Monday, July 3, 2017

Lebih Baik Melihat Kedalam

Ajakan Presiden Filipina Rodrigo Duterte agar militer Indonesia ikut andil memerangi militan ISIS di Filipina Selatan merupakan sebuah kehormatan namun harus disikapi secara bijaksana. Duterte mengajak Indonesia tentu dengan berbagai pertimbangan, salah satunya adalah kemampuan militer Indonesia melakukan perang gerilya, anti gerilya dan pertempuran jarak dekat yang dikenal dengan perang kota.

Hampir sebulan ini berbagai kegiatan patroli ketat dilakukan TNI di sepanjang garis perbatasan dengan Filipina. Setidaknya ada 12-15 KRI berbagai jenis dioperasionalkan bersama dengan pesawat pengintai TNI AU baik intai taktis maupun intai strategis, termasuk juga pengerahan jet tempur Sukhoi ke Tarakan dan Manado. Bahkan 2 kapal selam KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402 kita dikerahkan ke perbatasan wilayah panas itu bersama kapal perang jenis intelijen bawah air KRI Spica 934 yang punya alat deteksi canggih bawah air.

Di perbatasan pulau Sebatik, Nunukan, Bunyu, Tarakan disiagakan satuan-satuan tempur dan intelijen TNI AD untuk memastikan tidak ada rembesan militan dan senjata mautnya masuk ke wilayah NKRI. Sangat pantas kita waspada dengan kondisi di Marawi dan Mindanao, karena ternyata militan Maute yang berafiiasi dengan ISIS mampu melakukan pertempuran jarak dekat dan belum bisa ditaklukkan sampai saat ini.

Yang menarik adalah pengerahan kekuatan itu justru mampu melipagandakan kekuatan jaga teritori Ambalat karena wilayahnya memang berdekatan. Sambil menyelam minum air atau sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.  Meski Malaysia tidak ngotot lagi menghadirkan kapal perangnya, TNI selalu siap siaga menjaga Ambalat sepanjang tahun. Ini yang disebut menjaga gengsi berteritori secara milter, dan itu perlu meski di tataran diplomatik belum selesai perkaranya.
Pesawat intai strategis TNI AU ikut dikerahkan
Militer Indonesia sangat berpengalaman dengan model “perkelahian” yang dilakukan militan dan separatis. Selama konflik dengan GAM di Aceh, TNI mampu menyekat dan melakukan serangan balasan yang mematikan sehingga tidak sampai terjadi pertempuran skala besar sebagaimana yang terjadi di Marawi. Demikian juga selama operasi militer di Timor Timur dulu, setelah melakukan serangan pendudukan, yang terjadi kemudian hanya pertarungan skala kecil, tidak head to head sebagaimana di Marawi.

Ajakan Duterte harus benar-benar disikapi dengan bijaksana. Jangan sampai kita terjebak dalam perang berlarut di negeri orang. Selama ini pengiriman pasukan TNI adalah dalam rangka peace keeping bukan untuk kombatan. Sementara bisul di Mindanao itu sudah berlangsung lama mulai dari MNLF, MILF sampai Abu Sayyaf yang bersinergi dengan Maute. Persoalan internal mereka di seputar keinginan melepaskan diri, dan itu sudah dipenuhi dengan otonomi khusus dari Pemerintah Filipina dan MNLF.  Tapi kemudian muncul lagi MILF, Abu Sayyaf dan Maute.

Dalam pandangan kita lebih baik kita konsentrasi kedalam dengan memperbesar mata dan telinga intelijen kita.  Komando teritorial yang ada seperti Koramil dan Kodim tentu harus diberdayakan bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk mendeteksi dini bau-bau Maute dan bau-bau ISIS yang tidak sedap yang mungkin merembes dan membocori suasana damai di negeri kita. Sel-sel ISIS di negeri ini juga ada di beberapa tempat dan sudah melakukan serangan berbahaya ke aparat kepolisian.

Mata dan telinga intelijen adalah kunci untuk meredam dan mengeliminasi pergerakan teroris dan separatis. Kelengahan intelijen bisa mengakibatkan terjadinya serangan teroris secara masif sebagaimana yang terjadi di Marawi. Beruntunglah kita masih mempunyai komando teritorial di daerah seperti Babinsa, Koramil, Kodim, Korem yang beberapa waktu lalu digugat eksistensinya, dan sekarang ternyata berguna.

Sel-sel Babinsa, Koramil, Kodim yang diterjunkan ke nadi-nadi kehidupan, bergerak bersama roda kehidupan masyarakat yang dinamis di negeri ini adalah metode yang paling afdhol untuk deteksi dini adanya sel-sel asing yang berwajah “amarah”.  Apalagi jika pergerakan mata dan telinga di garis depan ini disinergikan dengan silaturrahim yang terus menerus dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat termasuk MUI, ormas keagamaan, diniscayakan mampu mementalkan pergerakan sel-sel asing yang ingin merusak keharmonisan dan kedamaian.

Jadi kedalam saja kita berkonsentrasi, lebih baik melihat kedalam membenahi kelincahan gerak mata dan telinga kita.  Jangan dibiarkan matanya rabun dan telinganya budeg.  Ongkos operasionalnya dibaguskan, perlengkapan mata dan telinganya diperkuat. Kalau di Natuna kita perkuat infrastruktur militer untuk mengantisipasi ancaman berlabel negara, maka untuk antisipasi ancaman teroris dan militan perkuat basis teritorial dan intelijen daerah.  Kita meyakini TNI bisa melakukan itu.
****
Jagarin Pane / 3 Juli 2017


Sunday, June 11, 2017

Menanti Alutsista Strategis

Ketika TNI mengerahkan dua kapal selamnya ke perairan yang berbatasan dengan Filipina untuk melakukan blokade pagar betis terhadap gerilyawan Marawi, maka itulah kemampuan maksimal yang dimiliki karena memang hanya punya dua kapal selam. Kapal selam kita hanya dua selama kurang lebih 40 tahun padahal negeri ini dua pertiga adalah perairan.

Sebentar lagi kekuatan kapal selam kita bertambah. Ada dua kapal selam baru yang mau datang dari pabrikannya di Korsel. Kedatangan dua kapal selam baru itu sedikit mengurangi sesak nafas akan kurangnya alutsista pemukul strategis bawah air.  Dua kapal selam jelas tidak punya efek gentar jika yang dihadapi adalah perairan kepulauan negeri ini yang banyak dilintasi kapal-kapal asing termasuk juga kapal selam asing.

Semua kalangan baik pemikir strategis Hankam, Mabes TNI, Akademisi, Pemerhati Pertahanan selama puluhan tahun sepakat bahwa alutsista strategis bawah air kita harus berada di kisaran angka 10-12 kapal selam sebagai ukuran standar untuk mengawal perairan NKRI. Tetapi selama puluhan tahun itu pula angkanya tidak pernah bergerak dari jumlah rakaat sholat rawatib.

KRI 402 Nanggala, jam operasinya tinggi
Selama pemerintahan SBY, delapan tahun berwacana terus agar kita bisa menambah jumlah kapal selam. Cari format sana sini. Kilo sempat digadang-gadang dan mampu membuat sejumlah orang mabuk kepayang karena akan mendapat kapal selam jenis Kilo, jumlahnya tidak tanggung-tanggung 12 biji dan sempat diumumkan Menhan waktu itu.

Akhirnya di tikungan terakhir Changbogo menyalip semuanya termasuk U214. Changbogo dipilih karena pola transfer teknologinya sebagaimana yang diinginkan pemerintahan SBY.  Proyek tiga kapal selam ini, dua diantaranya dibuat di Korsel dan satu di PAL Surabaya.  Dua kapal selam segera tiba dan satu kapal selam lagi sedang dibuat di PAL Surabaya. 

Begitu ketatnya “cara membuat kapal selam” di PAL Surabaya sampai-sampai mengambil fotonya saja tidak diperkenankan dan seluruh karyawan steril dan menjaga rahasia. Kita hormati itu karena ini adalah alutsista strategis teknologi tinggi yang teknologinya harus kita kuasai. Tentu harapannya adalah setelah kita menguasainya maka pembuatan kapal selam selanjutnya istiqomah di PAL. Istiqomah supaya fathonah, konsisten agar ilmunya dapat.

Banyak yang sedang dilakukan pemerintah untuk mengembangkuatkan tentaranya. Kita sedang menanti kedatangan 5 jet tempur F16 blok 52 tahun ini. Tahun berikutnya kita mendapatkan 10 jet tempur Sukhoi SU35. Proyek pengadaan kapal perang jenis Fregat dengan Denmark menemukan jalan terang sementara galangan kapal dalam negeri sedang mengerjakan pembuatan 2 kapal cepat rudal (KCR), 8 kapal patroli cepat, 6 LST (Landing Ship Tank) 1 Landing Plattform Dock (LPD) dan 1 kapal selam.
Latihan PPRC di Natuna
Pembangunan pangkalan militer Natuna sedang giat dilakukan termasuk pembangunan bunker kapal selam, bunker jet tempur, penempatan UAV, radar dan pertambahan pasukan. Berbagai serial latihan tempur dilakukan di Natuna. Sementara Morotai juga akan dibangun menjadi salah satu pangkalan militer setelah Natuna selesai. Dan pangkalan kapal selam di Teluk Palu sudah operasional.

Yang menarik adalah ketika infrastruktur yang dibangun diperlukan, sudah tersedia.  Misalnya pangkalan kapal selam di Teluk Palu dan Bandara Miangas di Sulut.  Dua-duanya baru selesai. Saat-saat seperti sekarang ini ketika TNI melakukan penambahan kekuatan di perbatasan dengan Filipina infrastruktur di dua tempat itu sudah operasional. Sangat membantu banget, Alhamdulillah.

Dinamika punya perbatasan laut yang luas itu bisa dilihat dari beberapa titik panas. Tahun 2005 tiba-tiba saja Ambalat memanas dan membuat kita tersentak. Bagaimana tidak tersentak karena kita baru menyadari bahwa militer kita giginya kurang taring, begitu nyengir diketawain tetangga.  Nah setelah itu barulah dimulai program pembangunan militer secara besar-besaran yang hasilnya bisa kita lihat sekarang.

Ambalat tenang, muncul Natuna. Kali ini si Lidah Naga menggeliat menjulurkan lidahnya untuk menyatakan bahwa lidahnya sampai di perairan Natuna.  Meski si Naga menyatakan tidak mengklaim Natuna tapi secara militer kita mesti siap, maka dibangunlah pangkalan militer segala matra disana.

Nah sekarang selatan Filipina bergolak. Kali ini militan jihad berbaju ISIS mengamuk dan menggegerkan.  Ini bukan persoalan antar negara tetapi militan yang rembesannya bisa saja masuk tanah air. Maka TNI kerahkan pasukan dan sejumlah kapal perang terasuk dua kapal selam miliknya. Dari operasi intelijen militer ini baru terasa pentingnya jumlah alutsista pemukul bawah air diperbanyak secepat mungkin.

Pesan dari semua dinamika itu adalah percepat pengadaan alutsista strategis seperti kapal selam, kapal permukaan, jet tempur dan lain-lain. Karena di kemudian hari bisa saja terjadi ada empat titik panas sekaligus yang harus “dilayani” dengan metode militer.  Ketersediaan alutsista yang mencukupi baik dari sisi kuantitas dan kualitas mutlak ada di segala matra TNI.

Anggaran ditambah dan cermati jika ada yang mencoba mengutil. Dua kasus korupsi besar yang terkuak yang terkait dengan pengadaan alustsista bisa dijadikan muhasabah.  Mumpung kita ada di bulan penuh rahmah dan maghfiroh maka jadikan kasus korupsi itu sebagai madrasah ibrah. Yang jelas datangkanlah alutsista strategis dengan cara-cara yang amanah, istiqomah dan fathonah. Bukankah begitu ikhwah fillah.
****
Jagarin Pane / 11 Juni 2017

Tuesday, May 30, 2017

Drama Helikopter AW101 Di Garis Polisi

Sejak awal proses pembelian Helikopter Agusta Westland AW101 menyiratkan tanda tanya besar di khalayak. Ketika sudah ditolak Presiden Jokowi akhir tahun 2015 mestinya urusan pembelian Helikopter canggih mewah itu selesai, alias tidak jadi. Presiden tidak memerlukan Helikopter VVIP Kepresidenan karena Helikopter eksisting Super Puma yang ada masih bagus dan siap operasional.

Tapi ternyata dalam perkembangannya ada arogansi dan pemaksaan kehendak. Serangan awalnya adalah menjelek-jelekkan PT DI.  Syahwat yang menggebu untuk membeli Helikopter merk lain dibahasakan dengan audio dan visual yang menggebu di media.  PT DI dijadikan kambing hitam karena lambatnya proses produksi atau tak berkeinginan ada merek lain selain serial Super Puma. Maksudnya untuk penggiringan opini supaya AW101 bisa gol.

Kita bisa saksikan di episode itu seorang pengamat militer di beberapa media dengan bahasa yang vulgar menjatuhkan wibawa industri kerdigantaraan dalam negeri.  PT DI ditelanjangi sebagai sebuah BUMN “karatan” alias tak mampu buat Helikopter.  Bisanya hanya merakit dan mengecat, bisanya hanya memonopoli merek dan hanya bisa buat CN235. Tapi dia lupa bahwa saat ini PT DI sedang bekerjasama pembuatan jet tempur KFX/IFX dengan Korsel. Publik pun “terkesima” dengan penggiringan opini ini.
Helikopter TNI AD di Natuna
Ketika korupsi bernilai 220 Milyar dari harga Helikopter yang 738 Milyar terbuka maka benarlah asumsi khalayak selama ini bahwa memang terjadi mark up harga dalam pembelian Helikopter buatan Inggris dan Italia itu. Sekedar membandingkan harga Helikopter Caracal EC (Eurocopter) 725 alias Super Cougar yang dirakit PT DI bernilai US$ 35 juta sementara si AW101 dihargai US$55 juta. Ketika kasus ini terbongkar mana ya suara si pengamat militer tadi.

Drama tak elok ini sepertinya mengikuti jejak India yang tahun 2010 memesan 12 unit Helikopter AW101. India sudah menerima 3 unit Helikpoter, sisanya masih 9 unit dan masih dirakit. Kemudian terjadilah penangkapan Giuseppe Orsi CEO Finmeccanica, perusahaan induk Agusta Westland di Italia. Efek domino dari penangkapan itu ternyata KSAU India termasuk salah satu dari banyaknya politikus dan pejabat militer India yang terkena suap dari pembelian Helikopter senilai 7 trilyun itu. Ada indikasi kuat bahwa Helikopter yang dibeli Indonesia itu adalah paket Helikopter yang bermasalah di India.

Bisa jadi cerita korupsi jamaah di India itu diikuti Indonesia sebab korupsi 220 Milyar itu secara logika tidaklah mungkin hanya melibatkan 3 orang tersangka militer aktif Indonesia termasuk jendral bintang satu. Tetapi setidaknya dalam kondisi saat ini ada yang merasa berdebar-debar ketika pintu rumahnya diketuk, jangan-jangan ada yang menjemput atau bertanya. Kita tunggu saja perkembangan kasus korupsi alutsista terbesar ini yang “mengungguli” nilai korupsi pengadaan Jet F16 dan Helikopter Apache bernilai  US$ 12,4 juta.

Dramanya adalah baru pertama kali terjadi pengadaan helikopter militer diberi garis polisi di pangkalan militer bergengsi. Kedatangan si AW101 seakan tak ada yang bisa menghadang dan dengan gagah memasuki Halim AFB. Atau boleh jadi kasus ini mengikuti doktrin TNI,masuk dulu baru digebuk. Heli dibiarkan masuk lalu diberi garis polisi, dikasih kesempatan terbang untuk uji kelayakan lalu masuk garasi dan kembali diberi garis polisi. Nah sekarang orang-orang yang terlibat sudah digebuk dan sangat mungkin akan bertambah jumlahnya.
Helikopter Apache TNI AD
Anggaran pertahanan Indonesia menjadi yang terbesar mulai tahun depan. Madu manis ini tentu menarik perhatian para semut-semut makelar, produsen, user militer, pengambil kebijakan atau bahkan pihak-pihak yang mengaku dekat dengan kekuasaan. Inilah ujian Kementerian Pertahanan dan TNI yang diamanahkan mengemban modernisasi militer Indonesia secara besar-besaran.

Dua kasus korupsi bernilai ratusan milyar ini hendaknya dijadikan semangat untuk berbenah dan bersih-bersih di tubuh militer kita. Pemerintah mengucurkan dana ratusan trilyun untuk menggagahkan hulubalang republik. Lihatlah Natuna sekarang, demam terus, lihatlah selatan Kupang ada pergerakan milter teknologi tinggi, lihatlah Ambalat dan perbatasan Filipina ada klaim teritori dan militan ISIS. Kita perlu militer yang kuat secara kuantitas dan kuat secara teknologi.

Anggaran besar itu digelontorkan agar pertahanan teritori kita kuat dan berdaya tahan tinggi. Maka bangunlah militer dengan semangat membangun kekuatan bangsaku, bukan bank saku mu yang dikuattebalkan karena ingin mencicipi manisnya madu anggaran alutsista.  Bulan puasa ini saatnya menjernihkan pola sikap untuk tidak rakus karena puasa mengajarkan kepada kita tidak rakus, tidak tamak. Itu saja harapan kita Jendral, kata Nagabonar.
****

Jagarin Pane / 30 Mei 2017