Saturday, July 12, 2014

Bercermin Dari Demokrasi Mesir dan Thailand



Sesungguhnya perjalanan demokrasi kita hari-hari ini sedang panas dalam, meriang dan kalau tidak mampu dikelola bisa menjadi meraung dan mengaum saling menerkam.  Di tataran pengambilan suara tanggal 9 Juli 2014 yang lalu para pemilih suara telah menampakkan kualitas demokrasinya dengan antusias mendatangi berbagai TPS di seluruh Indonesia.  Artinya rakyat Indonesia yang punya hak pilih telah memenuhi kewajibannya untuk memilih RI-1. Dunia mengakui kehebatan para pemilih Indonesia dalam menjalankan hak demokrasinya.

Masalahnya kemudian adalah di model perhitungan suara yang bernama quick count yang berbeda satu sama lain jika berhadapan dengan kubu yang berseberangan. Ini kemudian melahirkan sebuah kalimat populer yang pernah disebutkan almarhum  Gus Dur yaitu membela yang bayar. Di kubu A lembaga survey membela kliennya demikian juga di kubu B.  Ini juga salah satu indikator yang menjadi pemicu gejolak panas dalam ditambah lagi dengan keberpihakan media yang terbelah menjadi dua kubu yang berseberangan.  Meminjam istilah sastrawan, Indonesia saat ini bagai bulan yang terbelah dua.

Sesuai perintah, saat ini satu juta Polisi dan Tentara dalam kondisi siaga penuh untuk mengantisipasi kondisi terburuk dalam perjalanan berdemokrasi kita.  Ada pergerakan dan pergeseran pasukan bersama  sejumlah  alutsista di berbagai tempat strategis.  Sebagai alat dan instrumen penyelamat negara dari gangguan keamanan dan pertahanan, menyiagakan personel dan sejumlah alutsistanya merupakan keniscayaan yang dibenarkan.  Kendali tokoh publik atau politisi tentu ada di lisan dan laku sikap.  Manakala lisan provokasi dan laku sikap berlaku anarkis jelas akan berhadapan dan berlawanan dengan instrumen penyelamat negara.
Militer Indonesia bersiaga penuh
Berbagai contoh telah diperlihatkan manakala jalan berdemokrasi melewati ambang batas laku sikap dan lisan yang mau menang sendiri. Mesir yang perolehan suara kaum religi menang tipis terhadap kaum nasionalis dalam Pemilu beberapa tahun silam sangat mengejutkan lingkungan sekitarnya.  Termasuk penggemar status quo yang berpuluh tahun menikmati rezim Hosni Mubarak dan tetangga sebelahnya Israel.

Sayangnya pihak pemenang tipis pemilu ingin cepat-cepat merevolusi tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di negeri piramid itu sehingga menimbulkan birahi berkelahi. Disamping itu sesungguhnya Israel berkepentingan dengan posisi Mesir yang status quo alias tidak adanya aroma ikhwanul muslimin di pemerintahannya. Oleh karena itu berbagai upaya intelijen dilakukan untuk mengembalikan posisi status quo tadi.  

Meski gejolak politik di Mesir menimbulkan efek domino alias Arab Springs dengan kejatuhan beberapa rezim pemerintahan di sekitarnya tapi kita bisa lihat sekarang kondisi negeri “Firaun” itu yang tidak sembuh dari luka dan cuka demokrasi. Militer mengambil alih pemerintahan untuk menyelamatkan wibawa negara. Sebabnya karena posisi sama kuat blok demokrasi di dalam negeri itu yang tak mampu merekonsiliasi diri.  Kemudian adanya campur tangan Israel dan AS untuk tetap “memegang dan menggenggam” Mesir agar tetap jinak.

Demikian juga pertarungan demokrasi sama kuat antara kelompok baju ningrat dengan kelompok baju egaliter yang dikenal dengan sebutan kaos kuning dan kaos merah di Thailand. Berlarutnya dalam hitungan tahunan saling hujat antara kedua kelompok itu akhirnya memancing militer Thailand untuk mengambil alih pemerintahan. Seperti kita ketahui seorang pengusaha kaya Thaksin Shinawatra dalam sekian tahun memerintah negeri gajah putih itu, dan terguling, telah berhasil memikat hati kaum egaliter terutama petani dan pedagang.  Kaum inilah yang menjadi lawan tanding kelompok kaos kuning sebutan untuk mereka yang berada dalam kelas pegawai negeri, keluarga tentara dan pemuja nilai-nilai kerajaan.
Titik Nol Yogya, haruskah kembali ke titik Nol
Demokrasi Indonesia sedang diuji kematangannya terutama ditingkat elite partai dan sekutunya.  Perhitungan suara manual yang sedang dilakukan KPU saat ini hendaknya disikapi dengan ketenangan cara pandang dan cara bicara.  Apalagi kita berada di bulan suci Ramadhan yang nota bene menahan dari segala hal, menahan amarah, menahan emosi termasuk menahan nafsu provokasi. Rakyat bangsa telah membuktikan kematangan berdemokrasi dengan tingkat kedatangan di TPS meningkat tajam.  Rakyat bangsa telah menjalankan “ritual demokrasi” nyaris sempurna tanpa ribut dan cela. 

Maka saatnya elite partai dan kelompok masing-masing harus mampu menunjukkan kecerdasan berpolitik, kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual.  Asal tahu saja kalangan grass root atau akar rumput tidak akan melakukan tindakan apa-apa jika tidak ada instruksi dari atasan partai atau kelompoknya.  Mestinya kita banyak bercermin dari kedewasaan masyarakat pemilih kita yang sudah kembali menjalankan aktivitas mereka. Berbagai aktivitas mereka sesungguhnya menggerakkan perekonomian yang terus tumbuh dan berkembang di negeri ini.

Ketika saatnya diumumkan siapa yang menjadi pemenang untuk menjadi Presiden lima tahun ke depan, mestinya jauh-jauh hari sudah dikondisikan bagi kedua petarung dan kelompoknya untuk siap kalah dan menerima kekalahan dengan legowo.  Tentu ini berat karena ongkos politik tidak hanya berupa nilai tukar tetapi juga gengsi diri, harga diri, aktualisasi diri, emosi diri dan ambisi diri terhadap apa yang disebut nilai perolehan harga kekuasaan.  Tentu semua ada limitnya.  Oleh sebab itu pusat gravitasi kendali  merupakan kunci untuk memberikan ketenangan pada harga diri, gengsi diri termasuk kendali kelompok.

Pada posisi tak terkendali, bukan sesuatu yang haram jika Polisi dan Tentara bahu membahu menghantam habis kelompok anarkis yang berusaha mencederai martabat demokrasi karena tak siap kalah.  Posisi darurat sipil maupun darurat militer bisa dan sah diberlakukan di seluruh tanah air manakala kemarahan lisan berubah menjadi kemarahan destruktif tak terkendali.  Kita berada di persimpangan itu, mau meneruskan universitas demokrasi dengan nilai cum laude atau terpaksa harus mengulang kembali karena tidak lulus mata kuliah pengendalian diri.  

Semoga berkah Ramadhan ini mampu memberikan berkah demokrasi yang bening, pengendalian diri untuk sebuah kemenangan Indonesia Raya yang majemuk. Dan di Idul Fitri nanti kita semua bisa mengembalikan nilai kesejatian pada fitrah diri, fitrah berbangsa, sebuah kebanggaan pada nilai kebangsaan Indonesia Raya.
****
Jagvane / 12 Juli 2014.


Monday, July 7, 2014

Menjelang Soft Landing



Bahwa perjalanan memang ada batasnya, jelas.  Perjalanan berpemerintahan selama sepuluh tahun terakhir ini telah sampailah pada tahapan menurunkan ketinggian untuk kemudian pada saat yang tepat mendarat secara halus dan mulus. Beberapa saat kemudian take off lagi dengan pergantian pilot yang baru. Kita berharap pergantian pilot baru itu akan memberikan nilai cerah atau setidaknya cerah berawan pada cuaca di sekitar bandara suksesi.  Sehingga tidak ada goncangan atau gangguan cuaca dalam upaya pendaratan kepemimpinan yang sudah bagus menjalankan pesawatnya selama 10 tahun ini.

Perjalanan pemerintahan SBY memberikan nilai, harga, harkat dan warna dalam perjalanan bangsa ini.  Catatan penting yang ingin kita sampaikan adalah hampir semua keberhasilan itu tidak mendapat tempat yang proporsional untuk disiarkan atau disampaikan media khususnya media layar kaca karena kepentingan pemilik media.  Pada akhirnya nilai-nilai kecerdasan yang dimiliki berpuluh juta penduduk negeri jamrud khatulistiwa inilah yang mampu memilah, merenungkan dan membeningkan nilai kebenaran sejati pada testimoni berita  dari sebuah media yang dimiliki si A atau B.  Independensi yang menjadi pita hati nurani para jurnalis tidak lagi sebening embun pagi.
Presiden yang santun dan menghasilkan karya besar
Tidak ada yang sempurna, karena kita makhluk yang bernama manusia.  Kepemimpinan yang memang sudah menjadi kodrat kita sebagai manusia yang diciptakan Allah sebagai Khalifah fil Ardhi, tentu menjadi dasar nilai-nilai menuju kesempurnaan.  Kepemimpinan seorang SBY bagaimanapun telah memberikan gambaran jelas bagaimana negeri ini bergambar dan tergambar selama sepuluh tahun terakhir ini. Ketika perjalanan itu berada ditengah ketinggian begitu banyak penumpang yang rewel dan bahkan mencaci maki perjalanan sang pilot.  Tetapi sang pilot tetaplah menjalankan pesawatnya dengan ketenangan hati dan berbagai strategi.
Nah ketika perjalanan hampir sampai di bandara suksesi kita bisa melihat sekarang tak ada lagi caci maki, tak ada hujatan, tak ada umpatan pada sang pilot.  Malah kemudian yang terjadi adalah  lagu-lagu pujian dan bersetuju dengan prestasi yang telah dicapai sang pilot. Memang ada satu dua penumpang yang wajahnya sepanjang “10 jam penerbangan ini” muram terus alias tak nyaman karena dia penumpang oposisi yang tak pernah mau mensyukuri nikmatnya berdemokrasi. Penumpang itu sepertinya memendam kebencian berlarut dan terlihat pada raut wajah yang kusut dan kalimat comberan.

Indonesia sedang mempersiapkan pilot baru karena sesuai konstitusi pilot lama tidak boleh memimpin perjalanan lebih dari “10 jam penerbangan” alias 10 tahun memimpin negara.  Oleh karena itu berbagai rencana bagus dan hebat yang sudah difundamenkan untuk menjadikan negara ini mampu menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan rakyat dan harga diri teritorialnya tentu harus terus berkesinambungan. Salah satunya adalah kesinambungan program MEF (Minimum Essential Force) jilid 2 sebagai kelanjutan MEF tahun 2010-2014.
Selalu on the spot untuk kesiapan hulubalang republik
Seperti kita ketahui program MEF 1 telah menghasilkan karya alutsista yang membanggakan.  Industri pertahanan dalam negeri telah mampu memproduksi sejumlah kapal perang berbagai jenis mulai dari Kapal Cepat Rudal, Landing Ship Tank, Landing Platform Dock dan Kapal BCM.  Produksi massal Panser Anoa sudah memenuhi batalyon tempur TNI AD dan masih terus berlangsung sementara produksi bersama pesawat angkut militer CN295 di PT DI sedang berlangsung penuh gairah.  Tidak itu saja berbagai jenis alutsista yang dibeli sudah banyak yang berdatangan seperti jet tempur T50 buatan Korsel, Super Tucano dari Brazil, Grob Jerman, KT-1 Wong Bee Korsel, Sukhoi Rusia dan lain-lain.

Sementara alutsista yang sedang ditunggu kedatangannya tahun ini adalah MBT Leopard, Marder, artileri Caesar Nexter, Astross Mk2, jet tempur F16 blok 52 dan lain-lain.  Semua itu adalah hasil karya MEF-1 yang menghabiskan duit sebesar US$15 Milyar.  Tentu untuk memperkuat pagar pertahanan itu tidak cukup hanya satu MEF karena situasi kawasan yang suatu saat bisa menjadi liar tak terkendali memerlukan barikade alutsista berteknologi dalam jumlah banyak dan berkualitas.  Sesungguhnya filosofi memperkuat alutsista bukanlah untuk mengganggu kawasan tetapi dengan militer dan alutsista yang gahar diniscayakan akan mampu meminimalisir terjadinya gangguan teritori.

Pada akhirnya nanti kita bisa memperbandingkan pilot yang bernama SBY dengan pilot penggantinya.  Ketika usia perjalanan pemerintahan baru telah menuju jalan setahun biasanya akan  kelihatan gaya kepemimpinan termasuk topeng sesungguhnya. Apapun itu, perjalanan berbangsa dan bernegara terus berlangsung menuju horizon peningkatan kesejahteraan dan kewibawaan teritori. Sudah tentu apa yang sudah difundamenkan dan direncanakan oleh pemerintah sebelumnya bisa menjadi sebuah mata rantai kelanjutan.  MEF 2 diharapkan tetap berkelanjutan dengan semangat yang sama karena didalamnya ada program kemandirian alutsista yang lebih spektakuler seperti pembuatan kapal perang jenis PKR, kapal selam dan jet tempur.

Lebih penting dari semua itu adalah mempersiapkan pergantian kepemimpinan dengan iklim yang sejuk dengan semangat kebanggaan berbangsa.  Sekaligus menunjukkan kekuatan kelola emosi jika ternyata harus berada di barisan pihak yang kalah suara.  Momentum Ramadhan bisa menjadi cermin tata kelola nafsu termasuk nafsu amarah manakala ternyata kalah.  Apa yang sudah menjadi prestasi pemerintahan SBY sejatinya adalah kekuatan kebanggaan itu.  Oleh karena itu menjaga irama soft landing adalah bagian ujian akhir yang akan menentukan apakah kita sudah dewasa dalam laku sikap dan ucap demokrasi atau memang baru setingkat demokrasi playgroup.
****
Jagvane/ 06 Juli 2014

Thursday, June 19, 2014

Memahami Wibawa Pertahanan



Sebenarnya tanpa kita sadari kekuatan pertahanan kita selama setahun terakhir ini meningkat dengan tajam seiring dengan kedatangan berbagai alutsista untuk mengisi satuan tempur di segala matra. Belum lagi ledakan amunisi terbesar dan tergagah sepanjang sejarah dalam Latgab TNI awal Juni kemarin yang ditembakkan dari berbagai sumber daya alutsista darat, laut dan udara. Bisa dibayangkan betapa lumatnya KRI Karang Banteng yang menjadi korban 4 peluru kendali anti kapal Exocet dan C802 yang ditembakkan dari 4 KRI sekaligus.  Memang Latgab kemarin adalah latgab terdahsyat yang pernah dilakukan TNI dan pertama kali mengintegrasikan sistem pertempuran 3 matra dengan konsep pre emptive strike.

Latgab itu adalah salah satu aplikasi memahami wibawa pertahanan. Memahami wibawa pertahanan esensinya sama dengan memperhatikan kesehatan dan kebugaran sekujur tubuh.  Tubuh yang sehat dan bugar adalah gambaran kesehatan organ tubuh di dalamnya. Tubuh yang atletis menggambarkan kegagahan bagi si pemilik tubuh. Demikian juga dengan gambaran sebuah negara. Negara yang “atletis” tentu menggambarkan kekuatan militernya yang tangguh dan gahar. Wibawa pertahanan adalah bagian dari cara pandang untuk mengukur sejauh mana harga diri bangsa berdiri di tengah pergaulan antar bangsa. Maknanya adalah tidak ada pelecehan teritori dan sekaligus kemampuan merawat pagar teritori.  Bukan ketika ada yang mencoba melecehkan teritori lalu bersikap reaktif dan retorika.
KRI SIM menembakkan rudal Exocet dalam Latgab Juni 2014
Kehadiran unsur satuan tempur di darat, laut dan udara berupa tentara dan alutsistanya di pagar teritori secara terus menerus merupakan salah satu cara mewibawakan makna pertahanan. Ke depan ini kita meyakini sejumlah alutsista TNI yang baru datang akan mampu hadir sepanjang saat untuk menjaga kewibawaan teritori Indonesia.  Kedatangan 24 jet tempur F16 blok 52 mulai Juli tahun ini akan memberikan tambahan adrenalin dan darah segar kekuatan pukul udara dan frekuansi patroli.  Demikian juga kedatangan 3 kapal perang dari Inggris mulai Juli ini bersama 3 KCR buatan PAL diniscayakan akan memberikan nafas segar bagi pengawal republik.

Sepuluh tahun terakhir ini kemajuan ekonomi Indonesia mampu menghebatkan kualitas rakyatnya dan memunculkan kekuatan kelas menengah yang pasti paham bagaimana memahami konsep wibawa pertahanan. Sebagai negara kepulauan maka sudah sepantasnya fokus kekuatan pertahanan ada di kekuatan laut dan udara. Jika kita perbandingkan maka konsep itu sama dengan kekuatan kelas menengah yang menjadi pilar kekuatan ekonomi cerdas yang dimiliki bangsa ini. Kelas menengah adalah gambaran keberhasilan menjaga pertumbuhan ekonomi dan eksistensinya sedangkan wibawa pertahanan kemampuan menjaga pagar teritori khususnya laut dan udara.

Riak gelombang di Laut Cina Selatan (LCS) sudah menunjukkan iklim tidak sehat, gampang demam tinggi.  Cina sudah mulai berani menggertak AS agar tidak bermain api di LCS padahal justru dia yang bermain api selama ini.  Vietnam, Filipina bersuara keras terhadap Cina sementara Malaysia mengambil sikap lembut terhadap Cina.  Kita tidak tahu mengapa dia tiba-tiba menjadi selembut salju menghadapi Cina bahkan mau membeli sejumlah aluisista dari negeri tirai bambu itu.  LCS adalah medan konflik yang sudah di depan mata.  AS dan Australia sudah memperbaharui model pakta pertahanannya dengan membolehkan akses militer AS dan alutsistanya yang lebih besar di Australia Utara, tidak sekedar Darwin.
35 Heli Penerbad berbagai jenis ikut menggemuruhkan Latgab 2014
Indonesia tentu harus menyikapi perubahan ini yang bisa saja menjadi liar dan tak terkendali sewaktu-waktu.  Krisis Ukraina dan kejutan militan ISIS di Irak adalah semboyan bahwa konflik militer tidak bisa diprediksi meski dengan kacamata intelijen sekalipun.  Bahasa jelasnya adalah membangun wibawa pertahanan dengan anggaran besar untuk sebuah negara besar berbentuk kepulauan.  Maka keperluan yang harus disediakan adalah membangun armada kapal selam, penyediaan kapal perang permukaan setingkat fregat dan destroyer.  Untuk kedaulatan udara diperlukan pesawat tempur dalam jumlah memadai dengan teknologi yang setara.

Wibawa pertahanan Indonesia akan diuji dengan dinamika kawasan yang makin demam tinggi.  Meski AS dan Australia telah menyepakati penempatan sejumlah kapal perang dan pasukan marinir di utara Australia tetapi tetap saja akses terbuka dan paling lebar menuju panggung LCS melalui perairan Indonesia.  Oleh sebab itu ketersediaan sejumlah kapal perang fregat dan destroyer serta kapal selam yang memadai tentu akan memberikan pesan untuk tidak lagi menganggap remeh negara ini. Memang sih sepanjang sejarahnya wibawa pertahanan negara ini selalu diremehkan oleh kekuatan asing. Tak usah malu-malu lah mengatakan itu. Maka agar tak malu-maluin terus perkuatlah persenjataan hulubalang republik.  Pagar utama adalah laut dan udara
Jet tempur Sukhoi dengan rudal-rudal penghancurnya
Wibawa pertahanan tidak hanya berteriak dan menggertak tetapi alat gertaknya juga harus jelas agar tidak disebut gertak sambal.  Menjadi ironi misalnya ketika terjadi insiden teritori yang keluar hanya teriakan bukan menghadirkan sejumlah jet tempur atau kapal perang.  Tidak juga mengurangi kewibawaan pertahanan manakala kita tetap membuka diri tapi juga jaga jarak dengan AS dan Australia dengan azas kehormatan teritori.  Maksudnya karena teritori laut dan udara Indonesia adalah jalan masuk dari selatan menuju palagan LCS, akses itu bisa tetap dilewati dengan pengamatan dan pengawalan laut dan udara.

Masih belum terlambat menguatkan nilai-nilai kewibawaan pertahanan itu.  MEF II (2015-2019) diharapkan menjadi realisasi menghadirkan sejumlah kapal perang dan kapal selam penyengat serta jet tempur penghancur. Kalau sejumlah alutsista penyengat dan penghancur ini sudah hadir maka dengan sendirinya muncul aura kewibawaan itu.  Salah satu nilai ber NKRI itu adalah menghirup aura kewibawaan itu disamping senantiasa menata hubungan internasional dengan kecerdasan diplomasi berlandaskan harga diri.  Kita yakin sejalan dengan tingkat kesejahteraan dan pertumbuhan PDB yang telah mencapai 10 besar dunia itu, Indonesia akan semakin diperhitungkan nilai-nilai kewibawaannya termasuk kewibawaan pertahanannya.
****
Jagvane / 19 Juni 2014