Wednesday, August 8, 2018

Titik Terang Pertumbuhan Angkatan Udara Kita


Salah satu matra penting yang sedang dikembangkuatkan dalam program modernisasi militer Indonesia adalah tentara langitnya. Angkatan udara sebuah negara memegang peran kunci dalam pertempuran teknologi tinggi sekaligus menggambarkan hebatnya marwah sebuah negara. Dalam kondisi damai kehebatan angkatan udara yang dimiliki sebuah negara menjadi kewibaan yang pantas disegani.

Saat ini kekuatan angkatan udara kita ditopang oleh 16 jet tempur Sukhoi SU27/30, 34 jet tempur F16, 33 jet tempur Hawk100/200, 15 jet latih tempur T50 dan 15 pesawat coin Super Tucano. Kekuatan yang dimiliki saat ini hanya bisa dikalahkan ketika masa Dwikora dan selama pemerintahan Orde Baru kekuatan sebesar ini tidak pernah tercapai. Artinya inilah kekuatan terbesar yang pernah kita miliki setelah era Dwikora.
F16 kita, stand by

Perolehan kekuatan pukul tentara langit ini patut kita syukuri namun untuk mendapatkan keperluan penjagaan teritori dirgantara negeri  ini, jumlah itu sesungguhnya belum memadai.  Maka rencana kedatangan alutsista strategis 11 jet tempur canggih Sukhoi SU35 mulai tahun depan lengkap dengan persenjataannya adalah sebuah penantian yang sangat dtunggu dan dirindukan.

Harus diakui kehadiran jet tempur Sukhoi SU35 memberikan angin segar yang membanggakan. Karena alutsista canggih ini akan menempatkan Indonesia setara dengan kekuatan yang ada di kawasan setidaknya dari sudut pandang teknologi. Cina sudah memiliki SU35, Australia dan Singapura sudah mendapatkan F35.

Kemudian penempatan SU35 di Iswahyudi AFB utamanya adalah untuk melindungi pulau Jawa sebagai pulau paling utama dan sebagai jantung Indonesia. Disamping itu posisinya yang berada di tengah selatan negeri kepulauan ini mampu menjangkau seluruh sudut teritori negeri. Sangat dimungkinkan jumlah SU35 akan ditambah 5 unit lagi sehingga menjadi kekuatan 1 skadron penuh.

Dalam perkembangan terakhir isian alutsista TNI AU selain jet tempur SU35 akan segera diisi dengan 5 pesawat angkut berat Hercules type J, 2 skadron jet tempur F16 Viper, 2 unit jet tanker, 2 unit AWACS, 4 unit pesawat amfibi, 16 unit UAV, 6 unit radar. Pemenuhan ini diyakini akan dapat terpenuhi dalam 4 tahun ke depan.

Peta jalan pertumbuhan kekuatan angkatan udara kita perlu kita sambut hangat. Proyeksi kekuatan yang direncanakan dan dipublikasikan akan memberikan pesan kuat kepada kita bahwa TNI AU ingin mendapatkan postur kekuatan dengan dukungan semua pihak. Kasus pengadaan helikopter AW101 beberapa waktu lalu memberikan pelajaran penting dan pahit  pada TNI AU.
Hercules kita, akan mencapai 40 unit.
Infrastruktur untuk menampung jet tempur yang singgah dan menginap sudah tersedia di Medan, Batam, Natuna, Tarakan, Manado, Biak dan Kupang. Misalnya untuk patroli udara skadron F16 dari Pekanbaru ke Natuna bisa singgah di Batam. Natuna, Biak dan Kupang adalah proyeksi terkuat penempatan lokasi skadron jet tempur TNI AU dalam waktu dekat.  Sudah dibentuk Koopsau III di Biak sebagai bagian memperkuat payung kekuatan udara kita di Timur.

Sembari mempersiapkan itu semua yang paling utama adalah menyediakan SDM Airmanship yang profesional. Karena seluruh airmanship berada pada lingkaran teknologi terkini yang harus terus diperbaharui kapabilitas dan kualitasnya. Kekuatan dan keunggulan angkatan udara ada di alutsista dan teknologinya. Maka personil yang menanganinya haruslah orang yang cerdas dan profesional.

Sudah saatnya kita memiliki kekuatan angkatan udara yang sepadan dengan luasnya wilayah teritori negeri ini. Dan karena membangun kekuatan tentara langit membutuhkan anggaran investasi besar maka pentahapan sesuai urgensinya sangat diperlukan. Kita perlu pesawat AWACS, kita perlu pesawat tanker, kita perlu radar juga UAV maka paket-paket ini menjadi prioritas.

Sinergi interoperability juga sedang dibangun diantara tiga angkatan. Dalam operasional pertempuran sinergi komunikasi, koordinasi dan komando sangat diperlukan dan AWACS memegang kendali manajemen pertempuran udara. Simulasi-simulasi interoperability  sudah mulai diuji coba secara parsial intra angkatan.

Perkuatan angkatan udara kita adalah bagian dari kesadaran pengambil kebijakan.  Bahwa kewibawaan dan mewibawakan teritori udara adalah kemutlakan yang tidak boleh ditunda hanya karena soal pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai. Angkatan udara adalah teknologi dan lambang marwah teritori. Maka pertumbuhan kekuatannya sangat kita apresiasi, kita doakan dan kita nantikan.
****
Jagarin Pane
Jakarta / 8 Agustus 2018

Wednesday, August 1, 2018

Semua Akan Perkasa Pada Waktunya


Payung kedaulatan dan marwah teritori negeri ini terus dibangunbesarkan di segala penjuru. Barusan kita mendengar kabar membanggakan (yang sudah lama ditunggu-tunggu sih) bahwa kawasan Indonesia Timur khususnya Papua mulai tahun depan akan ditempatkan skadron tempur, skadron angkut, skadron UAV dan skadron helikopter.

Sejalan dengan pesanan-pesanan alutsista yang akan terus berdatangan maka infrastuktur pangkalan militer disiapkan sejak awal. Manuhua Biak AFB, Silas Papare Jayapura AFB sudah naik kelas A disiapkan sebagai markas skadron. Di Biak sedang dibangun markas Koopsau III, di Jayapura sedang dibangun satuan radar militer, sementara di Sorong sudah ditetapkan sebagai markas komando armada III TNI AL.
F16 di Biak AFB
Jet tempur Sukhoi SU35 mulai tahun depan sudah mulai berdatangan demikian juga dengan pesawat angkut Hercules seri J dari AS sudah mulai mengisi armada skadron angkut berat. Saat ini TNI AU memiliki 36 Hercules dengan 2 skadron angkut berat. Sementara 15 jet latih tempur T50 Golden eagle sudah dilengkapi radar canggih yang mampu mengendus tajam dan 10 jet tempur F16 blok 15 sudah di MLU kan.

Khusus Papua memang sudah sepantasnya punya perlindungan militer yang kuat dan hebat. Pembentukan Armada III yang bermarkas di Sorong setidaknya akan mendapatkan 35-40 KRI berbagai jenis. TNI AD juga membangun Divisi III Kostrad di timur Indonesia dimana 1 brigade akan ditempatkan secara permanen di Papua bersama isian alutsistanya. Koopsau III dengan pusat kendali di Biak akan memiliki 4 skadron.

Dengan asumsi 11 jet tempur Sukhoi SU35 yang datang nanti ditempatkan di Iswahyudi AFB maka pergeseran yang paling mungkin adalah memindahkan 1 skadron F16 ke Biak dan Kupang. Skadron helikopter TNI AU akan bermarkas di Jayapura, skadron UAV masih akan ditentukan penempatannya. Skadron UAV punya misi penting untuk memantau perbatasan negeri.  

Isian jet tempur TNI AU akan terus ditambah.  Setelah mendapat “restu” dari Kongres AS bersama dua negara lain yaitu Vietman dan India yaitu : boleh-boleh saja belanja alutsista Rusia, tapi beli juga dong barang dagangan kami, kata Uak Sam. Tentu saja tawaran jet tempur F16 Viper akan menjadi fokus pengadaan alutsista kita. Dan realisasinya ada di MEF III (2020-2014), soalnya yang mau diborong banyak banget, 3 skadron alias 48 unit F16 Viper.
Helikopter TNI AU
MEF II akan berakhir tahun 2019 dan diprediksi kontrak-kontrak skala besar akan terjadi di penghujung MEF II.  Misalnya  tambahan 2 kapal perang jenis PKR 10514 kerjasama Indonesia -Belanda, tambahan produksi 2 kapal selam Nagapasa Class produksi bersama Indonesia-Korsel, kontrak 3 kapal cepat rudal buatan PT PAL. Syukur-syukur kontrak pengadaan jet tempur yang 3 skadron itu bisa diselesaikan di penghujung MEF II ini. Atau kontrak tambahan 5 jet tempur Sukhoi SU35.

Jangan lupa Natuna akhir tahun ini sudah menjelma menjadi pangkalan militer tri matra yang punya daya pukul bersengat lebah. Dengan sebutan “berani masuk digebuk” benteng pertahanan Natuna akan mempraktekkan doktrin itu sebelum mendapat bala bantuan dari Jawa, Kalimantan dan Sumatra. Sudah ditempatkan disana satuan radar berlapis, UAV, jet tempur F16 dan Hawk bergantian patroli, 8-10 KRI patroli bersama pesawat intai maritim.

Memperkasakan kekuatan militer kita sejalan dengan pertumbuhan kekuatan ekonomi. PDB kita ada di urutan 15 besar dunia, makanya Indonesia masuk group bergengsi G20.  Militer kita juga masuk urutan 14 besar di dunia versi Global Fire Power.  Meski banyak dipertanyakan bahkan dicemooh, indikator yang menjadi petunjuk dan supporting point keunggulan militer sebuah negara yang dipakai Global Fire Power adalah formula yang relevan.

Negeri ini akan terus memperkuat benteng pertahanannya, tidak peduli di dalam rumah tangganya sedang dihangatkan oleh suhu menjelang Pipres 2019. Rumah tangga biarlah berdinamika dan berdebat hangat, tetapi menjaga benteng pertahanan juga adalah bagian dari menjaga dinamika berumah tangga itu.

Pada MEF ketiga tahun 2020-2024 diniscayakan negeri ini akan memiliki kekuatan militer yang tidak boleh dianggap enteng.  Persoalannya bukan di seputar Natuna dan Laut Cina Selatan atau di Papua atau di Ambalat. Persoalannya adalah kita selama ini sudah tertinggal jauh dalam menguatkan benteng teritori. Baru delapan tahun terakhir inilah bangun dari ketertinggalannya. 

Maka dengan MEF I (2010-2014), MEF II (2015-2019) dan MEF III (2020-2024) kita meyakini akan memiliki kekuatan militer yang bisa diandalkan.  Dan setelah itu kita akan terus membangun kekuatan militer kita menjadi kekuatah militer yang disegani di kawasan ini sejalan juga dengan kekuatan ekonomi kita yang sudah masuk 10 besar dunia tahun 2024. Semua akan perkasa pada waktunya.

**** 
Semarang, 1 Agustus 2018
Jagarin Pane

Wednesday, July 18, 2018

Berlatih Untuk Pitch Black

Foto Arien Pan.

Dari 10 F16 blok 52 Id ini delapan diantaranya akan dikirim ke Darwin AFB akhir bulan ini untuk ikut latihan angkatan udara antar negara terbesar di Australia, PITCH BLACK. Makanya saat ini di langit Madiun, Magetan sampai Pacitan sedang riuh gemuruh berseliweran jet-jet tempur F16 TNI AU. Indonesia aktif mengikuti latihan tempur udara ini dan pernah mengirimkan 4 jet tempur Sukhoi. Punya jet tempur canggih memang harus terus diasah kemampuan teknologi tempurnya termasuk mengintip teknologi lawan latihnya. Karena meski namanya latihan bareng tetapi sejatinya para peserta sedang mengintip satu sama lain. Wajah tetap senyum tetapi tetap menyimpan energi siasat.
****
Jagarin Pane / 17/7/2018