Sunday, June 3, 2018

Membangun Kekuatan Udara Skala Penuh


Program strategis Angkatan Udara Indonesia mulai menunjukkan peta jalan besar yang menggempitakan.  Renstra ke 4 (2020-2024) yang bersamaan dengan MEF 3 dijabarkan dengan lugas oleh KSAU di Universitas Pertahanan Sentul Bogor 28 Mei 2018 yang lalu. Sementara itu tahun depan akan dibentuk skadron helikopter dan skadron angkut militer di Makassar. 

Jika pembentukan 2 skadron itu terealisir maka beban kesibukan Air Force Base Hasanuddin akan jadi luar biasa. Bayangkan saja ada 2 skadron tempur kelas berat Sukhoi SU27/30/35, ada skadron intai strategis, ada skadron helikopter, ada skadron angkut berat yang pasti akan diisi si bongsor Hercules, dan skadron teknik. Lalulintas penerbangan militer dan sipil akan semakin padat tentunya.

Kemudian ada penambahan 6 satuan radar terbaru diantaranya untuk Bengkulu, Singkawang, Sumba, Morotai, Jayapura diniscayakan akan memberikan ruang mata dan telinga yang tajam untuk memantau gerak gerik yang bergerak di teritori dirgantara kita. Termasuk berupaya semaksimal mungkin memelototi jet tempur siluman F35 tetangga. Bisa gak ya.
F16 di Biak. TNI AU sudah memiliki 33 unit dan akan terus ditambah
TNI AU sudah mengumumkan akan menambah 3 skadron tempur baru untuk mengisi Airforce Base seperti di Biak, Kupang dan Natuna. Jika ini terpenuhi dalam renstra IV dan MEF III maka kriteria minimum essential force (MEF) tentara langit kita akan terpenuhi. Tetapi itu baru minimum lho, bukan memadai apalagi ideal. Begitu pun pencapaian itu patut disyukuri karena itu berarti sudah memecahkan rekor, melebih kekuatan udara jaman Dwikora dulu.

Kalau mau bicara memadai saja diharuskan  ada tambahan lagi  1 skadron tempur Sukhoi SU35 untuk ditempatkan di Yogya dan 2 skadron tempur seperti F16 Viper atau yang sekelas dengannya untuk ditempatkan di Kalimantan dan Batam. Sebaran jet tempur seperti ini seperti ini akan menjamin respon cepat terhadap segala bentuk ancaman teritori udara kita. Kenapa di Yogya karena Adi Sucipto AFB sepenuhnya nanti akan menjadi pangkalan angkatan udara dan penerbangan sipil sudah pindah ke NYIA (New Yogyakarta International Airport) di Kulon Progo.

Yang menarik adalah pembentukan detasemen peluru kendali anti serangan udara jarak sedang dan jauh. Untuk satuan peluru kendali jarak sedang sudah ada Nasams untuk pengawalan ibukota dan Natuna. Kita meyakini alutsista jenis ini akan terus ditambah untuk melindungi obyek vital dan pangkalan militer kita. Kabar terakhir sudah ada kontrak lanjutan yang ditandantangani.

Khusus untuk satuan peluru kendali jarak jauh diproyeksikan untuk mampu menangkis serangan rudal ke ibukota jauh sebelum rudal itu menyentuh Jakarta. Mengambil contoh serangan rudal AS ke Suriah yang tidak lagi spektakuler karena ada tangkisan rudal anti serangan udara jarak jauh. TNI harus mengambil pelajaran dari kasus ini.
Peluru kendali SAM jarak menengah NASAMS
Peta jalan membangun kekuatan angkatan udara kita memerlukan asupan anggaran yang cukup besar. Kita meyakini bahwa semua program itu akan terlaksana pada periode 2019-2014. Angkatan udara adalah perlambang kekuatan teknologi militer sekaligus gengsi kehebatan militer sebuah negara.  Sinergi yang bagus antara angkatan udara dan angkatan laut untuk negeri kepulauan kita adalah pre emptive strike yang diyakini akan menjadi kekuatan pemukul nomor satu di masa depan.

Angkatan Udara dan Angkatan Laut adalah tameng dan benteng utama negeri kita karena disinilah bermula dan berakhirnya keunggulan militer meski daratan belum dikuasai.  Lagian model pertempuran yang akan dihadapi kelak adalah perebutan sumber daya alam.  Misalnya penguasaaan Kepulauan Natuna oleh Cina. Setelah berhasil direbut tentu si Naga akan menjaganya dengan kekuatan full combatan.

Maka bergegaslah wahai tentara langit, mata elangmu dan kecepatan respon adalah segalanya, hitungannya sudah jam dan menit. Maka perkuatan alutsista tentara langit adalah kemutlakan yang harus dipercepat sesuai tuntutan lingkungan yang dinamis. Semoga peta jalan hebat ini akan menjadi sebuah kenyataan dankebanggaan infrastruktur angkatan udara kita.  Sekali lagi tentara langit kita adalah poin kebanggaan ber NKRI sekaligus payung teritori yang paling bergengsi.
****
Jagarin Pane 
Surabaya, 3 Juni 2018

Friday, May 18, 2018

Mengembangkan Postur Gagah Di Timur Negeri


Indonesia terus membangun kekuatan militernya baik secara struktur komando maupun penyebaran ragam alutsista. Luasnya wilayah teritori negeri ini mengharuskan komando-komando tempur dan teritorial disebarluaskan untuk memastikan kedaulatan teritori negeri berada dalam genggaman.

Maka setelah bertahun-tahun direncanakan, dalam program kerja 100 hari Panglima TNI, pengembangan struktur komando strategis ketiga TNI mulai diberlakukan.  Hari Jumat tanggal 11 Mei 2018 di Sorong Navy Base Papua Barat, Panglima TNI meresmikan operasional Divisi III Kostrad, Komando Armada III, Pasmar III dan Koopsau III.

Ini program besar yang memerlukan sebaran pasukan dan alutsista yang luar biasa. Yang lebih luar biasa lagi adalah keinginan yang gigih untuk tidak lagi bertumpu pada Java Centris dalam pola pertahanan dan sebaran pasukan serta alutsista TNI. Ini juga bagian dari doktrin pembaharuan berani masuk digebuk. Tidak lagi, masuk dulu baru digebuk. Lha kalau yang masuk Naga mau digebuk pake apa Om.
Menyambut KRI Ardadedali 404 di Surabaya Navy Base
Seperti diketahui selama ini tumpuan kekuatan militer kita ada di pulau Jawa.  Kostrad Divisi I ada di Cilodong Jawa Barat, Divisi II ada di Singosari Malang. Pasmar I ada di Jakarta dan Pasmar II di Surabaya. Angkatan udara sudah menyebarkan sebagian kekuatan alutsistanya di luar Jawa seperti 1 skadron Sukhoi di Makassar, 1 skadron F16, 1 skadron Hawk di Pekanbaru, 1 skadron Hawk dan 1 skadron UAV di Kalbar.

Sudah saatnya kita membaguskan postur pertahanan di timur negeri.  Latihan PPRC Mei ini di 3 lokasi sekaligus di wilayah timur negeri ini adalah bagian dari strategi militer sebagai unjuk kekuatan. Pasukan pemukul reaksi cepat dengan dukungan 16 Hercules serentak melakukan counter attack di Morotai, Timika dan Selaru Maluku Tenggara dalam sebuah simulasi tempur yang terukur.

Wilayah timur negeri ini adalah separuh dari luasnya wilayah NKRI.  Harus diakui sebaran isian alutsista dan rentang geografis komando satuan tempur masih jauh dari kondisi memadai. Contohnya ketika diadakan latihan Armada Jaya beberapa tahun lalu dengan mengambil lokasi pendaratan pasukan di Kaimana Papua, sangat menguras energi dan logistik perjalanan armada puluhan KRI striking force yang ditugaskan.

Panjangnya rute Surabaya ke Papua dalam latihan angkatan laut itu dan resiko “serangan kapal selam musuh” di laut dalam Arafuru, dalam perjalanannya tentu tidak efektif dalam pertempuran modern saat ini. Maka sangat layak jika Sorong dijadikan pangkalan Armada III TNI AL beserta organiknya Pasmar III (setingkat satu divisi pasukan marinir).
Hawk dan LPD kita, bersinergi interoperability
Sementara Biak sudah sangat siap sebagai home base jet tempur TNI AU. Selama ini kedatangan berbagai jenis jet tempur tentara langit kita ke Biak AFB hanya menginap hitungan hari saja lalu kembali ke home base masing-masing. Nah kalau sudah tersedia isian 1 skadron jet tempur di Biak, maka ongkos patroli udara jadi lebih hemat.  Lebih dari itu ada rasa percaya diri soal respon cepat intersep jika ada pesawat asing yang masuk tanpa ijin.

Kita berharap dalam program MEF jilid III (2019-2024) gerak operasional penuh divisi tempur ketiga segala matra TNI sudah dilengkapi dengan berbagai jenis alutsista yang dibutuhkan. TNI AL saat ini sudah memiliki 165-170 KRI, setidaknya  35-40 KRI berbagai jenis bisa dimutasi permanen ke Armada III.  Diharapkan Koopsau III sudah dilengkapi dengan 2 skadron tempur di Biak dan Kupang.  Pasmar III juga sudah dilengkapi dengan berbagai jenis alutsista setara kakaknya Pasmar I dan II.

Artinya pengadaan berbagai jenis alutsista masih banyak yang harus dipenuhi. Misalnya pengadaan 3 skadron jet tempur, 3 kapal jenis PKR, 3 kapal selam, belasan KCR, belasan kapal patroli cepat, 100 tank amfibi, 100 tank Pindad, 100 Panser Anoa dan lain-lain adalah sebuah keniscayaan yang harus dicukupi.  Gerak cepat pengadaan dengan dukungan anggaran yang semakin besar dan terbesar adalah bagian dari sebuah kinerja yang dipantau dengan mata elang.

Natuna sudah hampir selesai pembangunan pangkalan militernya, isian alutsistanya harus dipercepat. Demikian juga dengan wilayah perbatasan lainnya. Pola kerja cerdas dan koordinasi sangat diperlukan untuk memastikan kita tidak ketinggalan kereta dalam membangun kekuatan militer. Kita mengapresiasi keputusan strategis TNI AL dengan menyebar permanen 4-5 KRI ke berbagai Lantamal.  Ini langkah jitu untuk sebuah respon cepat patroli angkatan laut.

Adanya kekuatan baru divisi tempur “ketiga” di timur negeri akan memberikan energi pertahanan yang baru dalam sebuah manajemen pertahanan yang rantai komandonya ada di luar Jawa. Sebuah terobosan besar karena wilayah timur yang penuh dengan energi sumber daya alam yang melimpah harus dijaga ketat. 

Kehadiran tiga matra kekuatan milter yang permanen di timur negeri dalam sebuah komando strategis yang saling mendukung adalah sebuah kewajiban mutlak.  Militer adalah bagian dari nadi NKRI, dan nadi itu adalah eksistensi NKRI.  Jadi jelasnya denyut nadi itu adalah TNI dan NKRI.

****
Jagarin Pane /18 Mei 2018

Thursday, May 3, 2018

Ancaman Cina Bukan Lagi Fiksi


Gelar kekuatan militer Cina di Laut Cina Selatan (LCS) sepanjang minggu kedua bulan April 2018 yang lalu merupakan gelar kekuatan militer terbesar yang pernah dilakukan negeri panda itu. Tidak kurang dari 50 kapal perang striking force, 3 kapal selam dan 1 kapal induk dengan dukungan 80 jet tempur bersama 10 ribu pasukan melakukan unjuk kekuatan di LCS dipimpin langsung oleh Presiden Cina Xi Jinping.

Respon Indonesia saat itu adalah segera mengirim 6 kapal perang ke batas teritori Natuna dengan dukungan 8 jet tempur F16 dari skadron Pekanbaru. Yang tidak biasa adalah sebelum 8 jet tempur F16 itu diterbangkan ke Natuna, flight tempur itu berlatih tempur dulu dengan membombardir pantai Bengkalis selama tiga hari. Ini adalah simulasi untuk menghadapi serangan kapal perang musuh atas sebuah pulau.
Bung Tomo Class ditempatkan di Natuna
Tidak terjadi insiden apa-apa dengan konvoi armada militer Cina termasuk dengan kapal-kapal perang Vietnam, Malayisa, Filipina, AS dan Australia yang ikut memantau dari kejauhan. Dan memang unjuk kekuatan militer Cina bukan untuk menciptakan insiden. Melainkan ingin menunjukkan kehebatan militernya yang sudah membangun pangkalan militer dan peluru kendali anti kapal dan anti serangan udara, berikut penempatan jet tempur di pulau-pulau atol yang tersebar di LCS.

Cina memang sedang menggeliat hebat. Perekonomian negeri semilyar orang itu diprediksi akan menjadi nomor satu dalam beberapa tahun mendatang.  Ini bukan fiksi tetapi prediksi yang bakal terjadi. Cina akan menjadi pemain nomor wahid di dunia mulai tahun 2020.  Sejalan dengan itu perkuatan militer mereka juga semakin “merajalela”.  Klaim negeri itu terhadap seluruh kawasan LCS bakalan tak akan terbantahkan atau terpatahkan oleh siapa pun termasuk si pemilik hegemoni Amerika Serikat.

F16 patroli di Natuna
Boleh jadi Natuna akan menjadi ruang tembak berikutnya meski saat ini dikatakan tidak masuk kawasan yang di klaim.  Tetapi persinggungan ZEE di Laut Natuna Utara dengan klaim Cina adalah fakta bukan fiksi.  Ini yang harus diceritakan kepada anak negeri supaya mereka paham betul suasana pertarungannya. Perairan ZEE Natuna kita bersinggungan dengan Vietnam dan Cina.

Antisipasi terkini yang dilakukan Indonesia adalah dengan menempatkan 4 KRI striking force dari Armada Timur dimutasikan ke Armada Barat dan fokus Natuna.  Ke empat KRI itu adalah KRI Bung Tomo, KRI John Lie, KRI Usman Harun dan KRI Fatahillah. Armada Barat saat ini berkekuatan sekitar 35 KRI berbagai jenis.  Tetapi tentu saja tidak seluruhnya terkonsentrasi ke Natuna. Selat Malaka, Selat Singapura, Selat Sunda, Laut Jawa dan Pantai Barat Sumatera juga perlu dikawal.

Sementara saat ini di Natuna sedang ada  kunjungan inap 6 jet tempur F16 untuk berpatroli rutin secara estafet bergantian dengan Sukhoi. Itulah dampak dari show of force militer Cina yang demikian perkasa. Termasuk kunjungan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Dari kacamata militer jika pada saat mereka unjuk kekuatan di LCS dan melakukan serangan kilat ke Natuna maka dalam hitungan jam pulau terdepan Indonesia itu akan jatuh ke tangan mereka.

Oleh sebab itu tidak bisa lagi kita mengatakan bahwa itu adalah hal yang biasa. Itu luar biasa Bung.  Karena yang melakukan itu adalah negara yang haus ekspansi sumber daya alam untuk bisa menghidupi milyaran penduduknya sampai seratus tahun ke depan. Jadi ini bukan soal jangka pendek. Cina harus bisa menguasai sumber daya alam dan sumber energi untuk menghidupi milyaran warganya yang juga tak tertandingi jumlahnya. Tidak peduli itu punya siapa.

Natuna sedang kita perkuat.  Pangkalan militer segala matra sedang dihebatkan. Tetapi lebih dari sekedar itu adalah percepatan isian alutsista yang harus dipenuhi di batas teritori itu. Tidak lagi memakai model konvensional alias sesuai pagu anggaran yang bertahap dan bertele-tele. Percepatan tambahan minimal 3 skadron jet tempur mestinya harus sudah bisa diselesaikan sebelum rezim ini bertanding lagi tahun depan. Demikian juga dengan tambahan kapal-kapal kombatan sekelas fregat dan destroyer serta kapal selam harus bisa dipercepat perolehannya.

Perkuatan militer bukanlah untuk menciptakan konfrontasi tetapi untuk menjaga agar pihak sana tidak meremehkan teritori kita. Kehadiran militer yang kuat di Natuna adalah untuk menjaga marwah teritori yang sudah diakui secara internasional.  Pantas dan sah. Maka sudah selayaknya kita bergegas agar tidak ketinggalan kereta segera memenuhi isian alutsista untuk Natuna.

Gerak cepat, cerdik dan lincah serta cerdas harus jadi pola pikir, pola sikap dan pola tindak Kementerian Pertahanan. Bergegaslah, karena bela negara zaman now adalah memperbanyak isian alutsista canggih dengan teknologi terkini. Tidak bisa tidak itulah yang harus kita dapatkan dan penuhi untuk NKRI tercinta.

****
Jakarta / 3 Mei 2018