Saturday, September 14, 2019

Latgab TNI 2019, Menuju Pertempuran Digital


Luar biasa. Itulah kesan yang didapat dari perhelatan akbar TNI yang melaksanakan latihan perang gabungan tiga angkatan selama sepekan yang berakhir 12 September 2019 di sepanjang pantai utara Situbondo sampai Banyuwangi Jawa Timur. Simulasi pertempuran melibatkan belasan ribu prajurit dan ratusan alutsista canggih berbagai jenis yang dimiliki TNI.

Melalui jaringan digital battle management system untuk TNI AD dan network centric untuk TNI AL dan TNI AU jalannya simulasi pertempuran benar-benar terkoordinasi dalam satu komando.  Ketika menuju daerah pertempuran konvoi armada TNI AL yang berjumlah 23 KRI dan 1 kapal selam dihadang kapal perang musuh. KRI Sultan Iskandar Muda 367 mengeluarkan senjata canggihnya, peluru kendali anti kapal Exocet MM40 blok 3. Kemudian dari jarak 70 km kapal perang “musuh” KRI Sambu 902 yang baru dipensiun berhasil ditenggelamkan.
Apache dan Mi35, kombinasi yang menggerunkan
Pengerahan 1 skadron sekaligus jet tempur F16 (16 unit) merupakan hal yang luar biasa. Bersama 6 jet tempur Sukhoi SU27/30, 6 jet tempur Golden Eagle, 4 jet tempur Hawk dan 6 pesawat coin Super Tucano melakukan pengeboman bertubi-tubi terhadap sasaran musuh di pusat latihan tempur Marinir di Situbondo.  Belum lagi peran besar pesawat nirawak CH4 Rainbow yang baru didatangkan dari China untuk pengintaian dan sekaligus menghancurkan sasaran karena membawa persenjataan rudal.

Serial latihan tempur dilanjut dengan pendaratan pasukan Marinir, sebuah episode pertempuran yang paling menentukan. Pasukan serbu pantai ini membawa tank amfibi BMP3F, MLRS Vampire, panser amfibi BTR-50 dan sejumlah alutsista pemukul untuk merebut tumpuan pantai.  Dilanjut dengan pendaratan pasukan kavaleri, artileri dan infantri TNI AD bersama berbagai jenis alutsista canggih seperti tank Leopard, MLRS Astross II Mk6, Artileri Caesar Nexter.

Sebelum Latgab TNI 2019, didahului dengan latihan perang intra matra sepanjang Juli dan Agustus 2019. TNI AL melakukan latihan Armada Jaya (AYA) di Laut Jawa, kemudian diikuti dengan TNI AU yang menggelar latihan Angkasa Yuda (AYU) di Lumajang. TNI AD menggelar Kartika Yudha di Pusat Latihan Tempur Baturaja di bulan Agustus 2019. 

Unjuk kebolehan diperlihatkan helikopter serbu Apache dengan menembakkan peluru kendali Apache di ajang Kartika Yudha, kemudian dilanjut dengan Garuda Shield dan terakhir di arena Latgab TNI 2019. Tak mau kalah helikopter serbu jenis lain Mi35 juga menunjukkan kelasnya. Jadi kita bisa saksikan kompetisi Apache buatan AS dan Mi35 buatan Rusia di ajang Latgab TN 2019.  Luar biasa.
Armada Hercules, luar biasa
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto merasa puas dan bangga karena ini pertama kali TNI menggelar simulasi latihan perang melalui teknologi digital.  TNI AD, kata beliau punya battle management system, demikian juga dengan TNI AL dan TNI AU punya network centric.  Meski belum sempurna Panglima TNI menyampaikan pesan jelas bahwa mulai tahun 2020 TNI sudah masuk era digital dalam manajemen sistem pertempuran.

TNI AU selain mengerahkan jet-jet tempurnya juga mengerahkan 12 pesawat angkut berat Hercules, 1 pesawat Hercules Tanker BBM, 4 pesawat CN 295, 3 Boeing 737 Intai Strategis, 2 UAV Aerostar, 4 Helikopter ECc725, 1 Helikopter Collibri, 2 pesawat C212. Secara hitung-hitungan ada sepertiga kekuatan TNI dikerahkan dalam Latgab terbesar tahun ini.

Perolehan alutsista yang didapat sejauh ini sudah memberikan nilai bangga meski secara kuantitas dan kualitas masih belum sampai pada persyaratan minimal.  Masih ada MEF jilid III yang dimulai tahun depan.  Dan tentu masih akan datang berbagai jenis alutsista yang dinantikan seperti 11 jet tempur Sukhoi SU35.

Program pengadaan jet tempur F16 Viper, pesawat angkut Hercules seri J, helikopter Apache, helikopter Chinook, kapal perang Fregat, kapal selam, kapal cepat rudal, peluru kendali SAM, radar Master T, MLRS Astross dan lain-lain dipastikan akan semakin memperkuat benteng pertahanan kita.

Catatan kita adalah jangan terlalu sering mengadakan latihan tempur di Situbondo.  Sekali-kali di rute terjauh, misalnya di Papua.  Sekalian untuk menguji endurance pasukan dan daya tahan alutsista.  Perjalanan panjang menuju Papua tentu menjadi nilai tambah utamanya bagaimana peran logistik, pengawalan konvoi dan peran tempur sepanjang perjalanan.

Sejalan dengan itu Armada Tiga yang berpusat di Sorong perlu dipercepat isian alutsista berupa KRI striking force dan LST termasuk pasukan Marinir dan tank amfibi. Skadron tempur di Biak dan skadron helikopter di Jayapura segera direalisasikan.  Kita berpacu dengan waktu untuk memperkuat militer secara permanen di Timur negeri ini.

Bukan apa-apa, dalam strategi militer jarak yang terlalu jauh ke Papua, misalnya dari Surabaya tentu tidak efektif. Maka Armada Tiga dan Kostrad Divisi Tiga memegang peran penting untuk menjaga stabilitas pertahanan di Timur.  Melebarkan sayap pertahanan seiring dengan pengembangan teknologi pertempuran berkarakter digital adalah kewajiban mutlak untuk marwah pertahanan negeri kepulauan terbesar di dunia ini.  Kita bisa dan kita mampu.

****
Jagarin Pane / Surabaya, 14 September 2019
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI