Saturday, July 20, 2019

Belanja Terus Neh

Kementerian Pertahanan mendapat tambahan anggaran tahun ini sebesar 2 Trilyun rupiah untuk 
membeli 2 kapal perang jenis hydro oceanografi merangkap kapal penyelamat awak kapal selam. Ini 
sebuah kabar surprise tentunya dalam program modernisasi militer kita.

Di hari yang sama ada seremoni pembuatan 2 kapal perang jenis patroli cepat untuk menambah 
kekuatan armada dua. Galangan kapal swasta nasional bertepuk gembira dapat lagi proyek buat kapal 
perang. Saat ini saja PT PAL sebagai pionir pembuatan berbagai jenis KRI sedang disibukkan membuat 
3 kapal cepat rudal untuk TNI AL.

Indonesia saat ini sedang menunggu kedatangan pesawat tempur Sukhoi SU35. Kita juga sedang 
bersiap menyambut kehadiran peluru kendali darat ke udara jarak sedang Nasams untuk payung 
Jakarta dan Natuna. Juga MLRS Astross batch 2.
Heli Apache diatas kesatrian Yon 411 Pandawa Salatiga
Pengadaan 3 kapal selam Nagapasa Class jilid 2 juga sudah diteken. Ini salah satu kesibukan PT PAL 
yang saat ini sedang melaksanakan uji laut utk produksi kapal selam ketiga jilid satu. Industri pertahanan 
strategis ini juga sedang membuat pesanan 1 kapal perang jenis LPD rumah sakit.

Belanja militer Indonesia berlanjut terus. Istilah kerennya tiada hari tanpa belanja alutsista. Sebuah 
kondisi yang sangat membanggakan. Dan pada tahun-tahun mendatang akan semakin intens kekuatan 
belinya dengan anggaran terbesar dibanding kementerian yang lain.

Sekedar mengingatkan, Pindad saat ini sedang memproses pengadaan Tank Harimau untuk TNI AD. 
Pindad juga bersiap untuk produksi masal roket RHan. Amunisi ini bisa dipakai untuk MLRS Vampire 
milik Marinir. Termasuk sedang mengupayakan untuk dipakai MLRS Astross milik TNI AD.

Galangan kapal PT DRU Lampung sedang menyelesaikan sea trial 3 kapal perang jenis LST. Ini adalah 
galangan kapal yg produktif dan sukses membuat LST Bintuni Class. Galangan kapal di Batam juga 
produktif membuat kapal cepat rudal dan kapal patroli cepat.

TNI AU segera menutup blank spot area dengan membeli sejumlah radar untuk Bengkulu, Sumba, 
Singkawang, Morotai. Ketika mata telinga ini sdh mengcover seluruh teritori udara maka kehadiran alat 
penggebuk semisal jet tempur F16 Viper akan menyempurnakan semua kewibawaan teritori kita.

Maka gambaran proyek pengadaan alutsista negeri ini akan semakin berkibar dan membesar. Pembelian 5 pesawat angkut berat Hercules seri J dari AS, tambahan 8 helikopter tempur Apache, 9 
helikopter Caracal, 11 helikopter Bell 412 Ep, 2 pesawat tanker, 3 pesawat CN295, 4 pesawat CN 235 
dan 32 jet tempur F16 Viper sudah diambang pintu.

TNI AL bersiap menambah lagi 2 kapal perang jenis PKR Martadinata Class, 2 kapal perang Light 
Destroyer Iver Class dan 2 kapal pemburu ranjau. Marinir sedang menunggu kedatangan 22 tank amfibi 
Bmp-3F dan 21 panser amfibi Bt-3F dari Rusia. Termasuk sejumlah MLRS Vampire yang didatangkan 
bertahap.
Jet tempur F16, populasinya akan terus ditambah sampai 70 unit

Anggaran militer Indonesia adalah terbesar kedua setelah Singapura untuk kawasan Asean. Ini cukup 
membanggakan karena selama dekade terdahulu anggaran pertahanan kita berkategori ciput. Tahun 
depan anggaran militer kita menyentuh angka 126 Trilyun.

Negeri kaya sumber daya alam ini sudah sepatutnya memperkuat benteng pertahanannya. Ribut masa 
depan adalah seputar penguasaan areal sumber daya alam. Cina sudah memproklamasikan wilayah 
Laut Cina Selatan sebagai miliknya. Cina membangun armada tempurnya secara besar-besaran.

Kita harus bersiap. Kita juga harus bangun kekuatan militer kita. Maka belanja alutsista berteknologi 
adalah sebuah keharusan. Kalau kita kuat secara militer, gak ada itu yang mau macam-macam sama 
kita. Artinya gak mau ribut dan ribet urusannya.

Itulah salah satu fungsi penguatan militer. Kalau kita kuat jiran kawasan segan, kalau kita lemah, jiran 
merajalela. Masih ingatkan kemelut Ambalat tempo hari. Itu salah satu contohnya ketika jiran merajalela 
dan menyepelekan. Sekarang dia sudah jauh tertinggal dan kita akan terus dan terus belanja alutsista 
untuk benteng pertahanan kita. Majulah Indonesia.
****
Bandar Lampung 19 Juli 2019
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI

Thursday, July 11, 2019

Menggelar AYA dan AYU Di Bulan Yang Sama


Seiring dengan terus berdatangannya berbagai jenis alutsista TNI berkualitas, maka tuntutan untuk melakukan uji hebat dan uji canggih dilakukan secara berjenjang di semua matra TNI. Puncaknya adalah menggelar unjuk kerja latihan untuk setiap matra, dan puncak dari semua aktivitas itu adalah menggelar latihan gabungan TNI.

Pekan kedua dan ketiga bulan Juli ini dua matra TNI menggelar latihan militer skala besar di masing-masing matra di Jawa Timur. Angkatan laut menggelar kekuatannya  di Laut Jawa dengan serial Armada Jaya (AYA) yang sudah memasuki jilid ke 37. Sementara Angkatan Udara punya acara dengan waktu relatif sama, menggelar simulasi Angkasa Yudha (AYU) di Madiun, Malang dan Lumajang.

Semua puncak latihan internal matra TNI dilakukan setahun sekali. Untuk latihan gabungan TNI dengan model interoperability skala besar biasanya dilakukan 4 tahun sekali. Ini tidak termasuk latihan PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) yang waktunya sesuai kebutuhan di lapangan.  Jadi bisa setahun sekali bisa setahun dua kali dan seterusnya.
F16, alutsista strategis yang dimiliki Indonesia
Saat TNI AL sedang melakukan berbagai simulasi pertempuran laut dengan kekuatan puluhan KRI berbagai jenis dan ribuan prajurit Marinir.  Hari-hari ini terlihat kesibukan yang luar biasa di pangkalan utama TNI AL di Surabaya untuk embarkasi pasukan dan alutsista. Sementara lokasi latihan tempur ada di laut Jawa dan berakhir di pantai Situbondo.

Sementara itu TNI AU mengerahkan seluruh kekuatannya untuk AYU 2019. Ada jet tempur Sukhoi SU27/30, ada F16, ada Hawk, T50 dan Super Tucaco bersama dengan ribuan prajurit Paskhas dan sejumlah alutsista lain seperti radar, rudal, bom dll.  Ada 7 skadron tempur yang dilibatkan dalam Angkasa Yudha 2019. Rute latihan dari markas besar Iswahyudi AFB kemudian ada Abdul Rahman Saleh AFB dan area latihan tempur Lumajang.

Simulasi pertempuran pada hakekatnya adalah menguji kesiapan pasukan dan alutsista dengan berbagai model yang disiapkan. Untuk Armada Jaya, ada simulasi pertempuran laut antar kapal perang, anti serangan udara, anti kapal selam dan berakhir dengan serbuan pantai oleh pasukan Marinir.

Angkasa Yudha juga menampilkan pertempuran udara, misalnya antara F16 dan Hawk, Sukhoi dan F16, pengeboman bertubi-tubi, perebutan Air Force Base dan penerjunan pasukan. Yang menarik untuk kedua simulasi pertempuran laut dan udara kali ini adalah menggunakan metode dua pihak saling mengendalikan. Jadi seperti pertempuran yang sesungguhnya.

KRI Nagapasa 403, kapal selam terbaru Indonesia
Model interoperabilty berguna untuk saling koordinasi sekaligus menghindari friendly fire atar sesama pasukan. Termasuk juga model perang elektronika dan cyber army yang menjadi ciri khas pertempuran modern. Kurikulum latihan seperti ini mutlak harus kita kuasai karena kunci kemenangan pertempuran modern adalah asupan gizi intelijen dengan kekuatan teknologi pertempuran yang dimiliki.

Kapal-kapal perang yang kita miliki  sudah menyesuaikan dengan teknologi persenjataan yang modern, misalnya KRI Raden Eddy Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai 332.  Tiga Kapal selam terbaru yang kita miliki juga sudah memiliki kualitas persenjataan dan teknologi pertempuran modern yang memadai.

Empat jet tempur Sukhoi SU27 dan Sukhoi SU30 yang dibeli pada era Presiden Megawati sudah diupgrade setara dengan adik kelasnya. 15 Jet latih tempur T50 sedang diupgrade dengan memasang radar tempurnya sehingga nantinya berubah menjadi fighter FA50. 10 Jet tempur F16 blok 15 sedang dalam tahap peningkatan kemampuan tempur.

Maka menggelar AYA dan AYU setiap tahun adalah dalam rangka menguji alutsista baru untuk dapat diketahui keunggulan teknologinya, daya tahannya dan kesiapan satuan tempur yang mengoperasikannya. Simulasi pertempuran sejatinya adalah pertempuran itu sendiri yang diskenariokan sebagai bagian dari unjuk kekuatan untuk percaya diri.

Ke depan ini dengan semakin banyaknya alutsista baru yang canggih berdatangan, tuntutan untuk mensinergikan berbagai jenis alutsista itu dalam satu model sinergitas interoperability mutlak diperlukan. Kesiapan itu sudah diperlihatkan melalui simulasi AYA dan AYU dan akan terus disempurnakan dalam tahun-tahun mendatang.

****
Jakarta, 11 Juli 2019
Jagarin Pane

Friday, June 14, 2019

Sebar Kekuatan Di Timur Negeri


Angkatan udara Indonesia baru saja meresmikan 2 skadron angkut militer di kawasan timur Indonesia. Di Makassar digelar skadron angkut berat Hercules, namanya Skadron 33. Di Biak Papua di gelar skadron angkut sedang CN235/CN295, namanya skadron 27. Pesawat dan kru diboyong dari Jawa.

Pengembangan skadron angkut di wilayah timur merupakan langkah strategis karena wilayah ini sejatinya adalah prioritas kecepatan dalam setiap kondisi operasi militer maupun operasi militer selain perang. Makassar dipilih sebagai markas skadron Hercules dalam rangka memenuhi interoperablity antar satuan tempur karena di wilayah ini ada satuan tempur PPRC (Pasukan Pemukul Reaksi Cepat) Kostrad TNI AD.

Sementara Biak dipilih sebagai home base skadron 27 angkut sedang, sangat membantu mobilitas gerakan militer di Papua yang kontur buminya sangat menantang. Di Biak juga sudah tersedia infrastruktur militer seperti Radar, Paskhas dan menjadi markas Koopsau III.  Masih ada dua skadron lagi yang akan mengisi kekuatan timur Indonesia yaitu skadron Helikopter di Jayapura dan skadron tempur di Kupang atau Biak.
Jet tempur F16 di Lanud Biak

Pengembangan kekuatan pertahanan udara Indonesia terus dibangun karena memang belum sampai pada tahap kekuatan minimal yang harus dimiliki negeri kepulauan ini. Itu sebabnya program MEF (Minimum Essential Force) yang ditarget selesai tahun 2024 adalah sebuah kekuatan yang baru sampai di kriteria minimal.

Untuk mencapai kekuatan minimal itu, TNI AU masih memerlukan tambahan kekuatan minimal 3 skadron tempur, 1 skadron angkut berat, 1 skadron angkut sedang, 5 radar militer, 2 jet tanker isi ulang BBM di udara, 2 pesawat AEW&C.  Ini sebuah target yang realistis lho dan diharapkan tahun 2024 sudah bisa dipenuhi.

Tiga skadron tempur yang dinantikan adalah 11 jet tempur Sukhoi SU35 dan 32 Jet tempur F16 Viper. Skadron angkut berat Hercules akan mendapat tambahan 6 Hercules gress dari AS sementara skadron angkut sedang yang sudah mendapatkan 9 CN295 akan ditambah 3 unit lagi.

Infrastruktur pangkalan udara sudah tersedia di berbagai tempat.  Ada Natuna, ada Tarakan, ada Morotai, ada Biak dan sebagainya.  Ada infrastruktur yang bagus di Lanud Soewondo (ex Polonia) di Medan tapi kosong dengan pesawat militer.  Maka sangat layak skadron Hawk dan F16 di Pekanbaru sering-sering bermain di Medan biar tidak kesepian gitu.
Armada Hercules TNI AU
Pontianak di plot menjadi home base jet tempur F16 Viper.  Lokasi pangkalan udara ini paling dekat dengan Natuna sehingga sangat tepat menempatkan jet intersep di bumi khatulistiwa ini. Sementara jet tempur Hawk yang tersedia saat ini bisa diinapkan di Natuna sebagian. Patroli sekeliling Laut Natuna Utara.

Jika program MEF jilid III bisa diselesaikan tahun 2024, kita baru sampai pada kriteria kekuatan minimal. Artinya kekuatan angkatan udara kita yang menjaga negeri jamrud khatulistiwa ini punya inventori alutsista 27 jet tempur Sukhoi SU27/30/35, 66 jet tempur F16 blok52/Viper, 15 jet tempur latih FA50, 32 jet tempur taktis Hawk 100/200, 15 pesawat Super Tucano, 36 Hercules, 12 CN295, 16 CN235, 2 jet tanker isi ulang BBM di udara, 2 pesawat AEW&C.

Kekuatan ini sudah melebihi kekuatan TNI AU jaman Dwikora meski tidak punya pesawat pengebom strategis seperti era Dwikora. Kekuatan minimal ini patut disyukuri karena ini kekuatan pertahanan, bukan kekuatan ekspansi.  Isian alutsista angkatan udara perlu investasi anggaran yang besar karena angkatan udara adalah teknologi dan kekuatan penggentar.

Maka membangunkembangkan angkatan udara sejatinya adalah membangun teknologi pertempuran terkini yang mampu bersinergi dengan matra lain.  Investasinya cukup menguras anggaran negara tetapi marwah teritori negeri akan terangkat dan disegani. Kekuatan Angkatan udara adalah  martabat dan kebanggaan setiap negara.  Kita harus mendapatkan marwah itu.
****
Solo, 14 Juni 2019
Jagarin Pane


Friday, May 24, 2019

Diplomasi Viper

Beradu luwes, beradu lincah, bergerak cepat, diam-diam  dan berpacu dengan waktu, adalah irama yang sedang diperlihatkan Indonesia dalam diplomasi perdagangannya dengan Amerika Serikat. Sebabnya cuma satu, agar fasilitas yang bernama GSP yang diberikan negara adidaya itu masih bisa diperpanjang nafasnya untuk Indonesia.

GSP (Generalized System of Preferences) adalah fasilitas kemudahan perdagangan yang diberikan AS untuk negara-negara berkembang dengan cara membebaskan bea masuk ribuan produk negara-negara tersebut. Ada sekitar 3.500 produk ekspor RI yang boleh lenggang kangkung diberikan kemudahan masuk ke AS.  Ini sudah berlangsung puluhan tahun.

Nah, pak Donald mulai mendehem neh. Dengan China  terang-terangan dan tegas melakukan perang dagang.  Maka Indonesia mengantisipasinya dengan melakukan diplomasi perdagangan selama dua tahun terakhir ini dengan Paman Sam.  Kita ketahui bahwa sejak Oktober 2017 AS meninjau ulang pemberian fasilitas GSP terhadap 25 negara termasuk Indonesia. Untungnya kita masih punya “kartu remi” yang sangat diperlukan Uak Sam utamanya dalam menghadapi menggeliatnya militer China di Laut China Selatan (LCS).
Helikopter Apache Penerbad, akan ditambah lagi
Maka kartu remi dimainkan Indonesia dengan menerima tawaran Menhan AS untuk membeli sejumlah alutsista berkelas dari  Paman Sam.  Pengadaan alutsista semacam jet tempur F16 Viper, Hercules seri J dan Apache bermanfaat untuk menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara yang selama ini menguntungkan kita. Artinya tidak lagi dipelototi Trump.

Ini juga seirama dengan rencana strategis pertahanan RI yang akan menambah skadron-skadron tempurnya. Maka penambahan minimal 32 unit jet tempur F16 Blok 70 Viper adalah sebuah langkah cemerlang dan akan terlaksana dalam MEF jilid III. Indonesia juga sudah mendapatkan 8 Helikopter serang Apache dan diprediksi akan menambah 8 unit lagi. 

Selain alutsista diatas yang paling sering didengungkan adalah pengadaan 6 pesawat Hercules seri terbaru. Pak Menhan sudah disambut di Pentagon untuk memastikan pembelian pesawat militer angkut berat yang legendaris itu. Program beli ini juga agar AS bisa memberikan kelonggaran untuk pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia yang masih tersendat karena DP tidak bisa cair.
F16 Viper yang digadang-gadang itu
Itulah kenyataan yang kita hadapi karena sang adidaya lagi galak-galaknya kepada siapa pun yang mau mengganggu hegemoni Yues’e di segala bidang. Raksasa China aja diajak gelut alias perang dagang, dengan Iran sekarang sedang demam tinggi, Rusia dikenakan sanksi ekonomi ketat, Venezuela diadu domba dan lain-lain.

Untuk kepentingan geo strategis AS di LCS maka Trump memerlukan dukungan Indonesia. Artinya masih ada kekuatan bargaining bagi kita soal GSP tadi.  Kita memang lagi butuh peningkatan kualitas dan kuantitas alutsista.  Dan karena sudah ditawari juga oleh Menhan AS pada waktu berkunjung ke Jakarta maka tidak eloklah kalau tidak diambil.

Anggaran pertahanan kita tahun depan juga meningkat bagus mencapai 126 Trilyun rupiah.  GSP untuk produk ekspor kita ke AS juga masih bisa diperpanjang. Sekalian bisa mencairkan kebuntuan soal pembelian 11 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia yang terhambat Bank Garansi untuk DPnya.  Semua itu bisa dihasilkan dengan model diplomasi perdagangan yang cerdas, lincah dan luwes.

Kita meyakini bahwa kontrak pengadaan Jet tempur F16 Viper, Hercules, Apache akan diselesaikan Oktober tahun ini dan barangnya mulai berdatangan di episode MEF jilid III (2020-2024). Diplomasi Viper membutuhkan gerak lincah luwes dan bergerak cepat diam-diam seperti seekor ular Viper.  Karena kita pun bakalan mendapat Viper, jet tempur F16 Blok 70 paling mutakhir, lincah dan mematikan.
*****
Yogya, 24 Mei 2019
Jagarin Pane

Friday, May 3, 2019

Pelajaran Dari Parchim Class


Nama Tjiptadi, seorang kapten angkatan laut Indonesia yang gugur bersama Yos Sudarso dalam pertempuran Arafuru tahun 1962 menjadi terkenal hari-hari belakangan ini. Melalui sebuah kapal perang yang didedikasikan untuk namanya, KRI Tjiptadi 381, insiden penabrakan yang dilakukan kapal pengawas nelayan Vietnam di perairan Natuna Sabtu siang 27 April 2019 membuat nama pahlawan itu muncul ke permukaan.

KRI Tjiptadi 381adalah salah satu dari kapal perang Parchim Class yang dibeli Indonesia dari bekas negara Jerman Timur tahun 1990an.  Jumlah kapal perang bekas yang dibeli waktu itu berkat lobby BJ Habibie mencapai 39 kapal perang berbagai jenis, enambelas diantaranya adalah kapal striking force Parchim Class.

Soal insiden di Natuna itu, langkah yang diambil awak kapal perang KRI Tjiptadi 381 sudah tepat.  Bersabar dan tidak terpancing provokasi kapal pengawas nelayan Vietnam yang banyak karatnya. Toh “barang bawaannya” berupa tahanan belasan awak kapal nelayan Vietnam tetap diproses hukum dan kapal nelayan Vietnam sudah ditenggelamkan sendiri oleh kapal pengawasnya.

Sudah ada tiga armada tempur, tinggal memenuhi isiannya
Natuna itu sesungguhnyaadalah hot spot yang harus terus diawasi dan dikawal teritorinya. Disana ada tumpang tindih perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE). Dengan China yang mengklaim sebagian besar Laut China Selatan (LCS) ada hot spot berbahaya, dengan Vietnam juga saling klaim ZEE dengan kita.

ZEE bukan teritori kedaulatan lho, dia hanya kawasan dimana isi perairan termasuk ikan dan mineral didalamnya dikuasai oleh negara yang menarik batas ZEE 200 mil dari pantai terjauhnya. Makanya tidak boleh sembarangan umbar tembakan di ZEE karena itu jalur pelayaran bebas untuk semua negara.

Mengapa Vietnam begitu galak karena memang negeri itu punya militansi patriotik yang hebat.  Juga karena dia sedang keras-kerasnya berkonflik klaim dengan China di LCS. Militansi patriotik Vietnam sudah terbangun sejak perang Vietnam, dan semakin membanggakan ketika mereka mampu mengusir AS dari negerinya tahun 1970an. Nah sekarang mereka lagi panas-panasnya berseteru dengan China soal Spratly dan Paracel. Jadi adrenalin si Vietnam mudah tersulut dan mendidih.
Kapal selam juga semakin bertambah, sudah ada 5 unit
China seperti diketahui mengawasi ketat perairan LCS sepanjang teritori Vietnam.  Tidak ada celah ruang masuk bagi Vietnam untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi ZEE nya di LCS termasuk mencari ikan. Akhirnya para nelayan Vietnam yang “ruang operasinya” semakin dipersempit bergerak kearah selatan dan tenggara, ketemulah dengan Anambas dan Natuna.

Maka pelajaran dari insiden kemarahan Vietnam yang kesekian kalinya ini harus disikapi dengan cara pandang horizon dari pemikir strategi pertahanan di tanah air.  Jangan lagi bilang dua puluh tahun ke depan tidak ada ancaman teritori atau invasi ke teritori negeri tercinta ini. Di depan mata sudah terlihat demamnya LCS begitu tinggi. Bisa saja bisul itu pecah kan.

Angkatan Laut dan Angkatan Udara kita mutlak wajib fardhu ain dilaksanakan Pemerintah bersama syarat-syarat dan rukun-rukunnya untuk dikembangkuatkan, dibesarhebatkan dengan menambah kuantitas dan kualitas alutsista penggebuk. Anggaran sudah disediakan, tinggal pakai, tahun depan dapat porsi terbesar 126 T. Jumlah itu pun masih bisa bertambah, tinggal DPR sama Pemerintah bersinergi, tidak ada yang tidak bisa untuk membangun pertahanan negeri luas ini.

MEF jilid tiga sudah tinggal hitungan bulan, artinya bergegaslah mengeksekusi belanja-belanja yang sudah direncanakan, kan duitnya sudah ada, tinggal mengelola sistem multy yearsnya.  Jangan kelamaan mikir, lihat tuh Vietnam anggaran belanja alutsistanya lebih kecil dari kita tapi kuantitas dan kualitas alutsistanya lebih wah. Ada 6 kapal selam Kilo, ada 30 jet tempur Sukhoi, ada alutsista sistem pertahanan pantai dan lain-lain.

Armada satu TNI AL yang berbatasan dengan banyak negara mestinya lebih hebat dari Armada dua atau minimal setara perlengkapan alutsistanya.  Meski sudah diperkuat Bung Tomo Class, Sebagian Parchim Class, Clurit Class dan Fatahillah Class, sangat mendesak penambahan armada striking Force misalnya Martadinata Class.

Caranya ditambah dong kuantitas produksi Martadinata Class dari yang sekarang hanya dua biji menjadi enam biji gitu dan gak pake lama.  Penambahan KRI jenis Destroyer semacam Iver Class bisa dipercepat dan setidaknya kita butuh empat unit, beli sekaligus. Termasuk juga penambahan kapal-kapal BAKAMLA ukuran besar, dipercepat pengadaannya. Untuk perairan Natuna minimal dibutuhkan 6 kapal BAKAMLA ukuran besar.
KRI Fatahillah 361, sudah diperbaharui jeroannya
Natuna yang sudah jadi pangkalan militernya, adalah jawaban terhadap situasi konflik yang demam terus menerus. Maka alutsista gebuknya juga harus dihadirkan lebih banyak dan lebih berkualitas. Jangan sampai arhanud S60 yang kesana, ntar diketawain sama Laos. Natuna adalah benteng terdepan yang harus mencerminkan kekuatan pre emptivenya.

Penting juga adalah mengkomunikasikan progress pengadaan alutsista kepada khalayak.  Ini adalah bagian untuk memupuk semangat bertanah air. Semua sudah sepakat bahwa negeri kepulauan yang luas ini perlu dibentengi dengan pertahanan yang kuat. Anggaran sudah disediakan, tinggal bagaimana memanfaatkannya secara manajemen. Komunikasikan dengan khalayak disamping berkoordinasi dengan user TNI.

Berkali-kali sudah kita sampaikan bahwa perkuatan militer kita bukan untuk persiapan perang atau berkonflik melainkan untuk menampilkan postur kekuatan militer yang gagah dan disegani. Dengan postur militer yang kuat dan disegani maka jalan cerita diplomasi kita akan dihargai. Tak kalah pentingnya adalah kewibawaan teritori kita bernilai marwah dan mampu mengeliminasi ngamuknya tetangga.

****
Solo, 3 Mei 2019
Jagarin Pane

Saturday, April 27, 2019

Tank Harimau Mulai Mengaum

Ini dia Tank Harimau made in Pindad kerjasama dengan Turki. TNI AD membutuhkan ratusan Tank jenis ini dan itu adalah pangsa pasar yg bagus untuk industri pertahanan kita. Bulan depan di sign kontrak pengadaan alutsista ini untuk batalyon kavaleri TNI AD. Selama sepuluh tahun terakhir ini industri pertahanan Indonesia maju pesat dan berbunga-bunga, sebuah pencapaian yang luar biasa. Alhamdulillah.

Gambar mungkin berisi: luar ruangan

****
Jagarin Pane

This Is Nagapasa Class

Kamis 11 April 2019 Menhan meresmikan peluncuran kapal selam ketiga yaitu KRI Alugoro 405 di Surabaya. Besoknya hari Jumat penuh barokah kontrak pembangunan 3 kapal selam sejenis diteken di Bandung dgn nilai kontrak US$ 1,2 milyar bersama mitra yang gak pelit ilmu Korsel. Artinya kita bakalan punya 8 kapal selam dan ini adalah jumlah terbanyak di ASEAN. Alhamdulillah, transfer teknologi semakin cerah, kapalnya dapat, teknologinya dikuasai. Jiran sebelah terpana dan terdiam.

Gambar mungkin berisi: luar ruangan dan air

****
Jagarin Pane

Terus Memperkuat Taringnya

Angkatan Laut Indonesia terus memperkuat taji tempurnya dengan mendatangkan 11 unit helikopter anti kapal selam. Setelah memastikan mendapat tambahan 6 kapal selam nagapasa class, matra laut ini juga sedang menunggu kehadiran 7 kapal perang jenis LST, 3 kapal cepat rudal, 3 kapal patroli cepat, 2 kapal buru ranjau, 2 kapal logistik. Jalesveva jayamahe.  Jangan kuat-kuat ntar jiran sebelah tersinggung.

Keterangan foto tidak tersedia.

****
Jagarin Pane

Panser Cobra Mulai Diproduksi

Namanya Panser Cobra, mulai diproduksi Pindad tahun ini untuk batalyon infantri mekanis TNI AD. Kebutuhan TNI AD untuk Panser ini mencapai 400 unit. Jadi ada kombinasi produksi alutsista yang sangat bergairah di Pindad, ada Panser Anoa, ada Panser Cobra, ada Tank Harimau. Sebuah pencapaian yg patut kita syukuri dan banggakan.

Gambar mungkin berisi: luar ruangan

****
Jagarin Pane

Belanja Terus, Jiran Pusing Pala Berby

Sudah punya 54 tank amfibi canggih Bmp-3f made in Rusia, Marinir Indonesia kembali menambah 22 unit lagi bersama dgn pembelian 21 panser amfibi Bt-3f juga buatan papa bear. Kontraknya diteken beberapa hari yang lalu di Kemhan Jakarta. Nambah terus neh, jangan bilang-bilang sama jiran sebelah ya.

Keterangan foto tidak tersedia.

****
Jagarin Pane

Sikatan Daya 2019

Skadron Sukhoi Hasanuddin AFB, skadron Fighting Falcon F16 dan skadron T50 Golden Eagle Iswahyudi AFB melakukan latihan tempur terpadu Sikatan Daya di Lumajang Jawa Timur selama seminggu sejak 23 April 2019. Tiada hari tanpa latihan karena itu adalah asupan gizi untuk kesiapsiagaan tanpa akhir.

Keterangan foto tidak tersedia.

****
Jagarin Pane