Sunday, March 5, 2017

Menjaga Harmoni Komunikasi Relasi Publik

Adalah sebuah dagelan ketika seorang petinggi Kemhan melempar pernyataan ketidaktahuannya soal pengadaan Helikopter Agusta Westland AW101 yang dibeli dari Inggris. Di forum Komisi I DPR belum lama berselang  Menhan dan Panglima TNI menyatakan soal ketidaktahuan masing-masing mengenai pengadaan Helikopter bagus itu. Dalam harmoni komunikasi relasi publik ini mestinya tidak boleh terjadi sehingga masyarakat jadi bertanya ada apa gerangan.

Dalam proses pengadaan alutsista banyak hal yang publik merasa tak terduga. Contohnya APC Bushmaster dari Australia, APC M113 dari Belgia tiba-tiba berdatangan begitu saja. Kita pun baru mengetahui jika ternyata kita mau beli 4 pesawat angkut berat A400M dari media asing sementara media nasional kita tidak diberi informasi apapun, bahkan Panglima TNI saja tidak tahu. Proses pengadaan yang terukur informasinya adalah pengadaan tank Leopard, Astross Mk6, artileri Caesar Nexter, artileri KH178, KH179, kapal selam Changbogo, jet tempur F16, jet latih T50, sejumlah radar.  Itu semua adalah program yang dirancang oleh Kemhan periode lalu.

Helikopter AW101, datang juga akhirnya
Anggaran yang dikucurkan untuk Kementerian Pertahanan adalah yang terbesar bahkan pada tahun-tahun mendatang akan semakin besar lagi.  Kita membutuhkan kekuatan pertahanan yang berteknologi untuk menjaga negeri kepulauan yang luas ini.  Masih banyak yang harus dipenuhi, masih banyak alutsista yang harus didatangkan dan itu berarti masih banyak yang harus dianggarkan untuk memenuhi kebutuhan pertahanan. Alhamdulillah pemerintah kita sudah sadar diri bahwa membangun pertahanan tidak berkorelasi dengan kemajuan ekonomi. Jadi sama-sama lah diperkuat.

Sejalan dengan itu sangat pantas jika Kemhan mampu membahasakan program-program pembangunan kekuatan pertahanan negeri kepada media dalam negeri yang kemudian menyampaikan kepada rakyat pemilik republik. Lebih penting dari itu menjaga harmoni komunikasi relasi publik dengan pemangku kepentingan seperti Kementerian Keuangan, Bapenas, TNI, Industri pertahanan dan masyarakat luas pecinta republik.

Kita ingin menggaris bawahi bahwa salah satu ketidakharmonian komunikasi di Kemhan adalah membahasakan program dengan pernyataan yang jelas dan tegas.  Kita merasa tidak mendapat informasi maksimal dari Kemhan. Tiba-tiba ada release dari SIPRI tentang shopping list alutsista kita. Tiba-tiba ada berita dari Janes kita mau beli A400M  sementara Sukhoi SU35 yang sudah dibahasakan berulang kali mau dibeli tak jua sampai pada kalimat kontrak. Dampaknya ada skadron tempur yang non aktif karena tidak ada aktivitas apapun karena pesawat lamanya sudah grounded.

Pesawat angkut A400M, mau beli 4 biji katanya
Kalau soal pengadaan alutsista kita tidak perlu berdalih rahasia negara. Informasi pengadaan alutsista itu justru akan memberikan  rasa bangga bagi anak negeri dan sekaligus penambah semangat bagi prajurit TNI. Negara tetangga yang mendapat informasi ini tentu akan berhitung ulang sehingga tidak mudah melecehkan teritori NKRI seperti yang pernah terjadi.  Misal Singapura mau beli sejumlah F35 tidak ada tuh rahasia-rahasiaan. Semua dibuka ke publik. Warga Singapura bangga, negara tetangga pun menghormati kedaulatannya. Yang menjadi bingkai kerahasiaan itu adalah gelaran operasi militer, deploy alutsista dan pasukan, metode tempur interoperability.

Kita menyambut gembira ketika KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto baru-baru ini memberikan pernyataan bahwa TNI AU akan membeli sejumlah jet tempur sergap, akan mendatangkan sejumlah peluru kendali jarak sedang, radar, helikopter dan meningkatkan kemampuan 15 jet T50 dengan radar dan rudal. Kita juga senang dengan pernyataan beliau soal Helikopter AW101, yang kalau diurut-urut jelas Kemhan tahu jalan cerita pengadaannya.  Dengan cerita ini kita pun tahu anatomi operasional PT DI kita yang sampai saat ini memang belum bisa buat Helikopter. Bandingkan dengan saudaranya yang lain Pindad dan PT PAL yang sudah membuktikan hasil karyanya secara elegan dan bermanfaat.

Kita juga bergembira ketika ada berita bahwa 5 jet tempur F16 Blok52 Id akan datang bulan ini, kemudian 1 kapal selam baru dan modern akan tiba bulan April nanti.  Kita ikut bangga manakala PT PAL selesai membangun infrastruktur kapal selam dan siap untuk memulai pembangunan kapal selam ketiga dan seterusnya dari produk kerjasama transfer teknologi dengan Korsel. Kita bangga dengan PT PAL yang sudah bisa buat kapal perang jenis LPD, Korvet, KCR dan sebentar lagi kapal selam.

Tapi kita juga tersentak begitu mendengar berita seorang Brigjen TNI divonis hukuman seumur hidup dan dipecat dari TNI karena korupsi US$ 12 Juta dalam proses pengadaan alutsista Helikopter Apache dan F16 meski kita meyakini bahwa perbuatan itu tidak dilakukan sendiri. Ini adalah contoh bagaimana kuatnya godaan di sebuah kementerian yang punya anggaran terbesar tapi belum pernah disentuh KPK karena undang-undangnya belum memungkinkan.
F16, datang lagi 5 unit bulan ini
Negeri ini sedang berbenah banget. Infrastruktur diperhebat dimana-mana agar konektivitas sudut republik bisa terjalin dengan mulus. Ada Tol darat ada Tol laut. Bandara, Pelabuhan Laut ditambah dan ditingkatkan kapasitasnya. Demikian juga dengan pembangunan militer kita.  Semua sedang diperkuat, Armada TNI AL ditambah, Pasmar ditambah, Kostrad ditambah semuanya menjadi 3 divisi.  Pangkalan Natuna dibangun besar-besaran, Kesatrian dipercantik, alutsista baru datang terus menerus.  Kita pesan lagi, barang pesanan lama datang, begitu terus silih berganti. 

Itu semua memerlukan manajemen komunikasi yang apik, harmoni diantara semua pihak yang berkepentingan. Kemhan adalah pintu utamanya.  Oleh karena itu harmoni dalam komunikasi dengan relasi publik media dalam negeri dan masyarakat perlu dipercantik dan diutamakan. Jangan sampai media luar negeri yang mendapatkan infonya lalu kita saling bertanya satu sama lain.  Semoga dengan itu Kemhan akan semakin bersinar cahayanya di mata masyarakat. Kita ingin militer kita kuat, setara dengan negara sekitar sehingga marwah dan kewibawaan teritori bisa mengalir di kawasan sekitar. Amanah itu ada di Kemhan, maka model harmoni komunikasi dan koordinasinya semoga bisa fathonah, itu saja harapan kita.
****
Jagarin Pane / 05 Maret 2017


5 comments:

Anonymous said...

adanya alutsista yg tiba2 datang tanpa terprogram dalam MEF, menunjukkan :
1. adanya pihak yg ingin mendesain munculnya kekacauan sistem pertahanan indonesia scr keseluruhan;
2. adanya garong2 berseragam yg ingin memanipulasi dana pengadaan alutsista dg memanfaatkan sifat "kerahasiaan" utk kepentingan pribadi atau golongannya, terbukti berapa byk alutsista yg mestinya bukan rahasia, tiba2 bikin heboh publik;
3. sbg orang dipelosok desa mencermati bbrp tanda bhw alutsista/sistem alutsista TNI nampak sengaja dibikin lemah, lemahnya dibuat oleh orang dalam sendiri entah utk pribadi ataupun utk kepentingan asing;
4. Pengambil keputusan strategis pengadaan alutsista terkesan tidak praktis, tidak efektip, tidak efesien dan nampak penuh keraguan; inilah kesan yg muncul di publik pelosok desa;
5. Pengambil keputusan seakan-akan mengabaikan kepuasan masyarakat sendiri sbg pembayar pajak.

Anonymous said...

mudah2an saja tdk terlambat menyikapi proxy-proxy yg ada; ada proxy yg paling berbahaya yaitu proxy untung De Saku

Arul Al Gilfahri said...

Gk smua harus di publikasikan,
Krna itu sifat nya pertahan negara,,,gk usah somay deh,,

Muhammad Habibul musthofa said...

Asal Jangan beli Bekas trus dirahasiakan

Anonymous said...

Pembelian Alutsista macam apa yg gak harus dipublikasikan ?