Saturday, July 30, 2016

Menunggu Changbogo

Armada striking force bawah laut Indonesia sedang bersiap-siap menunggu kedatangan kapal selam canggih buatan Korea Selatan, Changbogo. Akhir tahun ini atau awal tahun depan satu dari tiga kapal selam yang dipesan sudah dapat dioperasionalkan oleh korps Hiu Kencana. Kedatangan kapal selam Changbogo itu nantinya sekaligus memecahkan rekor jumlah kapal selam Indonesia yang selama hampir setengah abad hanya berjumlah dua biji tok.

Iya, sebuah negara kepulauan tropis terbesar di dunia selama puluhan tahun memunggungi lautnya.  Sehingga nelayan asing pesta pora mengambil ikan dan bahkan mungkin ikut memetakan data intelijen bawah laut.  Sekarang baru siuman dan sadar dari kebodohannya.  Kemudian bangun melalui srikandi Pangandaran “Angelina Jolie” Susi Puji Astuti menangkap dan menenggelamkan puluhan kapal nelayan asing.

Indonesia sedang membenahi manajemen kelautannya termasuk memperkuat barisan keamanan dan pertahanan laut. Untuk keamanan laut sudah dibentuk Bakamla (Badan Keamanan Laut) yang sedang dibesarkan dengan puluhan kapal penjaga pantai Coast Guard. Dalam lima tahun ke depan setidaknya sudah tersedia 30-35 kapal penjaga pantai.  Itu sebabnya industri galangan kapal swasta nasional kita saat ini sedang bergembira ria dengan panen order buat kapal-kapal Bakamla termasuk juga dari berbagai institusi yang beroperasi di bidang kelautan seperti Bea Cukai, Polisi Air, Kemenhub.
KRI Nanggala 402, sudah dimodernisasi di Korsel
Dengan adanya Bakamla tugas TNI AL diringankan karena ada sinergi alias bagi-bagi tenaga untuk menjaga keamanan laut.  Itu sebabnya armada kapal perang Indonesia yang berstatus KRI jumlahnya tidak akan beranjak dari 160-165 unit.  Jumlah itu dianggap memadai dan seluruhnya sedang dan akan dimodernisasi melalui empowering dan pergantian kapal perang.  TNI AL akan fokus pada apa yang disebut “gugus tempur laut” meski tetap mengawal “gugus keamanan laut” bersama kapal-kapal Bakamla.

Nah untuk kekuatan armada kapal selam kita yang jumlahnya “selalu dua” selama puluhan tahun, sangat memalukan jika tidak ditambah. Untunglah kita masih punya rasa malu. Ingat dengan sejarah Trikora, ketika kita punya kapal selam “Whiskey Class” sampai 12 biji si Belanda mulai berhitung ulang.  Kekuatan penggentar bawah laut Indonesia adalah salah satu faktor penentu hengkangnya kolonialisme Belanda di Papua tahun 1963. Tolong catat itu.

Dengan perjuangan panjang, saling sikut dan penuh tikungan maut, selama hampir delapan tahun mencla mencle, akhirnya pemerintahan SBY pada akhir Desember 2011 menandatangani kerjasama pengadaan kapal selam dengan Korsel melalui mekanisme transfer teknologi.  Kita pesan tiga biji, yang dua dibuat di Korsel dan yang satu terakhir dibuat di PAL Surabaya.  Nilai kontrak ketiganya US $ 1,1 milyar.

Ketiga kapal selam ini diprediksi akan bernama KRI Nagabanda 403, KRI Trisula 404 dan KRI Nagarangsang 405.  Tentu kehadiran ketiga kapal selam canggih ini seperti melepas beban sesak nafas selama ini bagi korps Hiu Kencana yang hanya punya dua kapal selam tua berusia hampir 40 tahun.  Lebih dari itu setidaknya ada rasa percaya diri untuk memastikan ruang bawah laut kita ada dalam kontrol pengawasan Hiu Kencana.

Tentu kita berharap serial Changbogo tidak berhenti sampai bilangan nominal tiga.  Sebagaimana harapan Hiu Kencana yang mottonya “Tabah Sampai Akhir”, jumlah kekuatan kapal selam Indonesia yang harus dicukupi ada di angka 12-14 kapal selam untuk menjaga 3 ALKI yang strategis.  Dengan model transfer teknologi dimana kapal selam ketiga dan seterusnya sudah bisa dibuat oleh para insinyur Indonesia di PT PAL dengan supervisi Korsel tentu ini sangat membanggakan.  Jangan sampai niat yang sudah bagus ini kemudian dipatahkan oleh inkonsistensi pengambil kebijakan, lalu memesan kapal selam jenis lain.

Persoalan di hampir semua model pengambil kebijakan kita adalah ganti pejabat ganti selera. Proyek Changbogo ini sangat membanggakan jika nantinya kita sudah bisa buat kapal selam sendiri.  Sama dengan proyek kapal perang yang dikenal dengan PKR 10514 kerjasama Belanda dan PAL, sampai pembuatan kapal perang kedua semua berjalan bagus. Tapi ilmu yang didapat dari pembuatan 2 PKR 10514 itu seakan ingin dimentahkan dengan program inkonsistensi itu.  Padahal Belanda menyediakan opsi membuat sampai 20 unit kapal perang modern kita.

Proyek PKR 10514, Jet tempur IFX dan Changbogo adalah kebanggaan kita sebagai bangsa karena dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan kita sudah menguasai teknologi industri pertahanan strategis. Jangan sampai kebanggaan sebagai bangsa besar dikalahkan oleh naluri makelar demi “bank saku”.  Semua proyek alutsista model transfer teknologi itu sudah ada pada jalan yang benar.  Changbogo sedang kita tunggu dan semoga jumlahnya tidak berakhir di nominal tiga tetapi akan berlanjut sampai tiga belas atau empat belas.  Semua demi kehebatan bangsaku, bukan “bank saku”.
****

Jagarin Pane/30 Juli 2016

Monday, July 25, 2016

Prediksi Belanja Militer RI Sampai Tahun 2019

Indonesia terus berupaya memperkuat militernya dengan belanja alutsista secara intens. Program eksisting saat ini adalah membangun pangkalan militer segala matra di Natuna dengan APBN_P tahun 2016 sebesar 1,2 Trilyun untuk menjadikan Natuna sebagai salah satu sarang lebah militer kita. Sebaran alutsista di Natuna sampai saat ini berupa pergeseran 1 flight jet tempur F16, pertahanan pangkalan Oerlikon Skyshield, radar Weibel yang mobile, sejumlah kapal perang striking force, drone dan pesawat patroli maritim.

Program pengadaan alutsista yang sedang berlangsung saat ini adalah pembuatan 2 kapal perang PKR 10514 produksi bersama Belanda_PT PAL di Surabaya, dimana salah satunya yaitu KRI Martadinata 331 sedang menjalani sea trial di laut Jawa. Kemudian pembuatan kapal latih pengganti Dewaruci di Spanyol, pembuatan 3 kapal selam jenis Changbogo di Korsel, salah satunya juga sedang menjalani sea trial di Korsel.  Juga sedang berlangsung pembuatan 2 kapal LST angkut tank spesialis Leopard di Jakarta dan Lampung untuk menemani KRI Teluk Bintuni 520 yang duluan selesai. Tahun depan juga akan dibangun 1 kapal perang jenis LPD untuk menambah jumlah LPD Makassar Class yang berjumlah 4 unit.
Jet Tempur Sukhoi SU30 bersiap patroli tengah malam
Kita juga sedang menunggu kedatangan 15 unit jet tempur F16 blok 52Id dari AS. Mestinya seluruh 24 unit jet tempur F16 up grade yang dibeli lewat program FMS tahun 2012 itu sudah tiba seluruhnya akhir bulan Juni 2016. Kita juga sedang menunggu kedatangan sang primadona Main Battle Tank Leopard RI dari Jerman dan berbagai alutsista pesanan pemerintah SBY. Tidak ketinggalan sedang diprogramkan untuk 15 jet T-50 golden eagle berupa pemasangan instalasi radar dan rudal sehingga bisa bisa berfungsi sebagai jet tempur disamping sebagai trainer.
Nah diluar paket eksisting itu militer Indonesia kembali melanjutkan rancangan belanja alutsista untuk tiga tahun ke depan (2017-2019). Dari data yang dikeluarkan Bappenas terhimpun jumlah dana yang digelontorkan untuk pembelian aneka ragam alutsista sebesar US$ 7,6 milyar dibagi untuk tiga matra. TNI AD mendapat alokasi anggaran sebesar US$ 1,5 milyar, TNI AL sebesar US$ 3,3 Milyar dan TNI AU sebesar US$ 2,8 Milyar.

TNI AU hampir pasti membeli 10 unit jet tempur Sukhoi SU35, 3 unit pesawat amfibi, pesawat angkut ukuran besar, helikopter angkut berat, sejumlah radar dan sistem pertahanan rudal jarak sedang untuk ibukota. Khusus untuk pengadaan rudal surface to air jarak sedang ini merupakan hal baru karena Indonesia selama ini hanya bertumpu pada Hanud Titik alias rudal jarak pendek. Jakarta sangat pantas mendapatkan pengawalan Hanud Area dengan memasang sejumlah peluru kendali darat ke udara jarak menengah.

TNI AL melanjutkan program pengadaan kapal perang dan alutsista striking force.  Prediksi kita akan ada pembelian 3 kapal perang jenis fregat, 2 kapal selam “herder” selain Changbogo, 2 kapal penyapu ranjau, 4 Kapal Cepat Rudal 60m, 60 tank amfibi, sejumlah rudal dan torpedo. Sementara TNI AD juga memperkuat taring tempurnya dengan membeli sejumlah heli serbu, heli angkut berat, rudal, artileri, tank, panser dan kendaraan tempur IFV.
Fregat KRI Satsuit Tubun 356 sedang bertugas
Tentu anggaran belanja beli alutsista itu menggembirakan kita meski belum memuaskan. Namun setidaknya ada gambaran jelas program pengadaan alutsista untuk memenuhi program MEF jilid 2 yang sedang berlangsung.  Ancaman dan tantangan menjaga teritori sudah jelas di depan mata. Paling tidak ada 2 hot spot yang selalu diwaspadai dan dijaga ketat yaitu Ambalat dan Natuna. Meski beberapa hot spot lain seperti selat Malaka dan Kupang juga perlu dicermati.

Kita meyakini dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin bagus, belanja pertahanan kita juga ikut terangkut bagus apalagi jika formula anggarannya berbasis PDB. Membangun kekuatan pertahanan dengan pola investasi tentu bisa merubah cara pandang kita selama ini. Bahwa patron bernegara dan berbangsa itu “biaya eksistensinya” adalah memperkuat otot militer dan persenjataannya. 

Jadi jangan ada anggapan bahwa perkuatan militer itu buang-buang uang negara. Perkuatan militer adalah sejalan dengan perjalanan berbangsa dan bernegara menuju negara kesejahteraan yang berkeadilan.  Perkuatan militer adalah kebutuhan mutlak agar eksistensi bernegara, eksistensi berteritori dan eksistensi berdiplomasi tidak dianggap remeh oleh negara lain. Dengan kata lain membangun dan memperkuat hulubalang republik adalah investasi jangka panjang yang manfaatnya dirasakan sepanjang usia eksistensi bernegara dan berbangsa.

Belanja investasi pertahanan yang bernama alutsista harus terus diperbesar dan sangat pantas berbasis PDB. Ini dilakukan untuk memperoleh kekuatan pertahanan dan daya tahan terhadap gertakan dan gempuran teritori yang sudah mulai dicoba uji nyalinya di Natuna.  Kita perkuat militer kita, kita baguskan model diplomasi kita.  Tapi jangan lupa sebagus dan sehebat apapun model diplomasi yang dijalankan, dia harus dikawal dengan kekuatan militer yang disegani.  Kita sedang menuju ke arah itu.
****
Jagarin Pane/24 Juli 2016


Friday, July 1, 2016

Memaknai Insiden Intersep F16 Di Natuna

Selama ini boleh jadi khalayak memandang perkuatan militer kita di Natuna dimaksud untuk menghadang klaim ZEE, infiltrasi dan bahkan invasi dari negeri semilyar ummat, Cina. Terjadinya intersep terhadap satu pesawat TUDM jenis angkut berat Hercules oleh dua jet tempur F16 belum lama berselang membuka ruang baca dan ruang lihat khalayak bahwa memang Natuna itu strategis sebagai pangkalan militer segala matra. 

Memperkuat Natuna seperti sebuah pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Selain untuk menghadang Cina, ternyata blokade terhadap Malaysia pun bisa dilakukan manakala terjadi ribut-ribut soal Ambalat.  Pihak Malaysia pun pasti sudah memperhitungkan dampak pembangunan pangkalan militer di Natuna dalam strategi pertahanan negeri itu.  Natuna mengharuskan Sarawak dan Sabah memperkuat diri secara militer, berbagi kekuatan alutsista dengan Semenanjung.
Jet Tempur F16 blok52 Id TNI AU
Lima tahun ke depan, Natuna diyakini sudah memiliki fasilitas tempur yang berkualitas. Pangkalan angkatan udara dan pangkalan angkatan laut sudah beroperasi penuh. Artinya menempatkan secara permanen 1 skuadron jet tempur dan 7-9 KRI striking force bersama 1 brigade gabungan sudah menjadi kenyataan.  Jika dalam kondisi siap siaga seperti itu dengan dukungan alutsista berkualitas, kemudian muncul konflik Ambalat, maka kekuatan militer Natuna bisa jadi kartu truft blokade militer antara Semenanjung dan Malaysia Timur.

Dalam lima tahun ke depan dengan anggaran militer yang terus meningkat diprediksi akan ada tambahan 2 kapal perang jenis destroyer, 6 kapal perang jenis fregat dan 16 kapal perang jenis KCR 60m. Jumlah kapal selam baru kita juga akan bisa mencapai 6-8 unit dengan asumsi Cakra Class pensiun dan isian kapal selam baru itu dari jenis Changbogo dan jenis lain yang digadang-gadang sebagai herder bawah laut.
Sementara untuk matra udara diharapkan 1 skuadron Sukhoi SU35 sudah beroperasi penuh bersama 1 skuadron F16 Viper.  Sehingga alokasi penempatan 1 Skuadron fighter di Natuna dari beberapa jenis jet tempur yang dimiliki sangat dimungkinkan. Apalagi golden eagle sudah diberi radar dan rudal sehingga mampu melakukan patroli udara secara efektif.

Bersamaan dengan itu satelit militer kita yang super canggih sudah beroperasi penuh. Semua kapal perang striking force kita sudah memilik kualitas persenjataan yang modern sehingga mampu bersinergi dengan alutsista AU dan AD dalam mekanisme interoperability yang berkualitas tinggi.  Artinya pada saat itu kekuatan militer Indonesia sudah jauh mengungguli kekuatan militer Malaysia. Tahapan program MEF-2 saat ini dan MEF-3 berikutnya diyakini akan membawa kualitas alutsista militer Indonesia menuju yang terbaik di rantau ASEAN.
KRI Yos Sudarso menembakkan rudal C802
Anggaran militer Indonesia tahun ini mencapai 108,7 trilyun rupiah sesuai dengan APBNP yang sudah disetujui. Jadi meningkat 9,3 T dari anggaran APBN 2016 sebelumnya. Angka ini sebenarnya hanya 0,88% dari PDB Indonesia yang tahun ini berada di angka 12.371 trilyun rupiah.  Sementara prediksi anggaran pertahanan tahun 2017 bisa mencapai angka 120 T jika  persentase tetap 0.88% dari PDB kita yang diprediksi mencapai 13.744 trilyun rupiah. Jika rasionya dinaikkan menjadi 1% saja dari PDB maka anggaran pertahanan tahun 2017 akan mencapai 137 trilyun rupiah. Jika rasio dengan PDB dinaikkan jadi 1,5% angkanya akan sangat menakjubkan.

Kita optimis anggaran pertahanan akan naik secara signifikan. Dukungan parlemen sangat membantu Pemerintah memberikan jalan yang terbaik bagi peningkatan kualitas militer kita.  Oleh sebab itu jendela yang perlu dibuka untuk melihat cakrawala bagus ini adalah kesediaan si pemilik anggaran untuk membeli alutsista dengan mekanisme transfer teknologi dan mengutamakan produksi dalam negeri. Misalnya produksi KCR 60 meter yang dianggarkan cukup besar, serta kerjasama produksi kapal perang jenis PKR 10514 yang sangat dimungkinkan dapat menjadi produk andalan PAL pada produksi ke lima dan seterusnya.

Ketika Natuna telah berubah menjadi sebuah pangkalan militer gahar maka situasi ini pasti akan membuat Malaysia salah tingkah dan sedikit gugup.  Gerakan kapal perang dan pesawat militer mereka jelas akan terpantau dan terdeteksi kuat dengan berbagai radar statis dan dinamis yang kita miliki. Bayangkan saja pemisah daratan Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur terdapat satu pangkalan militer negara lain yang punya sejarah konfrontasi. Tentu ini menggelisahkan.

Jelas ini manfaat ganda bagi kita meski pada awalnya tujuan pembangunan pangkalan militer di Natuna adalah untuk menghadang ambisi teritori Cina di Laut Cina Selatan. Dengan begitu makin jelas nilai guna dan nilai gengsi sebuah pangkalan militer terdepan kita.  Mata dan telinga militer kita tetap ke utara tetapi tidak salah juga melirik ke kiri dan ke kanan, apalagi ketika menoleh ke kiri dan ke kanan pakai mendelik.  Dijamin berdebar yang dilirik.

Jadi insiden intersep alias penyergapan  2 jet tempur F16 itu punya makna jangka panjang.  Makna jangka panjang itu adalah kita punya kartu truft yang menentukan manakala konflik Ambalat memanas dan menjurus ke perang terbuka.  Natuna dan armada barat Indonesia akan mengambil peran penting untuk memperlemah kekuatan militer Malaysia di Sabah dan Sarawak melalui blokade militer.

Meski pun begitu berteman dengan jiran adalah kebaikan silaturrahim yang mendatangkan manfaat berkah berlipat-lipat bagi kedua negara, dan saling ketergantungan satu sama lain. Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang punya banyak kesamaan dalam segala hal.  Jadi kehadiran pangkalan militer di Natuna adalah untuk menjaga nilai persahabatan itu. Bukankah dengan memiliki kekuatan militer yang disegani, para jiran tentu akan menghargai persepsi diplomasi dan kehormatan teritori NKRI. Itulah makna sesungguhnya.  
****

Jagarin Pane /01072016