Tuesday, April 30, 2013

Saatnya Memperkuat Natuna



Ambisi ekspansi klaim teritorial Cina sudah menampakkan inkubasinya dan mulai memberikan rasa gerah pada negara di sekitarnya yang berseteru.  Sepertinya dia tidak peduli dengan protes negara tetangganya antara lain Jepang, Vietnam, Filipina dan Malaysia.  Cina sedang giat membangun kekuatan milternya dan bercita-cita menjadi kekuatan berkemampuan serbu.  Kemampuan untuk itu sudah di depan mata.  Manuver armada angkatan lautnya di Laut Cina Selatan sudah membuat Filipina, Vietnam dan Malaysia berteriak kencang.

Salah satu halaman yang diperebutkan itu adalah perairan Natuna yang notabene adalah pagar terdepan teritori Indonesia.  Jika terjadi tawuran bersenjata di halaman itu bukan mustahil pagar rumah kita kena imbas bahkan ikut diobrak abrik.  Nah karena ini menyangkut pagar kehormatan bangsa tentu jalan terbaik adalah memperkuat pagar tadi dengan konstruksi “beton bertulang”.  Maksudnya pengawal republik dan sejumlah persenjataannya wajib digelar di bumi Natuna.  Tidak hanya alat pandang dengar berupa satuan radar dan satuan intelijen tok, tapi alat pemukulnya juga harus ikut dibawa dan disandingkan disana.
Peta hotspot lidah naga Cina
Perwujudannya bisa berupa peningkatan status Lanal Natuna menjadi pangkalan utama (Lantamal) dan menjadi salah satu basis kehadiran sejumlah KRI striking force.  Demikian juga dengan pangkalan udara Ranai sudah harus tersedia dan menginap ditempat sejumlah jet tempur dan pesawat intai maritim untuk memberikan nilai kewibawaan pada pagar bertulang tadi. Angkatan Darat diwajibkan pula menggelar satuan arhanud dengan kemampuan rudal SAM jarak sedang. Saat ini Armada Barat sedang menggelar operasi gugus tempur laut di Natuna dengan kekuatan 12 KRI.

Lho emang kita mau perang.  Jawabnya tidak.  Kehadiran satuan tempur TNI di Natuna justru untuk menjaga agar tidak terjadi konflik sekaligus menjaga kehormatan dan kedaulatan teritori NKRI.  Kehadiran sejumlah KRI di Natuna diyakini mampu mengefisienkan biaya operasi patroli gugus keamanan laut atau gugus tempur laut karena dukungan logistik dan amunisi lebih dekat.  Tidak seperti sekarang jika satuan patroli tadi melakukan tugasnya, jarak tempuh dan dukungan logistik dari Tanjung Pinang dan Jakarta menjadi bengkak karena jauhnya jarak dan harus isi ulang logistik.  Demikian juga dalam hal kecepatan reaksi diperlukan waktu minimal 4 hari untuk sampai di Natuna.

Pergelaran milter dalam ukuran global ketika terjadi perang dingin antara NATO dan Pakta Warsawa, puluhan ribu prajurit dan alutsista di sepanjang garis perbatasan kedua blok cukup mencengangkan.  Ribuan MBT, Artileri, Rudal, Jet Tempur, Kapal Perang pada siaga semuanya tapi toh tidak terjadi insiden apalagi konflik terbuka sampai akhirnya salah satu blok militer itu bubar jalan.  Jadi gelar militer itu justru memberikan rasa enggan untuk memulai atau mengganggu.  Natuna harus dilihat dalam perspektif itu.  Perspektif lain adalah kandungan minyak dan gas bumi di kawasan itu yang sangat besar.  Itu harus dilindungi.
Masjid Raya Natuna, luar biasa
Sebenarnya ada dua nilai tambah yang diperoleh dengan memperkuat Natuna sebagai basis militer gabungan setingkat  brigade.  Selain untuk menjaga kewibawaan teritori dari klaim Cina juga menjadi kekuatan yang mampu melakukan blokade militer dari pergerakan militer negara tetangga yang berkepentingan dengan klaim Ambalat.  Pergerakan armada angkatan laut negara jiran yang hendak menuju Ambalat jika terjadi konflik terbuka akan mampu dihadang oleh armada barat TNI AL yang berada di Natuna dan Tanjung Pinang.

Perkuatan angkatan laut dengan membentuk tiga armada tempur tentu sangat diharapkan. Lebih dari itu pengisian KRI striking force adalah formula utamanya yang akan memberikan nilai kekuatan gebuk armada.  Saat ini sedang disiapkan penambahan kekuatan.  PT PAL dan galangan kapal swasta dalam negeri sedang membangun sedikitnya 20 kapal perang berbagai jenis.  Dengan Belanda sedang dibangun 2-3 kapal perang jenis PKR, sementara 3 kapal perang second ex Brunai jenis korvet sedang dipoles sebelum datang di tanah air.  Demikian juga dengan pengerjaan 3 kapal selam Changbogo di Korsel sedang dalam proses.

Sejalan dengan pengembangan armada angkatan laut dan pembentukan Kogabwilhan maka Natuna sangat diharapkan menjadi salah satu opsi untuk basis kekuatan militer dengan alutsista pemukulnya. Natuna diyakini akan masuk Kogabwilhan I dengan Sumatera sebagai induknya dan Medan sebagai “Mabesnya”.  Lantamal yang ada di Armada Barat saat ini adalah Tanjung Pinang, Belawan, Padang dan Jakarta.  Secara geografi posisi Tanjung Pinang adalah yang terdekat dengan Natuna meski masih harus berlayar sejauh 550 km jarak udara.

Oleh sebab itu diperlukan peningkatan status Natuna dengan menjadikannya sebagai pangkalan utama TNI AL.  Kecepatan reaksi salah satu argumennya.  Misalnya ada pergerakan armada angkatan laut negara asing di perairan utara Natuna maka satuan KRI yang ada di Lantamal Natuna lebih cepat mengantisipasinya. Itu aspek teknis operasionalnya.  Lebih dari itu dari aspek strategis menempatkan satuan pemukul KRI, rudal SAM dan jet tempur di  kawasan Natuna tentu memberikan nilai kewibawaan bagi bangsa ini. Sudah saatnya kita memperkuat Natuna dan TNI memang harus tampil gagah menjaga kewibawaan negeri ini.

*****
Jagvane / 29 April 2013



18 comments:

Anonymous said...

mantap om jagvane ini yg juga menjadi pemikiran saya dari dulu ... bisa ngejaga duaduanya zee natuna dan menghambat logistik tldm bila ambalat perang semoga kemhan tni baca ini..amx56

H. Jagarin said...

Kalo gitu sama dong pikiran kita...

H. Jagarin said...

Kalo gitu sama dong pikiran kita...

harno bebek said...

semoga didengar oleh petingi2 TNI ,AL kususnya..agar apa yg agan arie jagvane dan kita semuanya bayangkan,bisa terwujud..amien2

Anonymous said...

dalam pengelaran alutsista tni HARUS DILIHAT DARI MANA ALUTSISTA ITU BERASAL !! ALUTSISTA BUATAN BARAT & RUSIA DIPAKAI UNTUK MENGHADAPI CINA SEDANGKAN
ALUTSISTA BUATAN CINA RUSIA DIGUNAKAN BILA ADA KONFLIK DGN BARAT YG BENER NETRAL YA ALUTSISTA BUATAN RI !! KARENA ITU KEMANDIRIAN IPDN RI ADALAH MUTLAK !! ALUTSISTA IMPOR YG BEBAS EMBARGO SELAMA SEJARAH NKRI YA DARI PRANCIS ISRAEL KORSEL !!EROPA TIMUR RUSIA !! amx56

Anonymous said...

Sabar yah.... Saya sudah mendengarnya, tunggu semua kapal perang jadi dan datang, kita perkuat natuna

Anonymous said...

Beneran gak nih yang komen diatas saya nee .atau hanya penghibur saja
SEMOGAA ditindak lanjuti

Antonov said...

Beli Yakhont versi darat, tempatkan di Natuna, pasti geger semua. Tapi ini kan defensif seprti yg dilakukan Vietnam ...

Anonymous said...

Betul kata kang antonov...Pulau Natuna itu bak kapal induk yg siap di garis depan, tinggal install sja semua aplikasinya...pasti josss...

H. Jagarin said...

Semoga bro...

H. Jagarin said...

Duh si AMX56, menggebu-gebu amat ente....heheeheee...

Ronald said...

jgn jadikan cina musuh tapi sekutu, biarkan negara2 asean berseteru sama cina, kita jgn ikut2 an justru ambiluntung dengan masalah ini. makidekat dengan skutu abadi CINA!

ridwan said...

Ulasannya sih bagus, tp jarang update

teguh irawana said...

semoga cepat terwujud masbro.dan mudah2an pemerintah kita lebih serius menanggapi hal ini

Bdmjag said...

Terlalu lamban dalam pengadaan alusista dan juga pemilihan alusista yg baek.
Seharusnya menentukan alusista yg sangat dibutuhkan yg paling utama dalam pengadaan.
Cth spt rudal yakhont,pertahanan darat & udara,s 300,pesawat tempur.
Itulah yg utama dibeli dgn teknologi canggih.
Disusul kapal selam kilo.
Saya rasa jika beli su 27/30 hanya 16 pasti rusia enggan TOT,tapi dgn sistem borong saya rasa mau.itulah yg harus diperhatikan pemimpin.
Alusista juga harus ditebar ke daerah perbatasan dan jgn bertumpu di pulau jawa saja,itu tdk baek.
Yg dipulau jawa cuma rudal s 300,yakhont saja saya rasa cukup disamping.

anonymous nationalism said...

Menurut saya pulau natuna sbg pulau terluar dan terdepan dr wil R.I. Tdk cukup dijaga oleh puluhan org, utk mempertahankan perlu dijaga oleh 3 matra sebanyak 2 kompi utk masing2 matra ditambah oleh Satuan setingkat kompi oleh kepolisian, perwakilan imigrasi dan bea cukai serta instansi terkait.lalu dipulau tsb dibuat waduk,sarana dan fasilitas pengolahan air laut menjadi air tawar, air hujan menjadi air layak konsumsi,8 unit helikopter serang dan serbu, 6 unit helikopter angkut, 8 unit pesawat tempur, 6 unit pesawat angkut, sel surya,alat komunikasi,radar militer, satelit darat,15 kapal perang yg terinstalasi dng yakhont dan 6 kapal patroli yg dipersenjai rudal,3 pesawat anti serangan kapal selam, 8 unit UAV yg dipersenjatai, MLRS Astros 2, S 300 sbnyak 20 unit, 25 panser tarantula, 300 unit spd motor trail utk kendaraan patroli darat, 15 lokasi bungker penyimpanan bbm dan logistik sembako, mskipun pulau kecil paling tdk menimbulkan kesan bhw indonesia tdk lg dpt diremehkan,dan akan berjuang sampai titik darah penghabisan.

Anonymous said...

Numpang tayakk mass broo ... Apakah pilitecer luar negeri bejing kerap merugikan bangsa indonesia ??????????? Tim tim ,ambalat ,papua tinggal menunggu giliran bakal di gasak ,siapa di belakang itu semua ?? Sebaik nya bamgsa indonesia jangan pernah melupakan masalu ,di bantu selagi susah enak sedikit lupa daratan hanya karna ambisi pribadi anak bangsa di korbankan .dari segi economi sekarang indonesia jadi menthor anak sekutu .spending hebat dengan asean " jadilah negara netral bukan babu barat .

Jomer said...

Memang pemimpin RI keterlaluan,pembangunan bertumpu pada pulau jawa sementara daerah penghasil devisa negara ditelantarkan.miris melihatnya.
Kalo setiap prov. Mau minta merdeka baru nyahoook.
Telmi semuanya....
Dan itulah celah bagi blok barat dan diimbangi dgn individu daerah tsb yg minta merdeka.
Salam pulau Sumatera