Wednesday, November 30, 2016

Alutsista Kita, Pesan Datang Silih Berganti

Perjalanan memperkuat militer Indonesia terus menggeliat tanpa henti. Komitmen dan konsistensi pengelola negeri ini bersama seluruh rakyatnya adalah menyetarakan kekuatan militernya dengan kehebatan sumber daya alamnya, luas wilayahnya, sumber daya manusianya dan posisi geostrategis yang harus dikawal bersama perjalanan eksistensi bernegara. Dengan itu maka kita akan terus melihat alutsista-alutsista anyar berdatangan ke negeri kepulauan nan elok ini.

Militer Indonesia tidak lagi terhalang kesulitan anggaran untuk memantapkan profesionalitas jati dirinya. Kita lihat barusan di Natuna dengan latihan militer besar-besaran yang berkelanjutan.  TNI AU menggelar latihan tempur skala besar disana demikian juga dengan TNI AD sepanjang Oktober dan Nopember tahun ini. Berbagai jenis alutsista canggih diperlihatkan, diuji tembak dalam model pertempuran modern. Simulasi yang membanggakan.

Pangkalan-pangkalan militer perbatasan diperkuat.  Natuna dalam dua tahun ke depan sudah menjadi pangkalan militer besar segala matra. Di Teluk Palu sedang dibangun pangkalan kapal selam, di Tarakan dibangun pangkalan AU dan AL yang bersinergi satu sama lain. Di Kupang juga menjadi pangkalan jet tempur TNI AU bersama pembangunan batalyon kavaleri dan batalyon arhanud. Di Papua Barat dan Sulawesi Utara dibentuk Kodam baru.
Uji tembak MLRS Astross II Mk6
Di Sorong sedang dibangun pangkalan induk TNI AL untuk armada timur.  Di Makassar sudah dibentuk satuan kapal cepat armada timur untuk respons cepat kejadian tak terduga di laut. Ini mencontoh satuan kapal cepat armada barat yang sudah eksis lebih dahulu dan mampu menjalankan perannya untuk meminimalkan perompakan dan insiden di laut. Jumlah kapal perang permukaan terus ditambah baik yang berpredikat KRI maupun KAL.

Setelah menambah 2 kapal perang jenis PKR10514 yaitu KRI Raden Edy Martadinata 331 dan KRI  I Gusti Ngurah Ray 332, TNI AL kembali memesan 2 kapal perang sejenis. Sementara PT PAL saat ini sedang menyelesaikan pembangunan galangan kapal selam modern karena adanya transfer teknologi pembuatan kapal selam dengan Korsel. Bulan Februari 2017 nanti modul kapal selam ketiga “Nagapasa Class” akan dirakit dan diselesaikan di PAL. Kemudian kapal selam keempat dan seterusnya akan dibuat di PAL. 

Sebagaimana disampaikan Menhan Ryamizard baru-baru ini Indonesia akan membangun 10 kapal selam modern untuk menjaga teritori lautnya. Jika teknologi kapal selam sudah dikuasai dengan membangun sendiri kapal selam ke empat dan seterusnya maka lengkap sudah PT PAL menguasai seluruh teknologi kapal perang mulai dari KCR 60m, PKR 10514, LPD dan kapal selam. Ini kemajuan yang luar biasa.

Jet tempur F16, bersiap patroli udara
Demikian juga Pindad sudah mampu membuat panser Anoa sampai 300 unit, Panser Badak 50 unit. Akan semakin sempurna jika proyek medium tank bisa diselesaikan tahun depan.  PT DI tak mau ketinggalan meski agak kedodoran dan berselisih dengan relasi user utamanya TNI AU. Jika proyek jet tempur KFX/IFX kerjasama dengan Korsel sukses maka kehebatan industri pertahanan kita sudah setara dengan negara lain dan paling lengkap.

Proyek pembangunan militer kita yang didukung anggaran militer terbesar mulai tahun 2017 akan menghasilkan hadirnya ragam alutsista anyar. Daftar belanja yang diprediksi akan diorder tahun 2017 antara lain paket alutsista peluru kendali darat ke udara (SAM) jarak sedang, jet tempur Sukhoi SU35, kapal selam mini 22m, tank amfibi BMP3F, tank Pindad-FNSS, tank boat X18, panser Pandur II 8x8, ranpur Sanca, UAV, radar, kapal selam.

Sementara berbagai alutsista yang diprediksi datang tahun 2017 adalah 2 kapal selam jenis Changbogo, 2 kapal perang PKR 10514, 2 kapal cepat rudal 60m, 8 kapal patroli cepat, 2 kapal perang LST, 4 helikopter Apache, 4 helikopter Fennec, 4 helikopter Combat EC725 Cougar, 6 helikopter anti kapal selam Panther, 4 RM70 Vampire, 50 panser Badak,  20 artileri LG1 MkIII Nexter, sistem peluncur dan rudal Starstreak, 3 radar militer, 20 MBT Leopard, 2 kapal LCU, 9 jet tempur F16 blok52.

Leopard di Natuna, ada kebanggaan disitu
Fokus pengembangan industri pertahanan dalam negeri mendatang adalah mendalami dan menguasai teknologi alutsista modern dengan tujuh proyek strategis yaitu teknologi propelan,roket, rudal, medium tank, radar, kapal selam dan jet tempur.  Ini pekerjaan besar yang secara substansi sudah berjalan dengan baik sampai saat ini. Kita meyakini tidak lama lagi Indonesia akan memiliki industri pertahanan nasional yang mampu mensuplai kebutuhan alutsista strategis yang dibutuhkan militernya.

Semua berpacu dengan waktu. Negara pengklaim Laut Cina Selatan sedang giat membangun pangkalan militer di wilayah klaimnya. Persinggungan teritori dengan kita jelas ada karena masing-masing menggunakan ZEE sebagai titik ukur untuk eksploitasi sumber daya alam di laut kaya itu.  Itulah sebabnya mengapa kita membangun pangkalan militer besar di Natuna. Kita tidak ingin negara lain melecehkan teritori kita.  Demikian juga di kawasan perbatasan lain di negeri ini dipasang mata dan telinga berikut alat pukulnya.

Wajar dong diperkuat karena kehebatan negeri ini dengan sumber daya alamnya baik di laut dan di darat. Populasi penduduknya yang besar tentu harus mendapatkan perlindungan dan jaminan suplai logistik. Posisi geostrategis mewajibkan negeri ini memperkuat militernya sebagai jaminan kelangsungan perjalanan berbangsa. Jadi modernisasi tentara dengan alutsista berteknologi terkini adalah untuk memastikan kekuatan daya tahan,daya tangkal serta daya pukul.  Negeri ini harus punya militer yang setara dengan kehebatan sumber daya alam dan sumber daya manusianya.
****
Jagarin Pane / 30 Nop 2016 

3 comments:

misbah Ice said...

Ada yg terlupakan ya.... KRI Bima Suci Pembangunan kapal itu dijadwalkan selesai pada Mei 2017. Direncanakan tiba di Indonesia pada Agustus 2017.

misbah Ice said...
This comment has been removed by the author.
Yuniarko Endrawan said...

Sekedar sharing bung...

Saya rasa masih ada yang kurang diperhatikan oleh decision maker Negeri ini, yaitu : Rudal...terutama SAM

Kita masih berkutat di SHORAD, seperti Starsrtreak dan Mistral yang "hanya" mengcover daerah seluas 200 km2.

Pembelian medium range (co: NASAM) masih wacana, apalagi long range. Padahal situasi konflik (LCS) terus memanas. Proyek rudal nasional (RX 300 dst) masih jauh dari kesiapan operasional.

Penggelaran rudal terbukti bisa mengubah situasi, seperti contoh: penggelaran rudal Patriot di Korea Selatan & S400 di Suriah.

Mudah2an bisa menjadi perhatian...