayah perbatasan.  Maka tidak heran kita mendengar kabar jika Sukhoi sering jalan-jalan ke Biak, Merauke, Ambon dan Tarakan. Sementara F16 bermain di Natuna, Batam, Aceh dan Kupang.

Kita sangat berharap bahwa penambahan 2-3 skuadron jet tempur dapat diselesaikan dalam lima tahun ke depan sehingga dapat memastikan ketersediaan alutsista berupa satuan pemukul yang menjerakan.  Kombinasi yang diharapkan misalnya dengan memiliki minimal 2 skuadron Sukhoi dan 3 skuadron F16.  Syukur-syukur pemerintah punya hasrat yang lebih kuat dengan menampilkan kombinasi 3 skuadron Sukhoi dan 3 skuadron F16.  Ini bukan sesuatu yang muluk-muluk.  Jet tempur Sukhoi SU35 misalnya diperlukan untuk mengimbangi kekuatan negara jiran yang sebentar lagi punya jet tempur siluman F35.

Peringatan ultah sejatinya untuk melihat bangunan diri sudah sejauh mana rangkaian perjalanannya sampai di batas ini. Ultah TNI AU ke 69 tanggal 9 April 2015 adalah untuk melihat sejarah perjuangannya, kinerja yang didapat sampai saat ini dan perkuatan yang harus dibangun untuk mengantisipasi dinamika kawasan yang cepat berubah.

Angkatan Udara sebuah negara dimanapun adalah lambang kekuatan dan gengsi pertahanan bersama kekuatan Angkatan Laut. Ketika Angkatan Udara Arab Saudi membombardir kekuatan pemberontak di Yaman maka gengsi dan harkat kekuatan itu ditunjukkan dengan jelas.  Kita pun seyogyanya harus punya kekuatan angkatan udara yang kuat untuk memastikan ketersedian dan kegunaan elemen pemukul yang strategis. 

Kita tidak tahu dengan kondisi di sekitar kita yang boleh jadi berubah menjadi cuaca ekstrim. Maka perkuatan militer itu  adalah cara untuk mengantisipasi perubahan cuaca tadi. Pengiriman jet Boeing 737-400 TNI AU ke Yaman adalah bagian dari ketersediaan dan kegunaan itu. Pesawat itu dibeli dari Garuda beberapa tahun lalu dan terbukti sekarang sangat berguna untuk evakuasi warga negara kita disana.

Selamat Ulang Tahun Tentara Langit Republik Indonesia.
****
Jagarin Pane / 8 April 2015

Thursday, March 26, 2015

Antara Memilih Dan Dijodohkan



Jauh-jauh hari tentara langit kita sudah menetapkan pilihannya pada “seorang kekasih” yang bernama Sukhoi SU35, bahkan panglima tentara juga sudah memberikan jalan terhadap pilihan yang seksi itu.  Tetapi itu bukan berarti jalannya “pernikahan” akan berlangsung mulus karena ternyata banyak gadis-gadis manis yang menawarkan diri dengan segala kemolekan dan keindahan serta kecanggihan yang dimiliki.  Gripen sudah mempertontonkan kebolehannya di kota Linkoping Swedia di hadapan wartawan Indonesia minggu kedua Maret 2015. Dan saat ini Rafale sedang unjuk kebolehan di Halim AFB dan Iswahyudi AFB dihadapan petinggi TNI dan Kemhan.

Sementara F16 Viper diam-diam melakukan pendekatan kepada pengambil kebijakan Kemhan.  Ini lobby yang didukung dengan kekuatan “mendehem” dan gaya wibawa uwak Sam, tipikal negara adidaya yang tentu menginginkan produknya dibeli. Nilai plusnya kita sudah berpengalaman mengoperasikan F16 selama puluhan tahun, dan kesediaan Uwak Sam memberikan hibah berbayar 24 unit F16 blok52Id kepada Indonesia.  Viper punya kekuatan bargaining yang harus diperhitungkan.
Kogabwilhan, model pertahanan baru segala matra
Angkatan Udara Indonesia sedang berupaya memperkuat taring kedaulatan kedirgantaraannya dengan menargetkan memiliki 11 skuadron tempur dalam program MEF jilid 2 yang sedang berlangsung saat ini.  Saat ini kekuatan itu baru ada di bilangan 8 skuadron dimana 1 skuadron F5E Tiger akan memasuki pensiun.  Pengganti yang digadang-gadang adalah jet tempur kelas berat Sukhoi SU35. Pilihan serius TNI AU ini adalah dalam rangka mobilitas daya jelajah serta daya gempur yang gahar sekalian untuk mengimbangi teknologi tempur udara yang dimiliki Australia dan Singapura.

Perkuatan TNI AU adalah bagian dari kurikulum baru tentara yang disebut dengan pre emptive strike dengan menjemput musuh di garis batas teritori, tidak lagi membiarka musuh masuk baru digebuk.  Kekuatan 11 skuadron itu adalah bagian dari penyesuaian manajemen pertempuran interoperability dengan Kogabwilhan sebagai komando utama. Indonesia sedang mempersiapkan 3 Kogabwilhan, 3 armada tempur laut, 3 divisi Kostrad, 3 divisi Marinir dan 3 komando operasi angkatan udara.  Serba tiga neh karena memang based on pembagian wilayah RI, mirip-mirip pembagian tiga wilayah waktu.  Jadi 11 skuadron yang ditargetkan itu dianggap memadai dengan menempatkan 3-4 skuadron tempur di masing-masing wilayah pertahanan.

Sebenarnya jika mengacu kepada kebutuhan skuadron tempur itu maka selayaknya pergantian jet tempur F5E disesuaikan dengan keinginan TNI AU untuk memilih pilihan hatinya yaitu Sukhoi SU35.  Sementara penambahan 3 skuadron baru itu biarlah Kemhan selaku “Ortu” TNI memilihkan alias menjodohkannya dengan jet tempur lain seperti Gripen, Typhoon, Rafale dan F16 blok 60.  Artinya untuk 3 skuadron baru itu biarlah keempat jenis jet tempur ini bersaing untuk menjadi bagian dari skuadron anyar TNI AU.  Sehingga gambaran isian skuadron itu kira-kira begini :

1 Skuadron Sukhoi SU27/30
1 Skuadron Sukhoi SU35
2 Skuadron F16 blok 52Id
1 Skuadron F16 blok 60
1 Skuadron Gripen Saab
1 Skuadron Rafale
2 Skuadron Hawk 100/200
1 Skuadron T50
1 Skuadron Super Tucano

Pertanyaannnya tentu darimana duitnya ya. Jika melihat pertumbuhan anggaran pertahanan yang naik secara signifikan dari tahun ke tahun bahkan pemerintahan eksisting saat ini punya prediksi kenaikan anggaran pertahanan sampai mencapai 200 trilyun pertahun mulai tahun 2017-2018 maka kita merasa optimis semua kebutuhan alutsista segala matra yang direncanakan secara multy years akan tercapai. Alutsista angkatan udara dan laut tentu harus mengedepankan teknologi terkini karena sesungguhnya kewibawaan pertahanan negara kepulauan seperti Indonesia ada di angkatan laut dan udara.  Apalagi dengan visi sebagai poros maritim mau tak mau nilai kehandalannya terletak pada kekuatan armada tempur laut daan armada jet tempur.
Memerlukan 11 Skuadron tempur
Antara memilih dan dijodohkan semua baik demi untuk membangun nilai harkat dan kewibawaan teritori NKRI. Jadi jika TNI AU berkeinginan dengan jet tempur pilihannya, berikan saja. Diakan user, pasti tahu persis kehebatan pujaan hatinya Sukhoi SU35. Dan kemudian Kemhan bisa menjodohkan tambahan skuadron tempur baru TNI AU dengan memilih 3 diantara 4 calon pelamar itu, Typhoon, Rafale, Gripen dan Viper. 

Dengan anggaran pertahanan yang besar kita meyakini bahwa kekuatan TNI AU akan menjadi kekuatan penggentar yang disegani. Membangun kekuatan pertahanan memang butuh dana besar.  Dana alias duit yang dikucurkan itu bukanlah biaya habis pakai atau peborosan keuangan negara tetapi dia adalah bagian dari investasi jangka panjang untuk meninggikan nilai dan harga diri bangsa.  Antara memilih sendiri dan dijodohkan untuk adalah sebuah metode untuk mendapatkan alutsista yang sesuai dengan kebutuhan terkini.  Sukhoi memiliki daya gentar tinggi dan daya jelajah luar biasa sementara jet-jet tempur lain yang sedang mempromosikan diri juga bagus. Jadi kesimpulannya : dipilih, dipilih.
****
Jagarin Pane / 26 Maret 2015


Friday, March 20, 2015

Memandang Jepang Lalu Bertandang



Selama hayat dikandung badan, perjalanan berpertahanan Indonesia hampir tidak pernah melirik Jepang. Boleh dikata negeri Sakura itu tidak menjadi sebuah harapan bagus utamanya ketika negeri ini sedang bergeliat dengan perkuatan militernya.  Indonesia hanya melirik 2 negara “ras kuning” yang lain yaitu Korsel dan Cina. Dengan Korsel, kita banyak menjalin kerjasama perkuatan alutsista antara lain pengadaan 3 kapal selam Changbogo, pembelian 1 skuadron jet tempur T50, pembelian 22 panser canon Tarantula dan kerjasama teknologi pembuatan jet tempur generasi 4,5 yang dikenal dengan Project KFX/IFX.

Sementara dengan Cina berdasarkan data SIPRI 2015 Indonesia memesan ratusan peluru kendali anti kapal jenis C802 dan C705 untuk puluhan kapal perangnya, serta sangat dimungkinkan mendapatkan alutsista strategis peluru kendali SAM HQ16.  Disamping itu ada kerjasama pertahanan dalam bentuk latihan bersama antar personil antar kesatuan kedua negara dan kerjasama produksi peluru kendali anti kapal C705. Bahkan baru-baru ini Cina menawarkan bantuan milyaran dollar untuk membangun poros maritim Indonesia.

Geliat Jepang dengan membuka “konstitusi diri” yang selama ini dibatasi, untuk mengekspor teknologi persenjataannya disambut hangat negara-negara sekitarnya tak terkecuali Australia dan India.  Vietnam dan Filipina menyambut gembira kepedulian “saudara tua” itu dan sekaligus mengharapkan bantuan pertahanan menghadapi Naga Cina. Jepang juga memiliki konflik teritori dengan Cina di Laut Cina Timur dan Jepang berkomitmen menjaga stabilitas di Laut Cina Selatan dengan ikut menggelar patroli kapal permukaan dan kapal selam.  Makin seru neh.
Armada Laut Jepang, mulai bangkit bertaring
Jepang adalah sebuah harapan baru bagi perkawanan serius berlabel militer sementara di bidang lain negeri matahari terbit itu sudah membuktikan kehebatannya dalam kerjasama yang saling menguntungkan. Kesediaan Jepang untuk kerjasama pertahanan dengan RI sekaligus untuk mengimbangi ekspor senjata Korsel kepada Indonesia yang selama 4 tahun terakhir melonjak tajam.  Maka jika kerjasama pertahanan itu diteken setidaknya beberapa pesawat amfibi ShinMaywa US-2, kapal perang kelas Shikishima,Hayabusha atau Fregat dan Destroyer bisa ditampilkan mengawal perairan Indonesia.

Kecerdasan Indonesia adalah menggauli semua pihak yang saling bermusuhan terhadap persoalan Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur. Musuh bersama negara-negara di kawasan itu adalah Cina sementara kita tidak punya sengketa teritorial dengan Cina meski ada perairan ZEE Natuna yang bertindihan.  Meski begitu sebagai negara netral posisi Indonesia tetap harus mengantisipasi manakala Cina “mengamuk” lalu hantam sana hantam sini. Artinya perkawanan dengan Jepang adalah penguat daya tawar karena Jepang juga sedang bersiap diri memperkuat militernya sekalian mengekspor alutsistanya ke negara sekitarnya.

Itulah yang dibaca, dipelajari kemudian melalui kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo ke Tokyo Jepang minggu depan tanggal 22-25 Maret 2015 akan ditandatangani kerjasama pertahanan dengan Jepang bersama PM Shinzo Abe. Sekedar diketahui  Wapres Jusuf Kalla juga telah berkunjung ke Jepang tanggal 12-17 Maret 2015 yang lalu. Manuver Indonesia melalui kerjasama pertahanan ini tentu akan memberikan “nilai tambah” bagi negeri ini utamanya terhadap Cina. Sebagaimana kita ketahui setelah kunjungan ke Jepang, Presiden Indonesia akan bertolak ke Beijing Cina untuk maksud yang sama, memperkuat kerjasama pertahanan yang sudah berlaku.
Sukhoi Indonesia di Darwin, berlatih bersama
Sebuah bentuk diplomasi yang cemerlang terutama terkait waktu kunjungan, tema kunjungan di kedua negara itu, yang menyiratkan betapa bebasnya negeri ini berkawan dengan siapapun. Ini juga bagian dari strategi RI untuk mengantisipasi kondisi terburuk manakala konflik LCS pecah atau justru menjadikan Cina berhati-hati. Luasnya teritori Indonesia yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan menjadi perhitungan Cina karena Indonesia pemilik ALKI 1 yang strategis bagi jalur perdagangan Cina.  Bisa saja ketika konflik menjadi runyam dan Indonesia memilih ikut bergabung dengan kafilah pembenci Cina lalu bersama kekuatan militer Australia dan AS menutup akses ALKI 1,2,3 kemudian menghantam Cina dari Natuna dan Kalimantan. Semua skenario itu pasti sudah dianalisis Cilangkap dan Pejambon.

Yang jelas ada pacuan kekuatan militer di kawasan Asia Pasifik yang membentuk dua kutub.  Satu kutub bernama Cina sementara kutub lain adalah aliansi pembenci Cina yaitu Jepang, Korsel, Taiwan, Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunai. Dibelakangnya ada AS, Australia, Singapura. Seperti kita ketahui gelar kekuatan militer AS sudah mulai difokuskan ke Asia Pasifik. Lalu dimana posisi Indonesia saat ini.  Yang jelas sejauh ini ada dimana-mana, boleh jadi bisa menjadi mediator alias penengah konflik agar tidak menjadi perang terbuka. 

Namun jika Paman Mao tetap bersikukuh dengan klaimnya lalu menjalar ikut pula klaim Natuna, maka pilihan kita tentu ikut bertarung juga.  Pelajaran yang harus kita antisipasi adalah perebutan sumber daya energi tak terbarukan bisa membuat negara “jagoan” bertindak arogan dan main serbu saja.  Perjalanan ke Jepang itu adalah untuk mengingatkan Cina dan perjalanan ke Cina juga untuk mengajak Cina.  Siapa tahu Shinzo Abe titip pesan ke Jokowi untuk disampaikan kepada Xi Jinping dan bisa jadi Xi Jinping menyambut baik.  Namanya diplomasi, semuanya terbungkus, namanya kerjasama militer semuanya dijelasterangkan agar masing-masing pihak berhitung cermat.
****
Jagarin Pane / 20 Maret 2015