Saturday, August 22, 2015

Tidak Sekedar Buat Garasi

Berita enak tapi masih perlu dikunyah adalah ketika militer Indonesia mengabarkan bahwa mereka sudah meningkatkan status pangkalan AL di Tarakan, Pontianak dan Sorong Agustus 2015 ini menjadi pangkalan utama TNI AL. Artinya dengan status peningkatan itu maka pangkalan garis depan itu bertanggung jawab penuh terhadap keamanan dan kewibawaan teritori di wilayahnya sekaligus memperpendek rentang kendali dan kecepatan reaksi tempur.

Dengan tambahan itu berarti saat ini angkatan laut Indonesia memiliki 14 pangkalan utama TNI AL yang harus mampu memberikan dukungan logistik dan amunisi alias bekal ulang untuk berbagai kapal perang termasuk ketersediaan alutsista pertahanan pangkalan dari serangan pihak lawan. Yang jelas bukan sekedar menampung jenjang karir laksamana pertama yang menjadi komandannya. Seperti kita ketahui pangkalan utama AL harus dijaga 1 batalyon pasukan marinir berikut sejumlah alutsita anti serangan udara dan anti serangan bawah air.
2 F16 TNI AU sedang gelar patroli teritori
Membuat garasi adalah bagian dari mengelola infrastruktur agar kendaraan yang diparkir tuan rumah aman, nyaman dan terpelihara. Demikian juga dengan pembangunan infrastruktur militer dengan maksud untuk memperkuat logistik dan kecepatan reaksi militer. Bisa dibayangkan jika terjadi sebuah krisis militer di pulau Sebatik dan Ambalat jika masih harus mendatangkan kapal perang dari Makassar dan Surabaya berapa lama waktu tempuh untuk sampai di tujuan. Maka dilihat dari sisi ini tujuan peningkatan pangkalan AL itu tepat waktu.

Pertanyaannya adalah apakah sudah sepadan sebaran alutsista KRI di 14 Lantamal itu. Pangkalan utama AL Surabaya dalam pandangan kita harus mampu membagi beban persebaran alutsista matra laut.  Sangat berbahaya jika hanya menumpuk alutsista di satu titik.  Sebuah serangan udara mematikan yang tak terlacak radar dipastikan akan melumpuhkan angkatan laut Indonesia manakala Surabaya di hujani peluru kendali udara darat dan bom-bom pintar dari sebuah kekuatan yang punya senjata itu.

Pangkalan AL di Belawan, Padang, Tanjung Pinang sangat pantas diberikan korvet bukan sekedar LST.  Aliran patroli juga diperkuat dan diperbanyak di pantai barat Sumatera dan selatan Jawa karena prediksi kita dari sini lah aliran kapal perang akan bermulai ketika konflik besar di Laut Cina Selatan pecah.  Jelas kita masih kurang dalam soal kuantitas dan kualitas KRI striking force semacam korvet dan fregat.  Maka untuk mengisi alutsista di 14 pangkalan itu tentu harus diperbanyak korvet dan fregat atau bahkan destroyer, tidak sekedar memperbanyak KCR.

Pangkalan AL Tarakan misalnya, dia punya tugas berat untuk mengamankan wilayah Ambalat. Maka ketersediaan minimal 3 korvet, 2 fregat dan 4 kapal patroli  dengan dukungan 1 flight jet tempur merupakan menu wajib yang harus ada sepanjang tahun disana.  Sudah siapkah, atau masih tetap Surabaya centris atau Makassar centris yang jarak tempuhnya cukup panjang.  Pengalaman selama 8 bulan ini menunjukkan jika kita lengah atau kurangi patroli maka tetangga sebelah itu curi-curi kesempatan, berlagak gagah dan jaguh.
Pangkalan AL Surabaya, besar dan gahar
Membangunkuatkan angkatan laut dan udara membutuhkan dana besar, itulah konsekuensi kita sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.  Maka percepatan pembangunkuatkan itu multak harus ada. Kemenhan sebagai pengambil keputusan strategis tidak perlu melontarkan statemen di wilayah abu-abu tetapi jelas harus statemen merah putih. Misalnya ungkapan tidak perlu Wamenhan mestinya dengan mengedepankan argumen yang obyektif. Menjaga dan mewibawakan merah putih tentu dengan berkonsentrasi penuh terhadap pemenuhan kebutuhan asupan gizi alutsista TNI dengan program yang terang benderang.

Purnomo, Menhan sipil periode yang lalu, mampu membangkitkan semangat beralutsista dengan pernyataan-pernyataannya yang lugas, terang benderang meski kadang  tidak selalu harus pas. Misalnya pernyataan kebutuhan 10 skuadron Sukhoi alias 180 pesawat, padahal maksudnya 10 skuadron jet tempur berbagai jenis.  Atau pernyataan gegap gempitanya tentang rencana akuisisi 10 kapal selam kilo dari Rusia ternyata hanya untuk mengecoh Australia agar segera memutuskan membeli Poseidon.

Isian garasi tentu harus segera diisi.  Jangan sampai seperti Biak, ketika semua sudah tersedia apakah itu kualitas pangkalan, paskhas TNI AU, satuan Radar, markas Kosek tetapi skuadron tempur inap dan menetap yang diinginkan belum hadir sampai saat ini.  Belum ada skuadron tempur rawat inap disana.  Yang ada flight rawat jalan, sesekali berkunjung sekalian merawat jalan landasan dan kesiapan infrastruktur.

Kita menginginkan kekuatan laut yang sepadan dengan luasnya wilayah perairan.  Maka pengembangan 3 armada tempur laut, 3 divisi pasukan marinir sebagai bagian dari persebaran kekuatan angkatan laut harus disertai dengan percepatan pemenuhan kebutuhan kapal perang, kapal selam dan alutsista pendukung.  Tiga armada laut itu minimal harus diperkuat dengan 170 KRI berbagai jenis dengan teknologi terkini dan berusia tiga puluh tahun kebawah termasuk minimal 12 kapal selam.

Dengan kekuatan 170 KRI dan 12 kapal selam maka dipastikan isian garasi untuk 14 pangkalan AL terpenuhi. Sebenarnya kebutuhan 170 KRI itu sudah kita penuhi saat ini tetapi jika melihat masa pakai KRI itu lebih sepertiganya sudah berusia diatas 30 tahun. Untuk urusan kapal selam mulai akhir tahun depan kita mendapatkan 1 kapal selam baru dari Korsel.  Dan seterusnya setiap tahun kita akan mendapatkan 1 kapal selam baru apalagi jika infrastruktur pabrik kapal selam PT PAL selesai tahun depan maka produksi kapal selam minimal 1 unit per tahun terpenuhi.

Garasi demi garasi yang dibuat saat ini dimaksudkan sebagai rumah pertahanan alutsista. Kita berharap isian perabot didalamnya dapat terpenuhi dalam waktu dekat karena gelagat cuaca di kawasan ini tidak selalu baik untuk keamanan dan kenyamanan berteritori. Gengsi berteritori adalah ketika kita mampu menunjukkan kehadiran alutsista berteknologi di sempadan  sekalian untuk menunjukkan pada pihak sana bahwa kita siap berkelahi.

****

Jagarin Pane / 22 Agustus 2015

Wednesday, July 29, 2015

Mempercepat Isian Alutsista

Bagai cerita kucing dan tikus, begitu gambaran persoalan perbatasan klaim teritori Indonesia dan Malaysia di wilayah Ambalat Kalimantan Utara.  Ketika kucing mempertajam mata telinganya dengan mendatangkan 1 flight jet tempur ke Tarakan, maka si tikus bersembunyi sambil bersiasat.  Atau sekali dua kali melempar drone ke Sebatik dan Ambalat untuk menguji ketajaman radar Indonesia.  Nah begitu flight jet tempur Indonesia kembali ke home base si tikus kembali berpesta dengan berlagak sebagai jagoan.

Demikian juga dengan patroli laut oleh KRI.  Jika KRI yang berpatroli berjenis fregat atau korvet, si tikus tiarap atau balik badan.  Tetapi jika KRI berlabuh di Tarakan untuk isi ulang logistik maka tikus tadi keluar sarang bahkan kadang-kadang berlagak mengerahkan kapal selamnya yang bermarkas di teluk Sepanggar untuk menguji kemampuan deteksi angkatan laut Indonesia.  Itulah fakta yang terjadi di lapangan padahal patroli militer Indonesia bukan hanya di kawasan itu.  Masih banyak hot spot lain yang harus diawasi misalnya perairan Natuna, Selat Malaka, Laut Arafuru dan Laut Timor.

F16 di Tarakan, memastikan kedaulatan NKRI
Persoalannya adalah masih kurangnya ketersediaan alutsista berbagai jenis yang harus dimiliki. Atau meski sudah banyak alutsista yang dipesan namun kedatangannya tidak sesuai target pengadaan. Contohnya pesanan 24 jet tempur F16 blok 52 yang mestinya seluruhnya sudah datang pada akhir tahun 2015, ternyata sampai akhir Juli 2015 baru 9 unit yang datang.  Demikian juga dengan kedatangan alutsista jenis lain seperti MBT Leopard, Astross, Caesar Nexter, Super Tucano dan lain-lain tidak tepat waktu.

Negeri seluas Indonesia ini harus banyak memiliki kapal perang dan jet tempur. Dua jenis alutsista ini mutlak diperlukan sebagai alat pukul dan alat sengat manakala ada gangguan ancaman terhadap teritori.  Untuk angkatan udara kita harus punya alat sengat yang mampu membuat pihak luar berpikir ulang untuk mencoba mengganggu.  Makanya pantas sekali ada percepatan pengadaan alutsista baik yang sudah dipesan maupun yang akan dipesan.  Jika kedatangan 24 jet tempur F16 bisa diselesaikan akhir tahun ini maka sirkulasi dan pergantian shift patroli untuk menjaga Ambalat dan Natuna lebih “lapang di dada”.  Jet tempur F16 lebih efisien untuk patroli udara dibanding Sukhoi.  Jadi Sukhoi lebih banyak disimpan sebagai kekuatan pukul strategis.

Demikian juga dengan pengadaan jet tempur pengganti atau jet tempur tambahan.  Paling tidak kita harus mampu merealisasikan 1 skuadron pengganti jet tempur F5E dan 1 skuadron jet tempur tambahan sampai tahun 2020 ini.  Dengan begitu maka alokasi sebaran jet tempur akan lebih luwes dan leluasa untuk ditandangkan ke seluruh kawasan hot spot tanah air.  Kita berharap pengganti jet tempur F5E tetap konsisten dengan Sukhoi SU35 untuk memastikan ketersedian Sukhoi Family dalam jumlah yang memadai.

Klaim Cina di LCS, lidah naga menjulur
Untuk kekuatan armada tempur laut tambahan KRI baru jelas diperlukan.  Maka kita menyambut baik adanya tambahan pesanan 4 KRI berjenis kelamin PKR10514 menyusul 2 unit yang sedang dibuat di galangan kapal Damen Schelde Belanda dan PT PAL. Dengan begitu diharapkan realisasi 6 KRI dapat dipenuhi sampai tahun 2020 dengan model pengerjaan pembuatan kapal saling bersinergi dan paralel antara dua perusahaan industri pertahanan ini.  Untuk diketahui PT PAL mendapat lisensi dari Belanda memproduksi sampai 20 KRI jenis perusak kawal rudal ini.

Seperti kita ketahui PT PAL saat ini sedang disibukkan dengan berbagai order kapal perang seperti proyek 2 LPD untuk Filipina, proyek 16 KCR 60 m untuk TNI AL yang saat ini sudah sampai pada kapal keempat. Paling strategis tentu kerjasama pembuatan kapal selam dengan Korea Selatan. Saat ini sedang dibangun 2 kapal selam jenis Changbogo di Korsel sementara kapal selam ketiga akan dibangun di PT PAL tahun 2017 dengan supervisi Korsel.  Jadi nantinya PT PAL diharapkan akan mampu membuat kapal selam jenis ini mulai dari kapal selam keempat dan seterusnya minimal sampai delapan unit.

Hal yang tidak kalah penting adalah mempersiapkan model pertahanan terpadu di Natuna. Ini merupakan proyek strategis yang berpacu dengan waktu. Pangkalan AL dan AU di Natuna harus mampu menyediakan logistik ulang dan amunisi bagi kapal perang, jet tempur dan pesawat pengintai.  Ini pekerjaan besar tetapi juga demi mengantisipasi kekuatan besar yang lagi mabuk dan berselingkuh dengan teritori negara lain. Kita berharap di Natuna ada ketersediaan 1 skuadron jet tempur sepanjang tahun bersama belasan KRI berbagai jenis untuk memastikan kekuatan beton garis depan teritori.

Demikian juga di Tarakan minimal tersedia 1 flight jet tempur setiap saat, bukan kadang-kadang, termasuk ketersediaan sejumlah KRI. Catatan kita adalah dengan membangun pangkalan militer di Natuna akan berdampak pada konsentrasi kekuatan Malaysia yang mau tak mau terpecah.  Natuna bisa jadi kartu truft bagi Indonesia manakala konflik Ambalat memanas.  Misalnya dengan memotong jalur logistik negeri jiran itu. Yang jelas pembangunan pangkalan militer di Natuna membuat Malaysia seperti ditikam dari belakang padahal kita tidak merasa menikam.

Oleh sebab itu tidak bisa tidak isian alutsista TNI dalam kuantitas besar dan kualitas terkini harus terus diupayakan cepat pesan dan cepat datang.  Kita optimis bahwa dalam periode lima tahun ini akan banyak didatangkan pesanan baru disamping kedatangan alutsista pesanan periode sebelumnya.  Kunjungan Presiden Jokowi ke AS Nopember tahun ini dan kunjungan PM Inggris barusan tentu membawa misi kerjasama pertahanan alias daftar belanja alutsista yang ditawarkan atau yang diinginkan.

Tidak akan ada gangguan teritori manakala kekuatan alutsista kita gahar kuantitas dan kualitasnya. Tidak sampai terjadi model perseteruan kucing-kucingan seperti yang terjadi di Ambalat jika Tarakan dan Nunukan dilapis kekuatan pre emptive strike dengan kehadiran jet tempur, radar dan rudal serta KRI dalam sinergi interoperabilitas.  Sudah saatnya kita percepat isian alutsista segala matra agar tidak ada lagi permainan kucing-kucingan karena tujuan besar kita adalah menghalau semburan naga. Kita persiapkan alutsista kita menjadi macan dan tetangga usil pasti akan tahu diri dan berusaha menjadi kucing tetapi kita sudah berubah menjadi macan.
****

Jagarin Pane / 29 Juli 2015

Thursday, July 2, 2015

Ketika Berita Musibah Disiarkan



Cermin buruk muka kita adalah, jika ada peristiwa musibah yang mengejutkan publik bersama korban yang besar, kejadiannya dramatis dengan frekuensi siar yang luas maka selalu ada omongan emosional yang berlebihan “kapasitas air liurnya”. Contoh terakhir adalah musibah jatuhnya pesawat militer angkut berat Hercules TNI AU di Medan 30 Juni 2015 lalu yang menewaskan lebih seratus jiwa warga bangsa  ini.

Belum lagi selesai evakuasi, masih mengalir deras airmata duka keluarga korban, komentar yang dilontarkan mereka yang merasa sok tahu menyudutkan pemilik alutsista. Yang bilang pesawat tua lah, lalu ngomong pesawat hibah, lalu komentar kurang perawatan, dikomersialkan, kelebihan beban dan sebagainya. Padahal musibah baru hitungan jam dimana prioritas adalah evakuasi korban dan pemberitahuan kepada keluarga korban.
Hercules Indonesia
Itulah kita, begitu banyak stasiun penyiaran TV, Radio dan media cetak hanya mengejar kecepatan siar dan terbit dimana nilai kecepatan itu mengabaikan akurasi dan kelayakan. Sodoran pertanyaan yang diajukan ke wakil rakyat dan pengamat abal-abal, jawabannya seperti “firman tuhan” dengan mengatakan musibah itu karena alutsista renta dan jompo. Jadi dia sudah memastikan bahwa penyebabnya alutsista tua bangka.  Padahal penyelidikan dan penelitian belum dimulai.  Lalu kecelakaan pesawat militer angkut berat Airbus A400M di Spanyol baru-baru ini, apakah karena alutsista itu sudah tua. Jelas tidak, itu pesawat baru, gress yang mau dikirim ke Turki sebagai negara pembeli.  Jatuh juga.

Pihak media juga punya andil dalam menyodorkan rekaman wawancaranya, mestinya jika ada berita musibah, kunjungilah pemuka agama, apakah dia ulama, pendeta, bikshu, setidaknya komentar mereka akan memberikan opini yang menyejukkan sebagai media muhasabah, merenungkan diri lalu bergegas memperbaiki diri. Kalau selalu orang parlemen dan pengamat sentimen berbasis oppsisi yang dihubungi pasti jawabannya tidak mengedepankan dukacitanya tetapi lebih kepada selalu menyalahkan pemilik asset atau yang punya inventaris. Setidaknya numpang populer diatas penderitaan orang lain.

Pesawat Hercules yang dimiliki TNI AU semua ada dalam kontrol perawatan yang ketat. Meski pesawat yang jatuh itu buatan tahun 1964 tetapi hampir seluruh komponen mesin, instrumen perkabelan, avionik sudah berganti, sudah di retrofit. Yang jelas hanya rangkanya saja yang lama, tetapi jeroannya tidak lagi keluaran tahun 1964.  Jika kecelakaan itu disebabkan sayapnya patah atau ekornya lepas atau yang dikenal dengan “keletihan logam” barulah bisa disebut penyebabnya karena uzur.  Tidak ada pesawat uzur karena komponennya selalu diganti sesuai umur teknisnya.
A400M, yang sedang digadang-gadang TNI AU
Saat ini TNI AU sedang berupaya meningkatkan jumlah armada Herculesnya dengan mendatangkan 9 pesawat “Badak” itu dari Australia.  TNI AU saat ini memiliki 2 skuadron angkut berat Hercules yang bermarkas di Halim Jakarta dan Abdurrahman Saleh Malang dengan kekuatan 28 pesawat. Dalam lima tahun ke depan akan ditambah 1 skuadron lagi dan ber home base di Makassar.  Hercules bagaimanapun dikenal sebagai pesawat yang tangguh dan berjasa dalam perjalanan bangsa ini.  Sebagai negara kepulauan yang besar frekuensi jalan pesawat gagah ini cukup tinggi mengarungi berbagai pulau di tanah air.

Harapan kita, program pengadaan alutsista 9 Hercules dari Australia ini tetaplah berlangsung.  Saat ini kita sudah menerima 4 pesawat yang sebelum dikirim diretrofit dulu disana. Pengadaan pesawat angkut berat baru menguras duit anggaran pertahanan.  Soalnya kita baru sadar diri lima tahun belakangan ini untuk memodernisasi alutsista kita. Selama dua puluh lima tahun sebelumnya tidak ada sama sekali pengadaan alias pembelian pesawat angkut Hercules atau penggantinya.

Kementerian Pertahanan sudah menjajaki rencana pembelian pesawat angkut berat Airbus A400M dari Spanyol.  Harga pesawat baru ini seperti yang dipesan Malaysia untuk 4 unit nya mencapai US 1,1 milyar.  Cukup mahal, jadi realistis dengan anggaran pertahanan yang disedot untuk beli alutsista lain seperti jet tempur, kapal perang, kapal selam, untuk pesawat angkut berat kita percaya Hercules tetap masih menjadi andalan.  Mudah-mudahan dalam lima tahun ke depan kita sudah dapat memiliki 2-3 pesawat baru A400M yang secara bertahap mengantikan peran Hercules.

Musibah adalah media muhasabah dan selayaknya kita mendoakan para korban dan keluarganya. Kecelakaan yang dialami jelas karena berbagai faktor.  Biarlah tim yang berwenang yang akan melakukan tugasnya untuk memastikan penyebabnya.  Drama pemberitaan yang menjadi perhatian itu semoga dapat kita saring dan filter sendiri.  Kita tidak bisa menyuruh media bicara akurasi, fakta, opini. Kita yang menjadi penentu nilai berita yang disampaikan. Kita yang mengobyektifkaan nilai berita itu pada relung hati kita. Korban Hercules itu adalah tentara dan keluarga tentara serta penumpang sipil.  Tentara yang sedang bertugas untuk menjaga republik itu pantas dianugerahi penghargaan.  Kepada keluarga besar TNI AU, tetaplah tegar sebagai pengawal kedaulatan dirgantara.
****
Jagarin Pane / 02 Juli 2015