Saturday, May 14, 2011

Changbogo Diambang Pintu

Rusia tahun 2008, lewat Presiden Vladimir Putin waktu itu sudah memberikan kredit ekspor untuk pengadaan alutsista TNI sebesar US $ 1 Milyar, tiga perempatnya atau US $ 700 juta untuk pengadaan 2 kapal selam kelas Kilo. Arsenal yang lain sudah berdatangan antara lain senjata untuk Sukhoi batch 1, Tank Amphibi BMP-3F, rudal Yakhont, Heli tempur Mi17 dan Mi35.  Yang tak jadi pesawat tempur latih Yak-130, yang bakalan tak jadi ya 2 Kilo itu.  Sementara pembelian 6 Sukhoi batch 2 diluar pola kredit ekspor itu.

Lho kok bisa, ya itu lah perubahan cara pandang dan cara hitung.  Petinggi TNI sebagai user tentu ingin alutsista berkelas herder yang dengan kehadirannya saja sudah mampu membuat jiran berukur diri.  Kilo memenuhi kriteria itu.  Kilo adalah penamaan NATO untuk kapal selam made in Rusia yang dinegerinya sendiri dikenal dengan kode Project 877 Paltus.  Jenis tercanggih dari kelas Kilo dikenal dengan Improved Kilo diberi kode Project 636/Varshavyanka. Kilo jenis ini yang diminati banget sama TNI AL, dikenal sebagai kapal selam paling senyap di dunia. Bahkan petinggi militer Australia sudah mewanti-wanti dengan lantang, kehadiran Kilo di Indonesia tidak akan mampu ditandingi oleh “Collins” nya Australia termasuk seluruh arsenal amgkatan lautnya.

Nah dari sisi kegarangannya, Kilo menjadi pilihan TNI AL, ya untuk itu.  Kalau dengan kehadirannya saja sudah mampu menggentarkan jiran artinya secara psikologis kita sudah mampu menjaga kedaulatan perairan kita tanpa harus mengeluarkan ongkos diplomasi yang kadang-kadang membikin keki hati.  Ini sama dengan kehadiran Sukhoi di Makassar saat ini sudah mampu memberikan kebanggaan bagi penjaga kedaulatan dirgantara meski jumlahnya baru 10 unit.  Tahun ini direncanakan ada kontrak penambahan 6 unit Sukhoi lengkap dengan segala jenis arsenalnya lagi.  Sampai tahun 2014 TNI AU diprediksi mendapat 2 Skuadron Sukhoi (32 unit).

Cara pandang Pemerintah dalam program alutsista diyakini sebenarnya hendak meniru keberhasilan Korea Selatan dalam industri alutsistanya. Negeri ginseng ini dinilai berhasil dalam pengembangan persenjataannya. Hampir seluruh arsenal angkatan bersenjatanya diproduksi sendiri.  Contoh terakhir  adalah hadirnya Main Battle Tank Black Panther K2 yang segera menggantkan Tank M48 Patton yang jumlahnya mencapai 800 unit.  Proyek KFX kerjasama dengan Indonesia adalah untuk menggantikan armada F16nya yang saat ini menjadi tulang punggung AU Korsel.

Korea Selatan tidak pelit ilmu transfer teknologi.  Dia banyak menimba ilmu dan teknologi dari Barat dan ingin juga diamalkan bersama sahabat karibnya Indonesia.  Buktinya sudah banyak, 4 LPD yang terakhir, dua dibuat di Korsel dan sisanya sudah dibuat di PAL dan sukses dengan berbagai modifikasi.  Lalu ada kerjasama proyek pesawat tempur KFX.  Korsel juga berhasil menjual 16 pesawat tempur latih T50 beserta ToTnya kepada Indonesia mengalahkan saingannya Yak-130 dari Rusia.  Panser Canon yang dibuat Pindad merupakan kerjasama dengan  Korsel.  Overhaul dua kapal selam Indonesia dilakukan di Korsel, salah satunya KRI Nanggala diprediksi Juli nanti selesai dioverhaul.

Cara pandang Pemerintah adalah melihat horizon ke depan.  Bagaimana sepuluh tahun ke depan, bagaimana industri pertahanan kita, bagaimana kekuatan TNI kita pada saat itu.  Nah kalaupun pilihan pada Changbogo untuk kapal selam kita, horizon itu yang sejatinya hendak dituju.  Korsel bersedia untuk transfer teknologi dan itu akan diawali dengan pengadaan 4 kapal selam, mungkin saja polanya sama dengan LPD, 2 di Korsel dan 2 di PAL, atau ke empatnya dibuat di Korsel lalu untuk kapal selam ke 5,6 dan seterusnya dibuat di PAL.   Nah, dalam proses yang membutuhkan waktu bertahun-tahun itu pasti akan ada perkembangan teknologi yang diadopsi, diimplementasikan sesuai keinginan kita.

Sekedar catatan, tahun 1995 ketika aneka elektronik merk Samsung mulai memasuki pasar tanah air, hampir semua konsumen elektronik di Indonesia mencibir kehadiran produk itu, alias tidak dilirik blas.  Namun seiring perjalanan waktu 5 tahun setelahnya produk Korea mulai mampu mengambil hati masyarakat konsumen Indonesia, bahkan saat ini sebagian masyarakat kita gandrung dengan produk buatan Korea.

Bukan bermaksud membela visi government tetapi kita perlu mengedepankan cara pandang  horizon, bukan cara pandang kacamata kuda yang hanya membeli, memakai, membuang lalu beli again.  Kita perlu tahu juga dong bagaimana cara membuatnya walaupun tidak harus membuat seluruh komponennya untuk menumbuhkan indusri hankam kita.  Ini harus dimulai dari sekarang. Proyek PKR Light Fregat sudah dimulai kerjasama dengan Belanda yang akan membangun 10 kapal perusak kawal rudal.  Seluruh pengerjaan Kapal Cepat Rudal (KCR) sudah mampu dibuat di dalam negeri.  Proyek rudal C802 / C705 dengan China sudah dimulai termasuk rudal surface to surface Pindad-Lapan yang berjarak tembak 300 km.

Titik genting dari cara pandang ini ada pada pergantian rezim. Tahun 2014 dipastikan akan terjadi perubahan kepemimpinan. Repotnya adalah pola kepemimpinan pasca SBY tidak sama dengan visi kemandirian alutsista yang sudah diimplementasikan.  Padahal tahun 2014 kemandirian alutsista masih balita yang harus terus dipupuk dan dikembangkan.  Jangan sampai ketika sedang tumbuh mekar lalu “dibunuh” secara sistematis seperti ketika kita akan mengembangkan pesawat N250 yang harus almarhum pada usia balita.

Okelah, Changbogo mungkin saat ini masih dianggap anjing kampung di kelasnya, bukan herder sebagaimana gonggongan Kilo. Tapi jangan lupa perkembangan teknologi mampu mengangkat kelas anjing kampung tadi menjadi sekelas herder atau bahkan sekelas srigala.  Kan mirip produk Samsung tahun 1995 yang dipandang sebelah mata tapi sekarang malah dicari orang.  Kita juga tak ingin ketergantungan alutsista pada satu negara saja, maka bisa kita saksikan saat ini menu gado-gado alutsista kita.  Ada Van Speijk dipasang Yakhont, ada KCR pakai C802, ada Sigma, ada Sukhoi, ada F16 ada Hawk, ada Scorpion ada BMP3F, ada juga Anoa.  Macam-macam rasanya, macam-macam pedasnya.

Pilihan terhadap Changbogo mungkin terasa kurang pedas atau kurang garam bagi TNI AL saat ini, tetapi ramuan lombok ijo atau cabe hijau atau garam teknologi diyakini akan mampu menjadikan Changbogo kelak setara dengan srigala apalagi jika transfer teknologi itu benar-benar dikuasai oleh putra-putri Indonesia.   Semoga Allah SWT meridhoi perjalanan bangsa ini,-
********
Jagvane / 13Mei 2011

2 comments:

namarappuccino said...

saya secara pribadi juga setuju pilihan kepada changbogo meski kalau disuruh memilih pasti lebih memilih kilo. Kita harus memandang jauh ke depan. Agar pelan-pelan tidak tergantung lagi kepada negara lain.

Anonymous said...

Saya kurang setuju dengan KS changbogo dr korsel, klo cuma karna ToT aja, klo mau ToT knapa gak langsung ke negara pencetusnya langsung jerman,..dan klo untuk pertahanan mendesak saya lebih setuju KS kilo yang sudah terbukti kehandalannya, senyap di dalam samudra menjadi hantu laut bagi musuh2 yg mengancam NKRI.