Monday, October 15, 2018

MEF On Going Project

NUSANTARANEWS Jakarta - TNI Defense and Alutsista Analyst Jagarin Pane notes that the journey of growing Indonesian military defense forces has been going on for nine years since the MEF (Minimum Essential Force) program was published in 2010. With a large roadmap for developing the latest technology armaments collection. Traveling all the time it has provided extraordinary value for the military institution of the warrior country.

Last Thursday (28/06/2018), said Jagarin, a new LST (Landing Ship Tank) warship was launched in Lampung from an outstanding national private shipyard. The shipyard is currently building 4 LST warships for the Navy after successfully building Bintuni Bay 520 KRI which later became the name of this LST class, Bintuni Class.

AU Great Road Indonesia Builds Full Scale Air Power
Indonesian Military Requested Fast Motion Complete Alutsista Needs
In addition, he said, PT PAL Surabaya currently builds 1 LPD (Landing Platform Dock) war ship, 1 Nagapasa Class submarine and 3 Rapid Ship Missiles. Other private national shipyards also reveled in the project splash building of dozens of Fast Patrol Boats (KPC), logistics ships BCM TNI AL, ships Bakamla and KKP. This means that all national shipyards in this country are happy to get a big sustenance from the MEF program TNI.

"Our celestial soldiers have also ordered 11 Sukhoi SU35 fighter jets and are predicted to add at least 5 more units. Kemhan is also in the process of procuring 5 Hercules J-series aircraft from the United States, preparing 3 additional combat squadrons with the strongest F16 Viper candidate, additional Apache helicopters, then adding at least 5 military radar, adding Oerlikon Skyshiled and anti- Nasams, "Jagarin said in his analytical note, as quoted nusantaranews.co, Saturday (14/07/2018).

Jagarin explained that the fifteen Golden Eagle fighter jets are also reinforced with Elbit radar infrastructure, adding to Grob and KT1 Wong Bee train jets. Orders of Caracal Helicopters, CN295 aircraft continue to be done. PT DI as a gateway distribution of cooperation production is completing various work orders such as 11 helicopters anti-submarine Panther for the Navy.

PT Pindad, he said, is also shining brightly with various orders of the Army. Anoa's panser production continues, medium Kaplan medium tank production project with Turkey, Komodo rantis, rhinoceros panser, ranpur Sanca. All strategic defense industries are busy with various business activities for our military armaments alutsista.

Nevertheless, he said, the travel program MEF is still long. And all the time we will get proud and heartfelt news for our military reinforcement. The arrival of various types of armaments and re-ordering various types of defense equipment is the consumption of news that has been commonplace.

****

Friday, October 5, 2018

Tahun Ini Sederhana Saja

Siapa yang tak kenal kewibawaan 5 Oktober. Tanggal keramat bagi tentara perjuang, tentara petarung dan tentara kemanusiaan. Banyak pertanyaan mengapa tanggal 5 Oktober tahun ini perayaan hari jadi TNI tidak terdengar gegap gempita sebagaimana tahun yang lalu. Tahun ini peringatan itu dilaksanakan secara sederhana, tidak seperti tahun kemarin yang sangat meriah. TNI mengambil kebijakan untuk memperingati ulang tahunnya setiap dua tahun sekali dengan menggelar kekuatan.

Sebuah kebijakan yang cukup “rendah hati” lho, karena sesungguhnya menggelar parade militer itu bukan perkara sederhana.  Tahun kemarin di pantai Indah Kiat Cilegon Banten kita bisa saksikan kekuatan otot TNI yang luar biasa dipertontonkan kepada khalayak. Seluruh matra TNI menggelar kekuatan secara spektakuler termasuk menggelar simulasi pertempuran dihadapan Presiden Jokowi. Luar biasa.
12 Hercules menjadi jembatan udara ke Palu
Tahun ini peringatan HUT tentara republik dipusatkan di Merauke secara sederhana. Bersamaan dengan itu TNI saat ini sedang menggelar kekuatan militer untuk operasi militer selain perang (OMSP) di Lombok dan Palu.  TNI AL mengerahkan  8 KRI termasuk kapal rumah sakit KRI Soeharso 990, sejumlah LPD dan pasukan Marinir untuk Palu. 

TNI AU yang kebagian tugas sebagai jembatan udara mengerahkan 12 pesawat Hercules, 5 pesawat CN295, 2 pesawat CN 235, 4 pesawat Boeing dan 2 helikopter combat SAR.  TNI AD mengerahkan batalyon-batalyon Raider. Tentara-tentara petarung ini menjadi tentara kemanusiaan yang terlatih dan tahan uji. Inilah operasi militer selain perang terbesar selama empat belas tahun terakhir sejak Tsunami Aceh tahun 2004.

Sejumlah alutsista yang dikerahkan menunjukkan TNI mampu “mengelola” situasi bencana Palu yang panik, kisruh dan menjurus chaos menjadi terkendali dan berangsur tenang. Pasukan reaksi cepat bergerak bergegas menuju daerah bencana. Membangun posko, mengirim ratusan ton suplay bantuan untuk saudara kita yang terkena musibah. Ini sebuah prestasi bagus yang dibangun dengan kerjasama dan kordinasi antar institusi.
KRI Soeharso 990 dikerahkan ke Palu
Cukup tersedianya sejumlah alutsista untuk penanggulangan bencana alam Palu menunjukkan nilai kegunaan tak terbantahkan akan pentingnya memperkuat alutsista TNI. Selama delapan tahun terakhir ini pemerintah melakukan terobosan besar dengan membangun kekuatan militer secara sistematis lewat program MEF (Minimum Essential Force).  Hasilnya bisa kita rasakan ketika bencana Palu terjadi didepan mata. 

Bandingkan ketika ada bencana alam di Aceh tahun 2004, kekuatan alutsista yang dikerahkan tidak bisa sebesar ini karena memang kita belum punya sebanyak ini. Maka sebagaimana pernah berulang-ulang dikatakan Menhan Ryamizard, bahwa perkuatan alutsista kita salah satu tujuannya adalah untuk penanggulangan bencana alam.  Terbukti sekarang.

Kita masih ada di MEF jilid dua (2015-2019).  Perkuatan alutsista kita sudah menunjukkan hasil cemerlang tetapi kita tidak boleh berpuas diri.  Karena sesungguhnya jika dibanding dengan luasnya wilayah dan posisi geostrategis negeri ini kita masih harus membangun kekuatan militer secara terus menerus dengan anggaran yang diperbesar.

Ketika Menhan Ryamizard berkunjung ke Pentagon baru-baru ini dan berkeinginan membeli sejumlah alutsista dari AS seperti pesawat Hercules seri J dan helikopter Chinook, kita sangat mengapresiasi. Kita masih membutuhkan lebih banyak Hercules.  Harus ada penambahan 1 skadron lagi dari yang ada sekarang sebanyak 2 skadron menjadi 3 skadron Hercules.

Bencana alam yang spektakuler di Palu adalah “manfaat terindah” dari diperkuatnya militer kita selama delapan tahun terakhir. Jadi jika ada yang masih gembar-gembor tidak penting-penting amat memperkuat militer, kita suruh aja dia terjun ke Petobo. Sejatinya dengan perkuatan alutsista sampai saat ini, TNI mampu melaksanakan operasi militer selain perang di 2 hot spot yang berbeda.  Lombok dan Palu contohnya.

Maka peringatan 5 Oktober tahun ini dengan kesederhanaannya, akan terasa getaran tentara petarung dan tentara pejuang menjadi tentara kemanusiaan yang berdedikasi.  Melaksanakan operasi kemanusiaan skala besar di Sulawesi tengah. Itulah salah satu fungsi TNI sesuai dengan Undang Undang TNI. Tentara yang darma baktinya kepada negara adalah segala-galanya, telah membuktikan peran besarnya di Lombok dan Palu.

Happy Milad TNI, semoga Allah selalu menjaga negeri ini. Allahummah fazh Indonesia.  Allahummaj’al baldatanaa Indonesia, ma’murotan bi thoatin biwa’zil ulamaa. Ya Allah jagalah negara kami Indonesia, Ya Allah jadikanlah negeri kami Indonesia makmur dengan ketaatan berkat mauidhoh para Ulama. Amin.
****
Semarang 5 Oktober 2018
Jagarin Pane

Wednesday, September 19, 2018

Banyak Banget Bro

Yang mau diluncurkan Presiden Jokowi Oktober nanti, kapal selam KRI 405, Kapal Cepat Rudal dan LPD.
Yang mau dibeli dalam waktu dekat, 5 Hercules type J, 5 Chinook.
Yang mau produksi massal, Tank Pindad dan Rantis Komodo.
Yang mau diselesaikan 4 Kapal Perang jenis LST, 1 BCM.
Yang mau datang Nasam, Nexter, Astross, Master T, Sukhoi SU35
Yang pesan lagi Oerlikon Skyshield
Yang lagi dilirik Tank Amfibi Sprut SDM-1
Yang mau ditambah lagi 3 Kapal Selam type 209.
Ampun banyak banget, gile lu ndro.......

Gambar mungkin berisi: luar ruangan

Jagarin Pane / 19 Sept 2018