Friday, October 5, 2018

Tahun Ini Sederhana Saja

Siapa yang tak kenal kewibawaan 5 Oktober. Tanggal keramat bagi tentara perjuang, tentara petarung dan tentara kemanusiaan. Banyak pertanyaan mengapa tanggal 5 Oktober tahun ini perayaan hari jadi TNI tidak terdengar gegap gempita sebagaimana tahun yang lalu. Tahun ini peringatan itu dilaksanakan secara sederhana, tidak seperti tahun kemarin yang sangat meriah. TNI mengambil kebijakan untuk memperingati ulang tahunnya setiap dua tahun sekali dengan menggelar kekuatan.

Sebuah kebijakan yang cukup “rendah hati” lho, karena sesungguhnya menggelar parade militer itu bukan perkara sederhana.  Tahun kemarin di pantai Indah Kiat Cilegon Banten kita bisa saksikan kekuatan otot TNI yang luar biasa dipertontonkan kepada khalayak. Seluruh matra TNI menggelar kekuatan secara spektakuler termasuk menggelar simulasi pertempuran dihadapan Presiden Jokowi. Luar biasa.
12 Hercules menjadi jembatan udara ke Palu
Tahun ini peringatan HUT tentara republik dipusatkan di Merauke secara sederhana. Bersamaan dengan itu TNI saat ini sedang menggelar kekuatan militer untuk operasi militer selain perang (OMSP) di Lombok dan Palu.  TNI AL mengerahkan  8 KRI termasuk kapal rumah sakit KRI Soeharso 990, sejumlah LPD dan pasukan Marinir untuk Palu. 

TNI AU yang kebagian tugas sebagai jembatan udara mengerahkan 12 pesawat Hercules, 5 pesawat CN295, 2 pesawat CN 235, 4 pesawat Boeing dan 2 helikopter combat SAR.  TNI AD mengerahkan batalyon-batalyon Raider. Tentara-tentara petarung ini menjadi tentara kemanusiaan yang terlatih dan tahan uji. Inilah operasi militer selain perang terbesar selama empat belas tahun terakhir sejak Tsunami Aceh tahun 2004.

Sejumlah alutsista yang dikerahkan menunjukkan TNI mampu “mengelola” situasi bencana Palu yang panik, kisruh dan menjurus chaos menjadi terkendali dan berangsur tenang. Pasukan reaksi cepat bergerak bergegas menuju daerah bencana. Membangun posko, mengirim ratusan ton suplay bantuan untuk saudara kita yang terkena musibah. Ini sebuah prestasi bagus yang dibangun dengan kerjasama dan kordinasi antar institusi.
KRI Soeharso 990 dikerahkan ke Palu
Cukup tersedianya sejumlah alutsista untuk penanggulangan bencana alam Palu menunjukkan nilai kegunaan tak terbantahkan akan pentingnya memperkuat alutsista TNI. Selama delapan tahun terakhir ini pemerintah melakukan terobosan besar dengan membangun kekuatan militer secara sistematis lewat program MEF (Minimum Essential Force).  Hasilnya bisa kita rasakan ketika bencana Palu terjadi didepan mata. 

Bandingkan ketika ada bencana alam di Aceh tahun 2004, kekuatan alutsista yang dikerahkan tidak bisa sebesar ini karena memang kita belum punya sebanyak ini. Maka sebagaimana pernah berulang-ulang dikatakan Menhan Ryamizard, bahwa perkuatan alutsista kita salah satu tujuannya adalah untuk penanggulangan bencana alam.  Terbukti sekarang.

Kita masih ada di MEF jilid dua (2015-2019).  Perkuatan alutsista kita sudah menunjukkan hasil cemerlang tetapi kita tidak boleh berpuas diri.  Karena sesungguhnya jika dibanding dengan luasnya wilayah dan posisi geostrategis negeri ini kita masih harus membangun kekuatan militer secara terus menerus dengan anggaran yang diperbesar.

Ketika Menhan Ryamizard berkunjung ke Pentagon baru-baru ini dan berkeinginan membeli sejumlah alutsista dari AS seperti pesawat Hercules seri J dan helikopter Chinook, kita sangat mengapresiasi. Kita masih membutuhkan lebih banyak Hercules.  Harus ada penambahan 1 skadron lagi dari yang ada sekarang sebanyak 2 skadron menjadi 3 skadron Hercules.

Bencana alam yang spektakuler di Palu adalah “manfaat terindah” dari diperkuatnya militer kita selama delapan tahun terakhir. Jadi jika ada yang masih gembar-gembor tidak penting-penting amat memperkuat militer, kita suruh aja dia terjun ke Petobo. Sejatinya dengan perkuatan alutsista sampai saat ini, TNI mampu melaksanakan operasi militer selain perang di 2 hot spot yang berbeda.  Lombok dan Palu contohnya.

Maka peringatan 5 Oktober tahun ini dengan kesederhanaannya, akan terasa getaran tentara petarung dan tentara pejuang menjadi tentara kemanusiaan yang berdedikasi.  Melaksanakan operasi kemanusiaan skala besar di Sulawesi tengah. Itulah salah satu fungsi TNI sesuai dengan Undang Undang TNI. Tentara yang darma baktinya kepada negara adalah segala-galanya, telah membuktikan peran besarnya di Lombok dan Palu.

Happy Milad TNI, semoga Allah selalu menjaga negeri ini. Allahummah fazh Indonesia.  Allahummaj’al baldatanaa Indonesia, ma’murotan bi thoatin biwa’zil ulamaa. Ya Allah jagalah negara kami Indonesia, Ya Allah jadikanlah negeri kami Indonesia makmur dengan ketaatan berkat mauidhoh para Ulama. Amin.
****
Semarang 5 Oktober 2018
Jagarin Pane

8 comments:

Mat Rempit said...

Selamat HUT TNI ke-73

Enha Wahyudi said...

Aamiin ya Allah...

Unknown said...

Aamiin Yaa Allah...

Unknown said...

Dirgahayu TNI

Unknown said...

Dirgahayu tni.smga tmbh jaya trus brjuang dgn rakyat

Bolodewo said...

Aminnnn yaa robalAlaminnnn

Bolodewo said...

Aminnnn yaa robalAlaminnnn

Bolodewo said...

Aminnnn yaa robalAlaminnnn