Wednesday, February 4, 2015

Detik-Detik Memilih Jet Tempur



Pertarungan memperebutkan pasar jet tempur yang dibuka Indonesia semakin seru saja terutama sejak Amerika Serikat mengambil sikap serius untuk ikut meramaikan pasar alutsista jet tempur dengan satu pembeli, Indonesia. Sejak lama digadang-gadang bahwa jet tempur Sukhoi SU35 menjadi pilihan utama karena memiliki nilai debar dan getar yang membahana.  Disamping itu untuk lebih memperkuat satuan alutsista Sukhoi yang sudah dimiliki Indonesia yaitu dari jenis SU27 dan SU30.

Pilihan terhadap Sukhoi SU35 dianggap memadai sebagai jawaban atas kedatangan jet tempur siluman F35 di Singapura dan Australia dalam waktu dekat.  Memilih SU35 adalah dalam upaya menuju kesetaraan teknologi tempur udara.  Menjaga wilayah udara RI yang luas, memang perlu jet tempur kelas berat, berteknologi tinggi dengan daya jelajah ribuan kilometer. Jika kita memilih dengan kebeningan nurani, tidak ada pembisik dan kecerdasan cara pandang maka sudah tentu Sukhoi SU35 memang pantas mengisi ruang udara negeri ini.

Manuver Sukhoi SU35
Pesaing Rusia yang perlu diawasi ketat oleh sales dan marketer Sukhoi adalah AS yang menawarkan jet tempur F16 blok 60.  Marketing F16 tentu sangat lihai memainkan kartu tawar dan boleh jadi bisa menyalip di tikungan akhir grand prix jet tempur.  Kita sudah akrab dengan jet tempur F16 sejak era akhir tahun delapan puluhan. Sakit hatinya kita terhadap alutsista AS dan sekutunya adalah pil pahit embargo satu dekade yang lalu.  Mestinya kita harus mengambil pengalaman itu sebagai bagian dari analisis kurang lebih yang menjadi tolok ukur penawaran dan keputusan membeli.

Sesungguhnya teknologi Sukhoi adalah “mata rantai” yang terputus yang tidak bisa masuk dalam bingkai pantauan dan remote barat.  Contoh dekatnya ketika kita diundang untuk membawa Sukhoi ke Pitch Black di Australia beberapa tahun lalu, pesta penyambutan khusus untuk tamu yang bernama Sukhoi sangat luar biasa, diikuti “rekam jejaknya” sejak masuk perairan Darwin.  Mereka haus dengan informasi dan postur Sukhoi.  Segala manuver diamati ketat termasuk dalam seri-seri latihan tempur di even yang diikuti AS dan Singapura itu.  Jangan lupa mesti sifatnya latihan sesungguhnya shohibul bait sedang mengintip ketangguhan sekaligus kelemahan pesawat tempur Sukhoi untuk kemudian disimpan dalam bank data militer Australia.

Makanya mata rantai yang terputus itu justru menjadi kelebihan jika kita memilih Sukhoi. Paling tidak membuat rasa penasaran dan menebak-nebak kehebatan dan kelemahan teknologi Sukhoi terkini, sudah menjadi beban pikiran ahli strategi militer negara sekutu. Sebaliknya jika kita memilih F16 atau teknologi barat jelas “rekam jejaknya” bahkan remotenya sudah tersimpan di bank data militer AS.  Kita perlu menambah kuantitas dan kualitas jet tempur Sukhoi, kalau hanya berharap dari 1 skuadron yang dimiliki saat ini jelas masih kurang.

3 F16 blok 52 Id dari pesanan 24 jet tempur
Tetapi sesungguhnya kita  bukan hanya sedang berupaya mengganti jet tempur F-5 Tiger.  Dalam MEF 2 ini sesungguhnya kita masih perlu penambahan minimal 2 skuadron tempur diluar penggantian itu.  Maka kalau melihat dari urutan kebutuhan skuadron tempur itu ada peluang untuk mengisi 3 skuadron.  Oleh sebab itu jika memang ingin penyederhanaan “merek”  alutsista ambil saja kedua-duanya, Sukhoi SU35 dan F16 blok 60.  Sehingga nantinya kombinasi akhir kompetisi MEF2 kekuatan TNI AU dengan  2 skuadron Sukhoi family dan 4 skuadron F16 beserta skuadron tempur lainnya.

Rusia adalah sahabat kita, sementara AS juga demikian meski lebih suka mendikte. Tapi kalau mau jujur sesungguhnya AS banyak membantu kita terutama dalam bidang kemanusiaan dan bencana alam.  Kalau kita ingin bermain cantik maka gaulilah keduanya dengan cerdas sementara dengan Cina mulailah pasang kuda-kuda secara militer meski secara diplomasi tetap harus pasang muka senyum.  Arogansi militer Cina di Laut Cina Selatan semakin hari semakin membuat kita antipati dan sekaligus waspada.  Meski saat ini kita netral tapi bisa saja demi solidaritas ASEAN kita harus memilih kawan yang sebenarnya.

Dalam rangka berhadapan dengan Cina itulah kita harus memperkuat AL dan AU kita.  Pilihan terhadap Sukhoi dan F16 adalah penggambaran sikap tidak harus setia pada satu hati  tetapi juga dalam rangka penyederhanaan jenis pesawat.  Itu sebabnya kita tidak memasukkan Gripen dan Typhoon dalam analisis  ini karena penyederhanaan merek dan pengalaman memakai 2 jet tempur Sukhoi dan F16 tentu menjadi nilai tambah keduanya.  Tetapi sekali lagi bisa saja Gripen dan Typhoon yang memenangi pertarungan ini di putaran akhir. Semua tergantung siapa yang membawanya, siapa yang dibelakangnya, siapa negara dibelakangnya, dan siapa yang mampu meyakinkan.  Dan yang diyakinkan yakin seyakin-yakinnya bukan yakin karena ada yang mau diyakinkan.
****
Jagarin Pane / 04 Feb 2015

12 comments:

Anonymous said...

Sejarah adalah seperti roda berputar dan akan terulang kembali. Embargo adalah sejarah yg tidak bisa dihapus. Selama kebijakan FMS dan SEKUTU masih berlaku di USA, kemungkinan embargo tetap masih ada. Selain itu apabila tetap dibeli, jangan bermimpi mempunyai F16 yg sama apalagi lebih hebat dari sekutunya AUSI dan Singapura. Belum lagi masalah persenjataan yg digendongnya, sampai detik inipun F16 32id kita masih ompong dan hanya bisa bikin geli tetangga. Maaf kalau pendapat ini ngawur.

errik irwan w said...

Analisanya masih sangat dangkal kalo saya bandingkan dengan analisa ini --> http://jakartagreater.com/kenapa-gripen-ng-adalah-pilihan-yang-paling-indonesia/
dan ini --> http://jakartagreater.com/mengapa-harus-gripen-atau-typhoon/

Juga analisa2 & diskusi di sini --> http://analisismiliter.com/.

Dari analisa2 tersebut saya berkesimpulan jet tempur Sukhoi kurang cocok untuk Indonesia.

Sekadar info, 4 jet Sukhoi pembelian zaman Megawati skrg digrounded. India juga kurang puas dgn Sukhoi & skrg mereka pilih Rafale (bukan SU-35).

Anonymous said...

Sukhoi memang cocok buat ngejagain NKRI

Muhammad Rosyid said...

Analisis yang bagus, kita tidak hanya mengganti F5 yang pensiun tapi tetap harus menyetarakan dengan jiran yang lain..

sutedjo said...

Klo indonesia tdk membeli shukoi sebaiknya beli layang2 aja sekalian.walaupun punya pesawat f16 block 52 ID gak ada s3njatanya.pertanyaan saya apa bedanya layang2 dengan jet rempur tanpa senjata klo menghadapi musuh?Tp musuh sangat takut dwngan keberaniaan pilot indinesia.kenapa?krn musuh yakin jet tempur tanpa senjata klo dlm peperangan akan ditabrakkan pd pesawat musuh.ia kan?

Anonymous said...

Pespur f16 kan banyak yg double seat.itu tujuannya jet tempur indonesia akan membawa bom yg di lempar oleh copilot.namanya bom molotov.kwkwkkwkwkwkwkwkwk

Anonymous said...

indonesia negara besar tapi soal economi dan meliter mirip kerbau ama petani brooo ...si petani asing paras local yali antec asing misi mission megebiri negara besar indonesia sedini mungkin lewat senjata buatan barat untuk segera di jual ke jakarta ...senjata class bekas tampa senjata mirip f16 sudah 4 tahun hanya gambar saja di kirim ke indonesia .
cilakanya orang jakarta sudah tahu di jebak asing pura 2 ga tahu takut harta hasil curian di simpan di singapore dan eropa takut di bongkar ke publik , ahir kata tni benteng republik selalu jadi korban akal akalan petinggi negara jet tempur bekas rawan embargo di puja setinggi lagit itulah indonesia sekarang .

ki ageng said...

Lagian kenapa indonedia masih bingung pilih jet tempur?pada latihan bersandu pit black di australia sudah sangat jelas shukoi sangat mengagumkan dan nengungguli negara pemakai jet buatan AS.sehingga mereka cepat2 mengakuisisi f35 stealth.sedangkan kita malah membeli f16 rongsokan yg ddh dibuang di gurun arizona.yg kemampuannya juaaàuhh dibawah aussie dan singapirno apakagi senjatanya rudall angin alias ompong.emang kemana mata kepala dan hati penentu kebijakan itu?yg anda belanjakan itu hasil peluh keringat rakyat.kalaupun ngutang yg bayar juga rakyat.knp rakyat hanya dibelikan senjata klas 2 dan ironisnya bekas dan rawan wmbargo.dimana hati nuarani dan akal sehatmu wahai manusia2 pemegang amanah....?

surayya said...

Sungguh miris nasib bangsa ini..dimana para petingginya hanya memikirkan kepentingan diri dan golongannya.sudah jslas negara kecil seperti singapura dan aussie membeli jet f35.kenapa insonesia mau bwli grippen.thypon bahkan f16 .semua itu jet genwrasi 4 bro.yg kita butuhkan diatas 4.5 bahkan yg stealth.jet yg bisa mengimbangi jiran kita.jet yg sepadan di kawasan.bukan pesawat latih.klo jet generasi 4 itu tdk ada bedanya dgn pesawat latih tim aerobik.klo utk pesawat tempur pasti kalah dengan shukoi 27 flanker.pasti kalah dengan f18 hornet apalagi debgan SU35BM dan F35 stealth.kalah juaaaaauuh..man.beli alutsista bukan utk pajangan di atau dipamerkan tetapi untuk menjaga keamanan negara sekaligus perang klo sdh dibutuhkan.utk iru dibutuhkan alutsista yg betul2 cangih,setara dgn lawan dan menimbulkan afek gentar.klo hanya grippen,F16 dan typon itu hanya menimbulkan efek tawa kawasan.kwkwkwkwkwwk.akakakakakak.kelkelkelkel.kasihan keluarga para pilot klo terjadi perang apabila pesawatnya generasi 4.

Putra Bangsa said...

www.pembuatan-ijazah.blogspot.com



www.solusiijazahanda.blogspot.com

tom-tom. said...

Klo ngikutin nafsu pastinya SU-35 jadi pilihan terdepan. Tapi kemampuan anggaran militer Indonesia yg terbatas bisa jadi boomerang untuk TNI AU mengingat biaya operasional Sukhoi jauh lebih besar dibanding pesaing2nya seperti F-16 atau Gripen.

tom-tom. said...

Klo ngikutin nafsu pastinya SU-35 jadi pilihan terdepan. Tapi kemampuan anggaran militer Indonesia yg terbatas bisa jadi boomerang untuk TNI AU mengingat biaya operasional Sukhoi jauh lebih besar dibanding pesaing2nya seperti F-16 atau Gripen.